Untung Sebenarnya Bernama Kusman

Letkol (Purn) Soehardi:Untung Sebenarnya Bernama Kusman
Oleh: Julius Pour (dikutip dari Sinar Harapan)

SALAH seorang sosok misterius dalam Peristiwa G-30-S (Gerakan 30 September) namanya Untung. Dengan mendadak, dia muncul ke atas pentas. Dia tampil sebagai tokoh utama sekaligus pusat peristiwa. Tetapi, hanya dua minggu nama Komandan Dewan Revolusi tersebut bertahan, sebelum akhirnya bisa diringkus di Tegal, ditahan, dan diajukan ke Mahmilub (Mahkamah Militer Luar Biasa) kemudian dijatuhi hukuman mati.

“Untung bernama asli Kusman, waktu kecil senangnya main bola, anggota KVC, Keparen Voetball Club di Kelurahan Jayengan, Solo.” Orang tua tersebut melukiskan semuanya dengan lancar. Dia bukan sekadar kenal melainkan, “…ayah angkatnya bernama Samsuri, bekerja sebagai buruh batik di rumah orang tua saya. Maka kalau Si Kus menyapa, dia selalu memanggil saya Gus Hardi.”Pensiunan letnan kolonel yang mengungkapkan kisah di atas namanya Soehardi. Tanggal 20 Mei lalu usianya genap 80 tahun. Oleh karena sudah di ambang senja, dia kini bersedia membuka tabir sekitar Letnan Kolonel (Inf) Untung Samsuri.
Untung Samsuri menjadi sosok kontroversial dalam sejarah Indonesia baru dengan jabatan resmi terakhir Komandan Batalyon I Kawal Kehormatan Resimen Tjakrabirawa, kesatuan khusus pengawal Presiden Soekarno.

Untung kemudian terkenal dalam kaitan Peristiwa 30 September. Pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965 tersebut, dia memimpin gerombolan G-30-S menculik sejumlah jenderal Angkatan Darat. Tujuh perwira tinggi akan ditangkap, dituduh sebagai anggota Dewan Jenderal yang bermaksud menggulingkan Bung Karno. Dari tujuh jenderal yang jadi sasaran, enam berhasil mereka tangkap. Sasaran utama, KSAB Jenderal AH Nasution, justru berhasil meloloskan diri.

Sesudah enam jenderal ditangkap, paginya akan dihadapkan kepada Bung Karno “…semuanya terserah kepada Bapak Presiden, apa tindakan yang akan dijatuhkan kepada mereka,” demikian jawaban Untung pada sidang Mahmilub yang nantinya menjatuhkan vonis hukuman mati dan eksekusinya dilaksanakan pertengahan tahun 1966.

Skenario di atas ternyata menjadi berantakan. Para jenderal yang baru saja diculik oleh anak buah Untung kemudian dibunuh di Lubang Buaya. Siapa yang memerintahkan? “Bukan saya, “ jawab Untung dalam sidang Mahmilub.

Nantinya diketahui, perintah justru diberikan oleh anggota Biro Khusus PKI. Dengan membawa akibat, skenario awal tadi akhirnya lepas kendali, menyambar ke segala arah dengan ekses berikut derita, yang meski telah empat dasawarsa berlalu, dukanya belum bisa terpulihkan.
Khususnya derita para keluarga korban aksi pembunuhan massal yang menghabiskan sekurangnya 500.000 nyawa pengikut komunis dan mereka yang sekadar dianggap sebagai komunis.

Sesama Tjakrabirawa

Soehardi anggota Tjakrabirawa, berasal dari CPM (Corps Polisi Militer) dengan jabatan saat Peristiwa G-30-S meletus, Kepala Provost Tjakrabirawa. Ketika tahun 1966, kesatuan tersebut dibubarkan dan tugas mengawal Presiden digantikan Yon POMAD/Para, Soehardi tidak ikut di-bersih-kan karena tidak terlibat. “Sesungguhnya, meski Untung menjabat Komandan Batalyon, hanya satu Kompi bersedia mengikuti petualangannya ke Lubang Buaya. Anggota Tjakrabirawa lainnya, tidak tahu apa-apa.”

Memasuki masa pensiun tahun 1982. Sebelumnya, Soehardi di-tugas-karya- kan di Inspektorat Jenderal Depdikbud, ketika Daoed Joesoef menjadi menteri. Panjang jalan harus ditempuh oleh anak juragan batik asal Solo tersebut dalam meniti karier militer, diawali dengan menjadi anggota PT (Polisi Tentara) di masa perang kemerdekaan.

Awal tahun 1965, di Istana Merdeka, Soehardi bertemu kembali dengan teman masa kecilnya. “Lho, Gus Hardi inggih wonten mriki? (Lho, Gus Hardi juga di sini),” begitu tanya Untung spontan.

