Novel Najib Disanjung Ahmadinejad

Hati Muhammad Najib sedang berbunga-bunga. Pemerintah Iran berencana menerbitkan novel “Korban Konspirasi” karya Ketua DPP Partai Amanat Nasional itu ke dalam bahasa Parsi.

Novel “Korban Konspirasi” ini adalah sequel dari novel “Conspiracy” yang ditulis Najib tahun lalu.

Dalam dua novel ini Najib bercerita tentang seorang pemuda Islam yang di era 1980-an sempat menginjakkan kakinya di perbatasan Pakistan dan Afghanistan. Di sebuah kamp militer yang diasuh oleh instruktur berkulit putih, sang pemuda dan kawan-kawannya yang tergabung dalam barisan Mujahiddin itu dilatih untuk menyerang pasukan Rusia yang tengah menduduki Afghanistan. Setelah beberapa tahun menetap di Pakistan pemuda itu memilih kembali ke Indonesia, berkeluarga dan memulai hidup yang normal-normal saja. Namun belakangan ketentraman hidupnya terusik. Dia dan eks Mujahiddin lain yang kembali ke tanah air satu persatu dijebak.

Oleh sang superpower pemuda-pemuda Islam ini dijadikan “bukti” bahwa kelompok Islam radikal yang menggunakan jalan kekerasan—seperti Jamaah Islamiah—adalah eksis.

Bulan Mei lalu Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad berkunjung ke Jakarta. Najib yang kala itu duduk di kursi Sekretaris Fraksi PAN bersama pimpinan fraksi lainnya bertemu Ahmadinejad di gedung DPR.

Dalam pertemuan tersebut, bekas ketua Departemen Hubungan Luar Negeri PP Muhammadiyah itu menyampaikan dukungannya terhadap Iran yang gara-gara mengembangkan teknologi nuklir dipojokkan negara-negara Barat. Selain menyampaikan dukungan, Najib juga menyerahkan satu eksemplar “Korban Konspirasi”.

Tiga minggu setelah pertemuan, Najib menerima sepucuk surat dari Ahmadinejad. Dalam suratnya Ahmadinejad berkata bahwa dia telah membaca novel karya Najib. Ahmadinejad mengatakan novel itu mencerminkan kecerdasan penulisnya dalam menggambarkan ketidakadilan di arena internasional. Ahmadinejad juga menilai Najib berhasil memperlihatkan sikap warganegara Indonesia yang santun dalam menyampaikan kritik.

“Saya berterima kasih pada kepercayaan yang diberikan pemerintah Iran. Saya berharap penerjemahan novel itu ke bahasa Parsi dapat semakin mengeratkan hubungan Indonesia dan Iran. Kedua negara sudah sepatutnya bahu membahu menghadapi ketidakadilan secara global yang menyudutkan umat Islam,” demikian kata Najib.

Leave a comment