Memahami Konflik Arab-Israel

Dalam dua pekan terakhir diskursus dunia internasional kembalidiramaikan oleh aksi penyerangan pasukan Israel ke Palestina dan Lebanon. Agresi itu dipicu oleh penyanderaan dua tentara Israel oleh pasukan Hamas (Palestina) dan Hizbullah (Libanon). Kemudian pasukan Israel menuntut pembebasan dua sandera dengan membombardir pusat-pusat kota Palestina dan Lebanon.

Solidaritas pun merebak di berbagai negara di belahan dunia terhadap nasib para warga sipil Palestina dan Lebanon yang menjadi korban. Indonesia pun dengan tegas mengutuk agresi Israel. Bahkan beberapa pemuda Muslim di Tanah Air telah mencanangkan tekad untuk melakukan jihad di sana.

Menurut Dosen Fakultas Ushuludin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta , Dr Zainun Kamal, konflik antara Israel-Palestina dan Lebanon bisa didasari oleh motif teologis atau politis. Dari motif teologis, kata dia, sudah jelas bahwa kota Yerusalem dalam keyakinan Yahudi adalah tanah nenek moyang mereka. “Karena dalam Kitab Perjanjian Lama, Tuhan mewasiatkan Ibrahim, bahwa sesungguhnya Yerusalem adalah tanah yang diwariskan untuk anak cucunya, yaitu Ishak dan Yakub yang bergelar Israil. Keturunannya kemudian disebut Bani Israil,” jelasnya.

Kalau tanah yang dijanjikan, kata Zainun, artinya secara teologis mereka berkewajiban kembali. Sementara ketika mereka kembali, lanjut dia, di sana sudah ada orang Palestina. Palestina tidak mau pergi dari sana, karena masing-masing mengklaim tanah hak mereka. “Karena sulit damai, tidak ada jalan bagi mereka, ya perang,” cetusnya.

Lebih jauh Zainun mengatakan, untuk motif politisnya, Israel menginginkan kembali ke Yerusalem. Mereka meminta bantuan Inggris dan Amerika Serikat. Sementara, Palestina tidak kunjung mau memberikan, yang terjadi adalah perang. “Tentu saja Israel memperkuat diri karena diserang negara-negara tetangga. Dan dia menganggap semua musuh. Sebab, tidak ada perdamaian tanpa tanah. Israel mengaku bahwa Yerusalem tanah nenek moyang mereka, sebagai keyakinan ortodoknya, keyakinan soal teologis,” tegasnya.

Zainun mensinyalir agresi yang terjadi bukanlah perang agama, melainkan perang Tanah Air. Toh, kata dia, di Palestina juga yang tinggal bukan semuanya orang Islam, apalagi di Lebanon yang beragama Kristen lebih banyak. Hanya saja, ingat dia, persoalannya ada kelompok-kelompok Islam yang perjuangannya mengatasnamakan Islam, termasuk di Palestina (Hamas) dan Lebanon (Hizbullah). “Lagi-lagi, persoalannya saya kira bukan agama, melainkan perjuangan mereka selalu disimbolkan dengan agama,” jelasnya.

Itho Murtadha, Ketua Umum Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI-MPO) Indonesia Bagian Utara, menambahkan, secara historis, akar ketegangan (konflik) antara Israel-Palestina sesungguhnya lebih kental dipompa oleh perkara-perkara yang bersifat politis dari pada sentimen teologis.

“Walaupun juga tak dapat dipungkiri bahwa tetap saja ada unsur-unsur sentimen teologis yang turut memantik api konflik yang terjadi,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan, kabar yang menyebutkan keinginan sejumlah pemuda untuk melakukan jihad ke Palestina dan Lebanon merupakan suatu ekspresi simbolik, bukan suatu tindakan yang mengarah pada bunuh diri. “Itu hanya ekspresi simbolik, belum tentu bunuh diri. Niat orang kan berbeda-beda dan kita tidak bisa menghalanginya. Tapi saya kira tidak ada yang betul-betul ke sana karena biaya untuk ke sana itu mahal,” katanya.

Walaupun begitu, kata Din, ekspresi simbolik juga penting. Namun, lanjutnya, hendaknya disadari bahwa medan di Lebanon itu tidak ringan, melibatkan banyak senjata modern dan pesawat tempur, bukan suatu pertempuran yang hanya membutuhkan semangat semata. “Di sana tidak cukup dengan bambu runcing dan tangan kosong saja,” ingatnya.

Oleh karena itu, Din mengimbau para pemuda Islam di Indonesia tidak semata-mata terbakar emosi untuk berjihad ke Palestina dan Lebanon tanpa berpikir panjang. “Tanpa mengurangi semangat anak-anak muda yang bersemangat berjihad, menurut saya jihad dapat dilakukan melalui banyak hal, tidak harus mengangkat senjata,” jelasnya.

CategoriesUncategorized

4 Replies to “Memahami Konflik Arab-Israel”

  1. Banyak ikut campur ya makin rumit,aku senang kalo israel menembaki kapal bantuan,karna bantuan nya bukan mengatasi masalah tapi malah memperlebar masalah,

  2. “Karena sulit damai, tidak ada jalan bagi mereka, ya perang,” lucu sekali kaya ceritanya anak SD saja

    Ini jelas pemutar balikan fakta!!!

    1. Sejarah tidak menyebutkan seperti itu, Kenapa disini tidak disebutkan kata ZIONIS!
    2. Konflik ini murni bukan masalah tanah nenek moyang, nenek moyang yang mana? Bani Israil mereka terusir pada zaman byzantium oleh siapa kalau bukan katolik-pagan penyembah setan.
    3. Agresi dipicu oleh penyanderaan? tanpa ada penyanderaanpun Zionis Yahudi Israel ini sudah jadi agresor.
    4. Damai!!! Siapa yang tidak mau damai??? berapa kali perjanjian perdamaian telah disepakati? dan pihak mana yang mendustainya???
    5. Kalau disebut masalah teologi, kurang tepat juga karena yang terlibat ZIONIS, kalau disebut politik benar, yaitu politik Dajjal (fitnah).

    Masalah ini bisa selesai kalau faham ZIONIS ini sudah tidak ada. Masalah teologi, teologi yang seperti apa? Kedamaian di kota Jerusalem terwujud tatkala yang memerintah adalah pemerintahan Islam yaitu pada masanya Salahudin Ayubi.

    Kemunculan zionis sebenarnnya dimulai tahun 1920, kemudian PBB (AS atas usulan Inggris) ikut mendirikan negara Israel th 1948, konflik sudah sejak tahun 1947 karena bangsa Israel menginginkan jatah lebih dibarengi dengan kekejaman, padahal pembagian jatah dari PBB saja sudah berat sebelah, yaitu lebih condong ke Israel (3/4 bagian).

    Perlu diketahui ZIONIS ini adalah memerangi siapa saja (Islam, Kristen dan termasuk bangsanya sendiri).

    ZIONIS ini lahir dari salah-penafsiran dari kitab perjanjian-lama, “tanah terjanji” dan “orang-orang pilihan” yang kemudian mereka jadikan kedok untuk membodohi umat manusia yang terbelakang yang dilegiminasi oleh PBB.

    JIHAD itu wajib hukumnya, karena pemerintah Indonesia takut oleh PBB (AS) maka mereka melarang warganya yang ingin JIHAD. Para Intelektual Islam (Indonesia, Arab Saudi, Mesir dan Yordania) sudah terjangkit penyakit SEKULER. Tidak ada alasan medannya susah biayanya mahalah, mereka menistakan ayat-ayat Allah SWT.

Leave a reply to layhandro Cancel reply