Pertemuan Hawaii Disambut Hujan Deras dan Demonstrasi

HUJAN deras menyambut pembukaan Major Economies Meeting on Energy Security and Climate Change hari ini (Rabu, 30/1) atau Kamis dinihari (31/1) waktu Indonesia. Sementara para delegasi bersidang di Hawaii Imin International Conference Center di Jefferson Hall, puluhan aktivis pecinta lingkungan menggelar demonstrasi di depan John F. Kennedy Theater, persis di seberang lokasi sidang.

Kelompok pecinta lingkungan ini mencurigai itikad pemerintah Amerika Serikat yang berinisiatif mengundang kelompok negara major economies, termasuk Indonesia, dalam pertemuan ini. Mereka khawatir pertemuan yang diprakarsai Presiden George W Bush ini justru untuk mementahkan Prtokol Kyoto dan Peta Jalan Bali yang dihasilkan dalam Climate Change Conference yang digelar PBB di Bali bulan Desember lalu.

Kecurigaan mereka ini beralasan, mengingat sampai sekarang Amerika Serikat belum juga meratifikasi Protokol Kyoto yang mewajibkan negara-negara industri mengurangi emisi gas rumah kaca secara kolektif sebesar 5,2 persen. Pengurangi ini dibutuhkan untuk memperkecil laju pemanasan global yang telah menciptakan berbagai persoalan lingkungan hidup saat ini. Sampai saat ini tinggal Amerika Serikat, dari kelompok negara maju, dan Kazakstan, dari kelompok negara berkembang, yang belum meratifikasi Protokol Kyoto walau telah menandatanganinya.

Dalam pertemuan di Bali pun Amerika Serikat mengambil sikap kepala batu. Sikap mereka sedikit melunak di akhir konferensi yang memutuskan sejumlah hal penting, antara lain, pembiayaan proyek adaptasi di negara-negara berkembang yang ditanggung melalui clean development mechanism (CDM) yang telah ditetapkan sebelumnya dalam Protokol Kyoto.

Satu hal yang belum diputuskan dalam pertemuan Bali adalah persoalan teknis mengaplikasikan persetujuan itu dalam bentuk kebijakan di masing-masing negara. Untuk membahas hal ini, PBB akan menggelar pertemuan khusus yang dijadwalkan berlangsung di Jerman tahun ini.

Kesepakatan lain yang diputuskan dalam pertemuan di Bali adalah program pengurangan emisi gas yang berasal dari perambahan hutan atau Reducing Emissions from Deforestation in Developing Countries (REDD). Peta Jalan Bali juga memutuskan penggandaan batas ukuran reboisasi yang diharap mampu menyedot 16 kiloton karbon dioksida per tahun.

Kordinator lapangan dalam demonstrasi itu mengenakan topeng George W Bush yang mengenakan mahkota. “Jangan percaya lagi pada pemerintahan bullshit,” teriaknya lewat corong pengeras suara. Demonstran juga membawa spanduk yang mengecam program bahan bakar sawit yang tengah dikembangkan negara-negara maju sebagai sumber energi alternatif.

Jim Brewer, aktivis Green Party yang juga ikut dalam demonstrasi itu mengatakan, menghentikan pemanasan global adalah tanggung jawab semua negara dan pemerintahan yang ada. Sangat ironis, bila negara-negara maju, terutama Amerika Serikat, yang menyumbang porsi terbesar dalam proses pemanasan global tutup mata dan tak mau mengurangi emisi gas mereka.

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s