Di tengah kehidupan modern yang lebih mementingkan materi daripada rohani seperti sekarang ini, banyak keluarga yang berantakan. Suami-istri sibuk bekerja atau bahkan bercerai. Belum lagi pengaruh lingkungan yang membuat anak-anak menjadi korban. Padahal agama mengajarkan, negara menjadi kuat jika didukung oleh keluarga-keluarga kuat yang hidup harmonis dan penuh kasih sayang.
Psikolog dari Universitas Indonesia dan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Zakiah Darajat, menyatakan agama sebagai pengendali rumah tangga. ”Pendirian orang tidak selalu sama. Tapi agama mengajarkan untuk berpikir jernih dan sabar menghadapi ujian,” tuturnya.
Zakiah mengingatkan, narkoba, seks bebas, dan serbuan budaya Barat yang negatif, bisa meruntuhkan pilar rumah tangga. Menghadapi serbuan global ini, katanya, tak ada jalan keluar lain kecuali kembali kepada nilai
spritual. ”Agama adalah kunci terbaik untuk keutuhan rumah tangga. Agama bukan hanya memberi amanat membentuk keluarga sakinah, tapi juga mengisyaratkan jalan keluar saat menghadapi persoalan,” jaminnya.
Nilai-nilai agama, dalam pandangan alumnus Universitas ‘Ain Syams Cairo ini, bila dihayati secara benar akan dapat mencegah dari tindak kekerasan. Keberagamaan yang fungsional, jelas Zakiah, dibutuhkan agar nilai-nilai positif agama tak melulu menjadi pranata normatif, tapi juga benar-benar menjadi pagar dalam diri setiap pemeluknya untuk berbuat baik, dan menjauhkan dari sikap-sikap anarkhis. “Itu sebabnya, pengajaran atau pendidikan agama kita harus dapat menumbuhkan sikap kreatif, inovatif, dan selalu memberi ruang bagi tersedianya dialog yang kondusif dan komunikatif sebagai salah satu jalan pemecahan satu masalah,” paparnya.
Rektor UIN Syarif Hidayatullah, Prof Dr Azyumardi Azra menambahkan, sebenarnya soal pendidikan agama bukan hanya tanggung jawab lembaga-lembaga pendidikan Islam, tapi lebih utama adalah tanggung jawab keluarga. Ini sangat penting.
”Oleh karena itu, saya kira tak mungkin kita mengharapkan pendidikan agama hanya diselenggarakan di sekolah. Sebab seberapa pun diberikan sekolah, hal itu tetap tak memadai. Karena itu, pendidikan agama pertama kali harus dimulai dari rumah dan masyarakat atau komunitas masing-masing. Sekolah hanya menambahi, kecuali bagi mereka yang murni belajar agama,” ujarnya.
Menurut Azyumardi, sebagian besar waktu anak-anak dihabiskan dalam
keluarga. Segala perilaku dan cara berfikir dalam keluarga, baik secara eksplisit maupun implisit, merupakan pendidikan agama. ”Memberi teladan atau uswah hasanah termasuk pendidikan agama,” jelasnya.
Lebih jauh Azyumardi menyatakan, masyarakat selama ini sering salah kaprah, bila anak sudah di sekolahkan di sekolah agama, seolah tugas pendidikan agama sudah selesai. ”Akibatnya, selalu saja muncul tuntutan di masyarakat agar jam pendidikan agama ditambahkan. Hemat saya, kalaupun pendidikan agama ditambahkan sementara keluarga tidak menjalankan fungsinya, tetap akan percuma,” tegasnya.
Azyumardi menambahkan, bagi keluarga Muslim, nampaknya harus mulai ditanamkan pemahaman bahwa jika anak sudah masuk baligh, artinya dia sudah taklif, atau bertanggung jawab atas kewajiban-kewajiban agama serta menanggung sendiri dosa-dosanya apabila melanggar kewajiban-kewajiban.
Dengan pemahaman yang kuat terhadap nilai-nilai moral dan agama, kata dia, maka lingkungan yang buruk tidak akan membuatnya menjadi buruk.
”Bahkan boleh jadi, si remaja sanggup proaktif mempengaruhi lingkungannya dengan frame religius,” jelasnya.
Artis yang kini banyak memberi pelatihan parenting, Neno Warisman, menambahkan, persoalan yang sering menimpa anak-anak yang terjerumus adalah kurangnya komunikasi orangtua dan anak. ”Orang tua terkadang tidak paham, tidak menghayati, dan kurang bertanggungjawab atas kesiapan cara menyampaikan kaidah moral kepada anak,” ujarnya.
Aturan agama, kata Neno, biasanya diberikan secara borongan ketika anak melakukan perbuatan yang dilarang, sehingga si anak kaget. ”Tapi kalau orang tua cara omong sama dari tahun ke tahun ya akan buntu. Jadi orang tua memang seperti pemahat, seninam yang ilmuwan, dan religius saat mendidik anak,” tegasnya.

bagaimana caranya memberi nasehat kepada istri,saya sering ribut gara-gara anak-anak dirumah yang mana
ketika saya pulang kerja atau di rumah cekcok karna anak nangislah mau makanlah kadang istri sy ga mau mengerti peranan seorang ibu.