Tentang Islam yang Jadi Beraneka Rupa

Kelompok Ahmadiyah, sebagaimana diributkan belakangan ini, adalah salah satu dari ratusan kelompok dan aliran yang ada dalam Islam. Nama Ahmadiyah sendiri dinisbatkan kepada pendiri mazhab ini, yakni Mirza Ghulam Ahmad, yang lahir di Qadiyyan, India, pada tahun 1281 H.

Salah satu ucapan Mirza yang terkenal, sebagaimana dikutip dari buku Ensiklopedia Kelompok, Aliran, Mazhab, Partai, dan Gerakan Islam (Januari: 2006) yang diluncurkan Wapres Jusuf Kalla pekan lalu, adalah, “Nabi terakhir yang tunduk kepada Nabi Saw tidak pernah menyatakan bahwa dirinya adalah nabi atau rasul dalam pengertian yang sebenarnya. Allah memanggilku dengan sebutan nabi hanya berdasarkan isti’arah (kiasan) saja. Kenabianku merupakan pancaran dari kenabian Muhammad Saw. Sebuah bayangan tidaklah memiliki wujud tersendiri atau wujud yang sebenarnya.”

Sepeninggal Mirza Ghulam, kelompok Ahmadiyah pecah menjadi dua. Pertama, kelompok yang berpendapat bahwa Mirza Ghulam benar-benar seorang nabi dan aliran Ahmadiyah adalah sebuah agama. Sedangkan kelompok kedua berpendapat, Mirza hanya seorang wali Allah saja. Ia semata seorang mujaddid (pembaru) pada awal abad ke-14. Ini sesuai dengan sabda Nabi Saw, “Sesungguhnya Allah akan mengutus kepada umat ini setiap seratus tahun orang yang akan melakukan pembaruan dalam agamanya.”

Catatan:

Tulisan ini dimuat pertama kali pada kolom At Tanwir, Rakyat Merdeka edisi 30 Februari 2006, dengan judul “Keragaman Aliran Membantu Mendewasakan Beragama”. Kolom At Tanwir adalah kerjasama Rakyat Merdeka dengan Center for Moderate Moslem (CMM) diperuntukan bagi upaya memperkenalkan Islam yang moderat, yang teduh dan jauh dari kesan angker.

Pemuatan kolom itu berlangsung antara Februari 2006 hingga Februari 2007.Naskah-naskah At Tanwir sengaja saya muat di blog ini agar gagasan tentang Islam yang tidak angker itu dapat terus diikuti oleh para peminat masalah-masalah keislaman. Di blog ini Anda dapat menyimaknya pada kolom ISLAM MODERAT.

Tulisan di atas dimuat bersamaan dengan tulisan lain yang berjudul Kekerasan Beragama tak Menyelesaikan Masalah.

Lepas dari kontroversi kebenaran masing-masing kelompok, sesungguhnya Ahmadiyah bukan satu-satunya kelompok yang dinilai ‘nyeleneh’. Ragamitas aliran dan mazhab dalam Islam dengan segala pemikiran dan gagasannya, mulai dari paling liberal, moderat, hingga paling radikal, sudah ada tak lama setelah Rasulullah meninggal.

Sebut saja di masa khalifah pertama pasca Nabi Saw, yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq. Di bawah kepemimpinannya ada sekelompok orang yang menolak membayar zakat, salah satu rukun Islam. Tak hanya itu, di masanya pula ada seseorang yang mendeklarasikan diri sebagai nabi. Dia tak lain adalah Musailamah yang terkenal dengan gelar ‘Al-Khazzab’ (pembohong). Sekelompok orang di bahwah kepemimpinan Musailamah menyatakan diri keluar dari Islam.

Aliran yang tak kalah serunya adalah apa yang disebut dengan ‘Auliyaiyyah.’ Mereka ini adalah sekelompok kaum sufi sesat yang mengimani seorang wali adalah ma’shum (terhindar dari dosa), suci, dan memiliki keagungan, baik saat masih hidup maupun sesudah meninggal. Menurut aliran ini, kedudukan wali jauh lebih mulia dari seorang nabi. Karena nabi mendapat wahyu melalui perantara malaikat, sementara wali mendapat wahyu langsung dari Allah.

Ada pula kelompok yang menyatakan, pemimpin mereka, yakni Abu Muslim (di masa Bani Umayyah), sebagai sosok mulia, lebih mulia dari malaikat, apalagi seorang nabi. Pengikut yang biasa disebut kelompok Barkukiyyah ini meyakini, Ruh Allah SWT telah menitis dalam diri Abu Muslim. Abu Muslim, lanjut kelompok ini, masih hidup dan akan muncul di kemudian hari sebagai dewa penolong.

Di bagian lain, ada pula kelompok yang tidak mempercayai syari’at Islam dan hukum-hukum Tuhan lainnya. Pengikut aliran ini disebut Ahlul Ahwa’, yang bersikeras menggunakan akal secara mutlak dalam memahami permasalahan agama. Kelompok ini juga membuat hukum sendiri berdasarkan rasio dan akal semata. Masih banyak lagi aliran dengan pemikiran yang aneh dan liberal hingga menghalalkan darah saudaranya sendiri, menghalalkan perzinahan, minuman keras, dan segala perbuatan sejenisnya. Semua itu mengaku sebagai kelompok dalam Islam.

Memang tidak semua kelompok memiliki pemikiran yang aneh, menyesatkan, dan liberal sebagaimana di atas. Banyak pula kelompok dan aliran yang memiliki pandangan sesuai Al-Quran dan Hadits, seperti Ikhwanul Muslimin, Ahlussunnah wal Jamaah, Jabariyah, Ahlul Hadits, Muhammadiyah dan NU di Indonesia, dan masih banyak lagi lainnya.

Menurut pemikir dan mantan Ketua PP Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif, keberadaan aliran, mazhab, dan kelompok, terlepas dari pemikirannya, menunjukkan bahwa Islam sangat kaya dengan khazanah keilmuan dan percaturan pemikiran.

“Seharusnya semua itu dipahami sebagai kekayaan intelektual yang dapat membantu mendewasakan kita dalam beragama. Dengan begitu, tindak kekerasan dan klaim sepihak kebenaran atas keyakinan atau alirannya, dapat terhindar,” ujar Syafii kepada tim At-Tanwir beberapa waktu lalu. Ia menambahkan, beragam kejadian keagamaan di masa lalu itu selaiknya menjadi bahan perenungan kita semua.

3 Replies to “Tentang Islam yang Jadi Beraneka Rupa”

  1. memang tidak bisa dipungkiri bahwa islam saat ini ada di ambang ketidakpastian. kenapa saya katakan tidak pasti? memang benar islam di Indonesia adalah agama terbesar. tapiapa kenyataannya? yang benar-benar tahu tentang islam dapat diprosentasikan hanya 10% saja. padahal ummat islam di Indonesia prosentasinya yaitu 95%. bukankah itu berarti islam ……..?

  2. Munculnya beerbagai macam aliran didalam Islam dimulai dari memikirkan diri sendiri, manusia, dan Tuhan ( Allah ) tidak memikirkan bumi, alam, dan kehidupan agar tidak rusak binasa semuanya. Padahal yang terakhir ini adalah justru diperintahkan oleh Tuhan, sedang mengenai diri sendiri dan manusia, Al Qur’an sudah jelas menerangkan bahwa kesemuanya itu hanyalah hamba Allah.

Leave a comment