Keharusan Merekonstruksi Makna Jihad

Tak kurang dari 72 orang asal Indonesia akan berkumpul dengan 57 orang dari Filipina, 36 orang Malaysia, 43 orang Thailand, 5 orang Brunei, 3 orang Bangladesh, dan seorang Singapura untuk bersama-sama bergabung dalam Pasukan Bom Jihad (PBJ) Palestina. Agresi militer yang dilakukan Israel terhadap Palestina dan Lebanon sejak akhir Juni lalu membuat para pemuda itu bertekad menghentikan kebrutalan Israel.

Suaib Didu, Presidium ASEAN Muslim Youth Secretary (AMSEC) yang dipercaya oleh mereka untuk menyampaikan tujuan dan langkah mereka bergabung dalam PBJ Palestina, mengatakan bahwa tujuan mereka adalah mencegah serangan berkelanjutan yang dilakukan Israel. “Kami juga bertujuan untuk melindungi umat yang teraniaya,” tegas PBJ Palestina yang dikutip Suaib. Mereka juga berjanji akan melumpuhkan peralatan vital yang dimiliki Israel.

PBJ Palestina ini juga tak semuanya memeluk agama Islam. Paling tidak, ada tiga orang yang beragama selain Islam, yang memiliki keterkaitan dengan Jerusalem. “Tiga orang non Muslim itu juga tergerak karena alasan untuk menegakkan kemanusiaan,” ujar Suaib. Mereka berasal dari Sumatera, Kalimantan, Jawa, maupun Sulawesi. Suaib menyatakan, dalam waktu dekat ini mereka segera berangkat untuk menjalankan misinya. Mereka akan menuju Palestina, Lebanon, bahkan Israel untuk menghentikan kebrutalan Israel.

Para relawan Front Pembela Islam (FPI) juga siap diterjunkan ke Palestina dan Lebanon untuk menjadi relawan dan mujahidin, membantu masyarakat Muslim di negara itu melawan agresi militer Israel.  “Kami sudah siap untuk dikirim ke Palestina dan Lebanon untuk menjadi relawan dan mujahid melawan Israel,” kata Ketua FPI Aceh, Yusuf Al Qadrawi.

Sementara itu, Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Ustadz Abu Bakar Ba’asyir mendesak pemerintah agar membuka pintu bagi relawan untuk berangkat berjihad ke Lebanon menghadapi Israel. “Pernyataan pemerintah tentang keprihatinan atas umat Islam yang dizalimi Israel, itu sudah bagus. Namun harus membuka pintu jihad. Jika pemerintah membuka pintu (untuk pengiriman relawan), saya yakin banyak ormas Islam di Indonesia akan mengirimkan mujahid ke sana,” ujar Ba’asyir dalam acara peresmian Masjid Al Ikhlash dan Tabligh Akbar di Pondok Pesantren (Ponpes) Al Ikhlash, Sedayulawas, Paciran, Lamongan, 21 Juli lalu.

Mantan Ketua PBNU KH Solahuddin Wahid atau yang akrab disapa Gus Sholah menyarankan pendaftaran sukarelawan jihad ke Palestina dan Lebanon tidak usah dilarang. Kalau dilarang justru akan menimbulkan reaksi lebih besar lagi. “Saya tidak bermaksud mengecilkan semangat mereka berjihad. Tetapi menurut perkiraan saya, biayanya tidak sedikit. Siapa yang akan menanggung? Tapi biarkan saja pendaftaran itu berlangsung. Jangan dilarang.”

Soal jihad, ujar Gus Solah, memang orang-orang Islam kalau sudah terpanggil untuk jihad semangat juang mereka sangat besar dan tidak takut mati. Tetapi seharusnya diingat, jihad itu bukan hanya dengan fisik atau badan kita dan bisa juga jihad dengan harta. Dapat saja, misalnya para pemuda menghimpun dana untuk disumbangkan. “Atau menjadi sukarelawan untuk membantu korban bencana di negeri sendiri dulu atau memberantas korupsi yang sudah mengakar di sini,” jelasnya.

Dosen Fakultas. Syari’ah IAIN-SU dan Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Ishlahiyah Binjai , HM Jamil, menyatakan, kata jihad mesti dipahami secara konprehensif dan dalam. Tidak boleh ada upaya-upaya untuk mereduksi (mengurangi) atau menjadikan makna yang satu kurang signifikan dibandingkan dengan makna yang lain, apalagi menjadikan makna yang lebih penting menjadi makna yang kurang penting. “Itu bisa berdampak tidak baik bagi pola perjuangan umat Islam ke depan,” ujarnya. Ia menambahkan, kata jihad dengan berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 41 kali di dalam Al-Quran.

Sementara itu, Prof. Dr. Quraish Shihab mengatakan bahwa pada umumnya ayat-ayat yang berbicara tentang jihad tidak menyebutkan objek yang mesti dihadapi. Yang secara tegas dinyatakan objeknya hanyalah berjihad menghadapi orang kafir dan munafik: “Wahai Nabi, berjihadlah menghadapi orang-orang kafir dan orang-orang munafik, dan bersikap keraslah terhadap mereka” (At-Taubah: 73 dan at-Tahrim; 9). Tetapi menurut Quraish, ini bukan berarti bahwa hanya dua objek itu saja yang harus dihadapi dengan jihad. Kata dia, paling tidak jihad harus dilaksanakan menghadapi orang-orang kafir, munafik, setan, dan hawa nafsu.

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s