Menurut Soehardi, “Saya langsung menjawab sambil menghormat, siap Mayor.” Dia segera menambahkan, “Saya harus menghormat, karena saya hanya Kapten, dia sudah Mayor. Meski saya sudah tugas di Istana Presiden sejak tahun 1954 dan Untung baru saja pindah dari Semarang, dalam kepangkatan kenyataannya dia lebih senior.”

Pengalaman semasa kecil, jarak sosial dan hal-hal lain menyebabkan Soehardi-Kusman tidak akrab sesudah sama-sama di Jakarta. “Sebagai pejabat baru di Tjakrabirawa dia tidak menonjol, tinggalnya di daerah Cikini, dekat dengan rumah DN Aidit, Ketua CC PKI. Kami tidak pernah melakukan kontak, sebab sejak kecil dia orangnya pendiam…”

Ayah kandung Untung namanya Abdullah, bekerja di toko peralatan batik milik warga keturunan Arab di Pasar Kliwon, Solo. Tetapi sudah sejak kecil Untung diambil anak oleh Samsuri, pamannya, yang bekerja sebagai buruh batik di rumah orang tua Soehardi.

Untung masuk sekolah dasar di Ketelan, kemudian melanjutkan ke sekolah dagang. “Pelajaran belum selesai, Jepang masuk dan dia menjadi Heiho…”

Meloloskan diri ke Madiun

Semasa perang kemerdekaan Untung berada di daerah Wonogiri, Solo, menjadi anggota Batalyon Sudigdo. Ketika tahun 1948 Peristiwa Madiun meletus, Gubernur Militer Kolonel Gatot Soebroto memperoleh informasi bahwa sebagian anak buah Mayor Sudigdo disusupi orang-orang komunis, “Pak Gatot memerintahkan Letnan Kolonel Slamet Riyadi, Komandan Brigade V Wehrkreise I, untuk memindahkan mereka…”
Soehardi melukiskan, “Pak Slamet berhasil menarik Batalyon Sudigdo ke Cepogo, lereng Gunung Merbabu, jauh dari Madiun. Kusman, waktu itu sersan mayor, bisa lolos ke Madiun bergabung dengan rekan-rekannya…”
Mengapa keterlibatan dalam Peristiwa Madiun tidak diselesaikan? Soehardi, penyidik semasa Peristiwa G-30-S, antara lain ikut menentukan lokasi Lubang Buaya hingga meringkus Sofyan, pemimpin gerilya komunis di Kalimantan Barat, terus terang mengatakan, “Tiba-tiba saja Belanda melancarkan agresi militer kedua. Akibatnya, Peristiwa Madiun tidak pernah tuntas ditangani, sebab semua orang lantas sibuk melawan Belanda sehingga segala kesalahan kemudian di-putih-kan…” Sesudah Peristiwa Madiun, Kusman berganti nama jadi Untung, kembali bergabung di TNI, bertugas di Divisi Diponegoro.

Tahun 1958, dalam operasi penumpasan PRRI, Letnan I Untung menjabat Dan Kie, bertugas di Bukit Gombak, Batusangkar, Sumatera Barat.

Tanggal 14 Agustus 1962, Mayor Untung selaku Dan Yon 454 Para/Banteng Raiders, diterjunkan di Sorong, Irian Barat. Tanggal 25 Agustus 1962, Panglima Mandala Mayor Jenderal Soeharto mengeluarkan perintah gencatan senjata. Dengan demikian, Untung sebenarnya belum pernah sekali pun bertempur melawan pasukan Belanda selama sebelas hari bertugas di daratan Irian.

Kapan Untung kenal Soeharto? “Karier militer mereka sama-sama dari Diponegoro. Sesudah kembali dari tugas menumpas pemberontakan Andi Azis di Makassar, Pak Harto menjabat Dan Rem Salatiga, lantas Dan Rem Solo, Panglima Diponegoro, masuk Seskoad di Bandung, sebelum akhirnya ditunjuk untuk menjadi Panglima Mandala.
Mereka sudah kenal lama. Keakrabannya tampak, ketika bulan Februari tahun 1965 Untung menikah di Kebumen, Pak Harto rela naik jip dari Jakarta hanya untuk bisa njagong…”.

Dari luar rumah suara adzan maghrib terdengar dengan jernih. Soehardi segera minta diri untuk menuaikan sholat. Kisah mengenai Untung, untuk sementara terpaksa berhenti sekian dulu.

Penulis adalah wartawan senior, sedang menyusun buku sejarah Indonesia baru.

One thought on “Untung Sebenarnya Bernama Kusman

  1. Salam Hormat, Salam Senyum Kanggo Sedulur Kabeh
    Assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Perkenalkan, Saya H.M.Jamil,SQ,MPd ingin meminta dukungan Saudara dalam pemilihan Caleg DPR RI PPP 2009 Dapil Kebumen, Banjarnegara & Purbalingga.
    Semoga bermanfaat bagi kita semua.
    Salam Hangat buat Keluarga Anda
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s