Agama Menolak Radikalisme

Salah satu tantangan terpenting umat beragama saat ini adalah radikalisme agama, atau lebih tepatnya radikalisme beragama. Dalam beberapa tahun belakangan menunjukkan, masalah radikalisme beragama menjadi sorotan banyak kalangan di berbagai negara mengingat dampak sosial yang ditimbulkan cukup besar. Munculnya aksi terorisme berkedok agama tertentu, misalnya, yang kerap dipakai pihak atau orang-orang tertentu, sebut saja kelompok Noordin M. Top dan jaringan JI, sungguh menggambarkan betapa pemahaman mereka terhadap ajaran agama sangat sempit dan parsial. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Apa akar permasalahan dan bagaimana solusinya?

Membedah lebih dalam persoalan ini, berikut wawancara tim At-Tanwir dengan penulis buku Membongkar Jamaah Islamiyah; Pengakuan Mantan Anggota JI, yang juga mantan Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiyah, Nasir Abas. Petikannya:

Bagaimana Anda melihat fenomena maraknya radikalisme agama belakangan ini?

Pertama, perlu ditegaskan bahwa penggunaan kalimat radikal atau ekstrem dalam beragama, hemat saya, kurang tepat. Mungkin yang tepat adalah istilah ifrad, yakni berlebih-lebihan, bisa juga fanatis dan keras. Kedua, apapun namanya, bila intinya adalah menganjurkan praktek-praktek beragama berlebihan, saya tidak setuju. Karena segala sesuatu yang belebihan, apalagi dalam masalah agama, fatal akibatnya. Amalan tanpa dasar yang jelas, atau memahami agama secara ketat sehingga tampak berlebihan, dapat menjerumuskan orang kepada tindakan anarkis, atau kekerasan.

Apa penyebab munculnya radikalisme beragama?

Yang utama, saya kira adalah emosional atau sekadar menuruti hawa nafsu. Artinya, kejiwaan orang tersebut yang labil dalam memahami agama, sehingga mudah disulut oleh rasa emosi yang tinggi dan meledak dalam bentuk tindakan negatif. Kedua, dalam kondisi semacam itu, unsur provokasi oleh pihak lain memanfaatkan pihak pertama. Jadi ada kepentingan orang luar masuk dalam emosi orang yang saya sebutkan tadi. Padahal, sebenarnya orang pertama sama sekali tak memiliki kepentingan apapun kecuali pelampiasan emosional. Sebab lain, sempitnya pemahaman agama, seperti saya singgung tadi.

Kalau kelompok Noordin M. Top dan Azahari, apakah dalam kategori yang Anda sebutkan tadi?

Ya, saya kira Noordin dan Azahari, berlebih-lebihan dan salah dalam memahami perjuangan dan ajaran Islam. Contoh, mereka memahami makna jihad sebagai berperang dengan angkat senjata, persis seperti yang tertulis dalam Al-Quran dan Hadis. Siapapun yang dianggap musuh, terutama orang-orang yang tak seagama dengan mereka dihukumi kafir, harus dibunuh. Akibatnya, banyak terjadi aksi pembunuhan, perampokan, dan pemboman. Pemahaman demikian jelas salah. Ada fatwa ulama, tafsir Quran, semua itu menjadi petunjuk pelaksanaan jihad. Ada tahap-tahap, dan tidak mudah memutuskan secara syar’i kapan harus angkat senjata atau membunuh musuh dengan alasan yang dibenarkan.

Alasan mereka, jihad untuk menegakkan agama dan negara?

Okelah itu argumen mereka. Tapi kan harus lihat fakta, realitas yang ada dalam masyarakat. Ada aturan main yang harus ditaati. Bagi kelompok sesat seperti Noordin dan jaringannya itu, orang kafir tidak berhak hidup atau tak boleh wujud (ada) di muka bumi. Mereka berdalih, bahwa Rasulullah tidak membenarkan adanya non-Muslim di muka bumi. Saya sedih melihat pemahaman yang demikian. Sebagai utusan dan Nabi terakhir, Allah pasti telah memberi petunjuk yang benar sebagai pegangan Rasulullah dan umatnya. Pemahaman seperti ini tidak akan terjadi bila kita memahami betul dan menangkap spirit yang terkandung dalam sirah (sejarah) Nabi Saw.

Menurut pengalaman Anda selama terlibat dalam JI bagaimana?

Tidak semua anggota JI berfikiran seperti Noordin dan kelompoknya. Ada sebagian yang masih jernih dalam memahami Islam, dan tidak ceroboh dalam melakukan tindakan. Kelompok terakhir ini tidak mau melakukan pemboman dan sejenisnya. Pemahaman mereka terhadap Islam juga moderat dan terbuka. Saya sendiri keluar dari JI karena tidak sependapat dengan aksi dan pemahaman sebagian kawan-kawan JI yang membolehkan aksi kekerasan. Merasa ada tanggung jawab memberikan opini yang benar kepada masyarakat, saya menulis buku Membongkar Jamaah Islamiyah; Pengakuan Mantan Anggota JI. Ternyata respon masyarakat bagus, hingga buku itu empat kali cetak ulang.

Solusinya apa untuk mengikis sikap-sikap radikal beragama?

Yang utama pendidikan. Sedini mungkin pendidikan tentang agama yang benar dan toleran, moderat, ditanamkan sejak kecil, dalam lingkup rumah tangga hingga sekolah. Kedua, melalui media cetak, seperti selebaran Jumat, tulisan dan sejenisnya. Era sekarang era informasi, perang opini. Jadi itu bisa lebih diintensifkan.

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

One thought on “Agama Menolak Radikalisme”

  1. Agama, terutama Islam memang menolak keras Radikalisme. Akan tetapi hadirnya organisasi macam FPI itu yang mencampur adukkan Islam ke dalam radikalisme. FPI saya kira oraganisasi yang ‘nggak’ ngerti musyawarah dalam menyelesaikan masalah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s