Hendropriyono: Garis Belakang AS Brengsek

omar-al-faruq-timeOmar Al Farouq, yang dipercaya Central Intelligent Agency (CIA) sebagai pemimpin operasi Al Qaeda di Asia Tenggara, ditangkap anggota Badan Intelijen Negara (BIN) di Bogor pada Juni 2002.

Saat itu, BIN yang bermarkas di kampung rusa Pejaten masih dipimpin AM Hendropriyono.

Nah, begitu mendengar Al Farouq kabur dari penjara superketat Bagram, Afghanistan, Hendro merasa kecewa berat.

“Garis belakang Amerika itu memang brengsek. Kebetulan saja Omar Al Farouq yang dulu kita cari setengah mati yang kabur. Saya kecewa berat,” katanya.

Namun begitu, Hendro tak membantah kalau banyak hal yang mungkin saja terjadi di balik aksi kabur Al Farouq itu. Misalnya, Al Farouq sengaja dilepas pihak Amerika, karena selama ini dia memang orang yang disusupkan negara adidaya itu dengan berbagai cara untuk memojokkan Islam dan menghancurkan stabilitas Indonesia.

“Memang banyak kemungkinan. Tapi saya pikir-pikir, kalau dia diloloskan karena merupakan bagian dari operasi intelijen, Amerika harus koordinasi. Kalau tidak, maka dimana pun kita ketemu Al Farouq akan kita bunuh. Kita sudah tahu network-nya,” ujarnya.

“Kalau dia memang bagian dari operasi rahasia Amerika, mestinya Bush telepon SBY dong. Kasih tahu kalau mereka mau bikin operasi pakai Al Farouq,” sambungnya menambahkan.

Menurut dia, BIN mengincar Al Farouq yang berdarah Kuwait itu karena dia terlibat dalam kerusuhan di Poso, Sulawesi Tengah, pada 2000. BIN, masih kata Hendro, memiliki banyak bukti yang memperlihatkan aktifitas Al Farouq di Poso. Mulai dari membagikan senjata hingga memimpin pertempuran.

“Jadi dia (Al Farouq, red) kita tangkap bukan karena perintah Amerika. Tetapi karena dia mengacau di wilayah hukum Indonesia. Setelah Al Farouq tertangkap, kita tidak tahu jaringannya kemana. Lalu pihak Amerika menghubungi. Mereka bilang, petinggi Al Qaeda, Abu Zubaedah, mengatakan Al Farouq adalah anggotanya. Maka Al Farouq pun kita deportasi,” cerita si Raja Intel.

Menurut Hendro, ada tiga kelompok Islam garis keras yang kerap melakukan aksi teror, yakni Jihad Islam di Palestina, jihad global yang dikenal dengan Al Qaeda, dan Jamaah Islamiyah yang bergerak di kawasan Asia Tenggara. Walau memiliki “cita-cita” yang sama, namun ketiganya tidak memiliki rantai komando.

“Tapi ketiganya saling menginspirasi,” ujar bekas Pangdam Jaya tahun 1993 itu.

Leave a comment