Soeharto: Mahasiswa Mendukung Orde Baru

NIXON mengingatkan Soeharto. Netralitas tanpa kekuatan untuk mempertahankan netralitas, adalah sia-sia, tak berarti apapun.

“Agar bisa mempertahankan posisi sebagai negara non-blok, Anda harus cukup kuat,” kata Nixon, sang presiden Amerika Serikat.

Hari itu 26 Mei 1970. Hari masih pagi. Nixon menerima kunjungan Soeharto, presiden Indonesia, di Gedung Putih, Washington. Itu adalah kunjungan balasan sang pemimpin Orde Baru setelah setahun sebelumnya Nixon lebih dahulu menginjakkan kaki di Jakarta.

Henry A. Kissinger, penasihat keamanan nasional di pemerintahan Nixon juga hadir dalam pertemuan itu.

Inilah absurditas. Soeharto jelas datang bukan untuk mempertahankan netralitas Indonesia yang dibangun susah payah oleh pemerintahan Soekarno sebelumnya: netralitas yang begitu mahal harganya, netralitas yang didedikasikan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara yang baru memerdekakan diri dari penjajahan negara-negara Barat dengan maksud agar penjajahan dan penindasan tak lagi menghampiri mereka.

Hari itu, Soeharto datang ke Gedung Putih dengan berbagai basa-basi yang ujung-ujungnya adalah permohonan bantuan ekonomi dan militer: sesuatu yang telah diterimanya begitu rezim Soekarno tersungkur. Pilihan yang telah mengubah secara drastis jalan hidup Indonesia.

Salinan rekaman pembicaraan antara Nixon dan Soeharto ini adalah satu dari beberapa dokumen yang sebelumnya berkatagori rahasia yang dirilis National Security Archive sehari setelah kematian Soeharto. NSA adalah sebuah lembaga penelitian non-pemerintah yang berada di bawah the George Washington University (GWU).

Lembaga penelitian ini mengumpulkan informasi-informasi dan dokumen berkatagori rahasia melalui Freedom of Information Act. Lembaga ini pun berperan sebagai tempat pengumpulan (repository) berbagai dokumen pemerintah Amerika Serikat yang meliputi kebijakan keamanan nasional, hubungan luar negeri, intelijen dan eonomi.

Nixon memulai pembicaraan dengan mengucapkan selamat datang, dan mengatakan betapa dia merasa bahagia dapat bertemu kembali dengan Soeharto. “Saya merasa seperti kita adalah teman lama sejak kunjungan kami ke Jakarta tahun lalu. Banyak yang telah terjadi sejak masa itu. Saya ingin mendengarkan dari Anda bagaimana keadaan Indonesia saat ini.”

Setelah dipersilakan bicara, barulah Soeharto memulai “laporannya”. Proses rehabilitasi dan stabilisasi yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun Pertama dapat dicapai tepat waktu. Hasil evaluasi yang dilakukan oleh IMF, Bank Dunia, Bank Pembangunan Asia juga memperlihatkan bahwa semuanya bergerak maju.

“Semua hal kini sudah tampak teratur dan bagus, terutama sejak awal tahun fiskal bulan April. Tetapi, terlepas dari segala kemajuan itu, rakyat masih menginginkan kemajuan-kemajuan dalam hal lain. Kalau tidak, isu seperti kebangkitan Komunisme akan semakin besar,” ujar Soeharto memulai dagangannya.

Dipancing dengan isu komunisme, sesuatu yang bagi Amerika Serikat ketika itu harus diburu sampai ke ujung neraka sekalipun, Nixon bertanya lagi. “Bagaimana kekuatan kelompok komunis saat ini? Apakah mereka semakin membahayakan? Atau sudah berada di bawah kontrol?”

“Secara strategis, kekuatan mereka dapat dikatakan telah dibungkam. Kelompok inti (hard core), sekitar 10 persen dari sekitar tiga juta anggotanya di masa lalu, masih bebas. Puluhanribu lainnya telah diinterogasi dan ditahan,” jawab Soeharto.

“Bagaimana dengan mahasiswa di universitas? Apakah ada pengaruh kelompok komunis diantara mereka?” Nixon masih bertanya.

“Gerakan mahasiswa telah diarahkan pemerintah kepada (pembangunan) ekonomi dan sosial. Mereka adalah partisipan aktif dalam pemerintahan Orde Baru. Mereka telah menerima indoktrinasi mengenai ide dan gagasan Orde Baru,” Soeharto menjawab lagi.

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

5 thoughts on “Soeharto: Mahasiswa Mendukung Orde Baru”

  1. Dasar pemerintah yang tidak bertanggung jawab dan tau diri kau dasar. semoga banyak yanggggggggg memaafkan uuuuuuuuuuuu kalau bisa!

  2. apaan tuh perkataan yang terakhir

    “Gerakan mahasiswa telah diarahkan pemerintah kepada (pembangunan) ekonomi dan sosial. Mereka adalah partisipan aktif dalam pemerintahan Orde Baru. Mereka telah menerima indoktrinasi mengenai ide dan gagasan Orde Baru,”

    seingat saya jaman soeharto dulu kalau ada mahasiswa yang vokal sedikit saja langsung di tangkap.

  3. disisi lain kita generasi yg lahir sesudah peristiwa G 30 S harus mengetahui bahwa saat aksi demo menentang pemerintahan Sukarno banyak RPKAD (skrg KOPASUS) yg terlibat membaur dgn Mahasiswa tokoh sperti Akbar Tanjung, Cosmas Batubara harus diinterogasi mengenai kebenaran itu dan maksud apa semua ini krn bukan aksi Mahasiswa yg murni. Perlu ditelusuri untuk meluruskan sejarah, demi anak cucu menentukan langkah kedepan dalam membangun moral negeri ini. Jangan kita dibohongi terus menerus.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s