Arab Mau Hidup Berdampingan dengan Israel

Konflik berkepanjangan antara negara-negara Arab dan Israel, khususnya yang kini sedang berlangsung adalah antara Israel dan Libanon, terus menyedot keprihatinan dunia internasional. Peperangan, bagaimanapun yang menjadi korban adalah rakyat tak berdosa, warga sipil, yang sesungguhnya tak tahu menahu apa yang sedang dipertikaikan antara Libanon (Hizbullah) dan Israel. Belum kerugian materi dan jiwa yang tak kecil.

Semua itu semakin membuat miris dan prihatin banyak pihak, lantaran nilai-nilai luhur kemanusiaan pada intinya yang menjadi korban keganasan peperangan. Reaksi berlebihan yang mengkaitkan konflik tersebut adalah konflik agama pun hanya menambah deret permasalahan. Islam sendiri memiliki tata aturan dalam berperang, seperti tidak boleh membunuh anak-anak, orang tua, dan tumbuh-tumbuhan, serta harta benda yang dilindungi. Aturan itu sejalan dengan konvensi internasional tentang peperangan. Namun, Israel-Yahudi yang berlebihan telah melanggar hak-hak tersebut. Di luar itu, saling membenci dan dendam kedua pihak juga akan memperpanjang konflik.

Bagaimana jalan penyelesaian yang ideal? Benarkah konflik itu turunan dari masa jahiliyah? Apakah dibenarkan umat Islam membenci umat Yahudi atau umat lainnya? Menemukan jawabannya, tim At-Tanwir mewawancarai intelektual dan tokoh NU yang juga pakar sejarah Islam, KH Dr Said Aqil Siraj. Petikannya:

Bagaimana Anda melihat konflik Arab (Libanon)-Israel?

Sangat memprihatinkan. Konflik itu telah menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan. Siapapun pelakunya, hemat saya, sama-sama kalah, tak ada yang menang. Hanya meninggalkan kesengsaraan semata.

Tapi, apakah dibenarkan umat Islam membenci umat Yahudi atau lainnya?

Dalam Surat Ali-Imran (saya lupa ayat berapa), itu ditegaskan begini: Kamu (Muhammad) akan menjumpai orang-orang yang sangat membenci orang Islam, yaitu orang Yahudi dan Musyrikin. Dan kamu juga akan menjumpai orang-orang yang paling dekat dengan orang Islam, yaitu umat Nasrani. Hemat saya, pada dasarnya manusia jelas tak diperbolehkan saling membenci karena hal itu hanya akan memicu konflik dan perpecahan.

Bagaimana kalau umat Islam disakiti?

Itu lain soal. Islam itu kan mengajarkan kelembutan, toleran. Tapi kalau disakiti ya balas sakiti. Pada dasarnya umat Islam itu defensif, artinya kalau tidak disakiti ya tidak akan menyakiti. Mereka tidak diperbolehkan mendahului menyakiti. Kita bisa baca sejarah Nabi Muhammad ketika masuk Mekah berdakwah selama 13 tahun, dengan tabah meski disakiti. Beliau lalu pindah ke kota Yatsrib, dan mengganti nama kota itu dengan nama Madinah, yang berarti ‘beradab’. Madinah dihuni mayoritas suku ‘Aus dan Khazraj, juga ada Nasrani dan Yahudi.

Yang dikembangkan Nabi adalah nilai-nilai kemanusiaan universal, kebenaran, juga ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah (kebangsaan). Bahkan ketika ada jenazah orang Yahudi lewat, Nabi berdiri, tapi seorang sahabat protes dan berkata, “Mengapa engkau berdiri ya Rasul.” Nabi menjawab, “Bukankah dia juga manusia.” Dalam pidato haji wada’ (perpisahan), Nabi juga mengatakan di depan yang hadir dengan kata-kata, “Ya Ayyuhan Naas” (Wahai manusia sekalian), bukan “Ya Ayyuhal Muslimun” (wahai kaum Muslimin sekalian). Jadi nilai-nilai kemanusiaan yang dikembangkan, makanya Nabi diterima semua pihak. Intinya, siapapun dan apapun namanya, hukum dan kebenaran harus ditegakkan, tak pandang bulu.

Kalau dalam konflik Arab-Israel sekarang, apakah itu konflik agama?

Pada dasarnya itu konflik agama, kalau dirunut jauh ke belakang. Politik hanya instrumen saja. Palestina itu kan tempat suci tiga agama, khususnya kota Yerusalem. Di situ menjadi tempat bersejarah para nabi Islam, Yahudi, dan Nasrani. Maka idealnya, Yerusalem menjadi kota bersama tiga umat beragama, tapi memang itu sulit. Penempatan Israel di tanah Palestina sebagai konsekuensi dari perjanjian Balfour (1918), atau jelasnya, pemberian Inggris, juga menjadi bom waktu.

Lantas, bagaimana idealnya jalan penyelesaian?

Ya harus mematuhi hukum dan semua resolusi PBB. Tapi kan sulit, terutama Israel dengan dukungan kuat Amerika, yang selalu mengkhianati perjanjian perdamaian. Padahal secara umum negara-negara Arab itu mau menerima hidup berdampingan dengan Israel. Hukum yang hilang di sini.

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

2 thoughts on “Arab Mau Hidup Berdampingan dengan Israel”

  1. sbentar lagi imam mahdi akan muncul, bersama kaum muslimin dari sluruh plosok dunia akan memerangi yahudi sampai yahudi akan binasa, bahkan batu dan pohon akan membantu kaum muslimin dengan berkata “kemarilah wahai muslim dibelakangku ada yahudi bersembunyi bunuhlah mereka” (alhadits)

  2. Kalau Arab mau hidup berdanpingan Israel, terutama Arab minum air kencing UNTA untuk mencuci otaknya agar jangan menjadi manusia munafik.
    dan terutama Al Quran yang ada perintah membunuh Yahudi Quran harus dibakar dan ganti dengan Al Quran yang baru untuk saling mencintai sesama umat.

Leave a Reply to Mr.Nunusaku Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s