Moderate Islam

Tata Ulang Hubungan Islam dan Barat

Dalam hitungan pekan di bulan Maret lalu, Indonesia yang berpenduduk mayoritas Muslim, berturut-turut kedatangan dua tamu penting petinggi negara Barat. Tamu pertama adalah Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Condoleezza Rice. Adapun tamu kedua Perdana Menteri (PM) Inggris Tony Blair. Keduanya tentu membawa agenda masing-masing.

Dalam pertemuan dengan para santri Ponpes Darunnajah, Jakarta Selatan, Blair mengaku belajar mengenai agama-agama lain. Kata Blair, agama mengajarkan cinta dan perdamaian. ‘’Kita harus menghormati negara lain dan memahami, Untuk itu pemahaman itu perlu. Oleh karena itu, saya berada di sini untuk berdialog,” jelasnya.

Sementara Rice mengaku kagum melihat anak-anak kecil yang sedang belajar di madrasah Al Makmuriyah, Cikini. Ia tidak menyangka madrasah juga mengajarkan pelajaran-pelajaran umum. ”Kami berkunjung ke sekolah Islam, mereka baik dan mungil. Mereka belajar matematika dan sains lainnya,” katanya.

Rice menilai selama ini telah terjadi salah komunikasi, sehingga terbentuk persepsi mengenai Islam yang negatif. Ia mengakui banyak publik AS yang salah kaprah terhadap Islam. “Orang AS harus datang ke sini melihat madrasah,” ujarnya.
Perlu Reposisi

Dialog antara Islam dan Barat selama ini memang menjadi wacana yang terus digulirkan menyusul terjadinya benturan antara Islam dan Barat yang telah terjadi selama bertahun-tahun. Namun demikian, sejumlah tokoh Islam di antaranya Azyumardi Azra, Quraish Shihab, Nazaruddin Syamsuddin, dan Aa Gym, yang berdialog dengan Blair merasa kurang puas. Kritik yang dilontarkan tokoh Islam kepada Blair atas invasi Inggris ke Irak tidak ditanggapi.

Ustadz kondang Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) menyatakan tidak mau memberi ‘ceramah’ pada Blair tentang Islam. Dia hanya ingin agar Inggris mengevaluasi kebijakan yang mereka terapkan di negara Muslim terkait isu terorisme. “Kalau dari awal niatnya kurang pas, sehebat apapun dinasihati mungkin kurang berubah,” kata Aa Gym.

Aa Gym berharap agar muncul keberanian dari pemerintah Inggris untuk melihat kondisi yang ada dengan jujur dan jernih. Sehingga situasi di Irak dan Afghanistan yang kini diduduki tentara koalisi bisa kembali pulih. Aa Gym juga berharap bisa meningkatkan pemahaman dunia Barat terhadap Islam.

Entah kebetulan atau tidak, seusai kedatangan dua tokoh Barat tersebut, di akhir Maret lalu, digelar seminar Islam dan Barat: Membangun Peradaban Dialog di Universitas Indonesia, Depok. Guru Besar Universitas Padjajaran Prof Dr Jalaluddin Rachmat yang menjadi pembicara dalam seminar itu menyatakan, “Baik Islam maupun Barat tidak tunggal. Masing-masing punya kelompok yang bisa berdialog dan juga punya kelompok yang fundamentalis,” ujarnya.

Farid Wadjdi dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) mengatakan, perhatian utama HTI pada usaha membebaskan manusia dari kekejaman kapitalisme global. Kerusakan yang ditimbulkan kapitalisme global ini, kata dia, harus dihentikan dan digantikan dengan ideologi Islam yang kaffah dalam sistem khilafiah. “Jadi, Hizbut Tahrir memberikan solusi atas ketertindasan manusia oleh cengkeraman kapitalisme. Tak benar kalau HTI antiorang Barat, yang benar antipenindasan dan ideologi global,” ujarnya.

Sementara itu di tempat terpisah, Syafiq Hasyim, intelektual muda NU, menawarkan sebuah konsep baru yang disebutnya dengan multikulturalisme. Konsep ini menurutnya lebih netral dibanding konsep-konsep lain semisal pluralisme yang banyak disalahpahami atau sengaja disalahpahami.

Jika pluralisme terkesan berdimensi teologis yang sering dipahami secara salah sebagai pengakuan atas kebenaran agama-agama, kata Syafiq, maka multikulturalisme lebih bercorak sosiologis di mana yang menjadi titik tekannya adalah pemahaman yang utuh tentang perbedaan-perbedaan yang ada.

Syafiq menyebut, multikulturalisme mendorong orang untuk menghormati pihak lain yang berbeda bukan karena pengakuan terhadap kebenaran agama mereka, tetapi semata-mata setiap orang harus menghormati cara yang ditempuh orang lain untuk menjalankan ajaran agamanya.

Peneliti di Program Studi Arab UI Zacky Khairul Umam menyatakan kesalahpahaman persepsi maupun corak pemikiran antara umat Islam dan Barat berakar dari kagagalan dialog eksistensial dan tumbuhnya prasangka yang berlebihan. Alhasil, lanjut dia, melahirkan generasi fundamentalisme agama yang akut. “Sehingga menjadi tepat bahwa yang terjadi sesungguhnya ialah fenomena benturan fundamentalisme, sebagaimana tesis pemikir kiri, Tariq Ali, dalam bukunya The Clash of Fundamentalism: Crusades, Jihads, and Modernity. Ini harus dicegah,” jelasnya.

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s