Notes

Enam Bulan Tarmidi Mikirin Lompat Pagar

DESEMBER 1993, hampir sepuluh tahun lalu. Di situlah untuk pertama kali Tarmidi mengenal Mega. Itu pun hanya sekejap saja. Tapi, dari yang sekejap itu, hasilnya luar biasa. Mega jadi Ketua Umum DPP PDIP hingga hari ini. Dari kursi ketua umum, Mega melesat jadi Presiden Indonesia.

Ceritanya begini. Setelah Kongres PDI IV di Medan, rumah tangga PDI ribut. Kesimpulannya, Kongres Medan gagal. Lalu dibentuklah DPP Caretaker untuk menggelar Kongres Luar Biasa (KLB) di Surabaya bulan Desember 1993.

Pemerintahan Soeharto memberi izin penyelenggaraan KLB, dengan satu syarat harus selesai, apapun hasilnya, paling lambat tanggal 4 Desember pukul 24.00 WIB.

Berbagai intrik terjadi selama KLB. Ricuh. Sampailah pada malam terakhir. Pimpinan sidang yang sudah berantakan mencoba mengumpulkan peserta KLB. Saat salah seorang pimpinan sidang mengatakan akan menutup KLB, Tarmidi melangkah cepat dari belakang menuju meja pimpinan sidang. Diambilnya microphone.

Lalu katanya, “Di Jakarta Timur, walaupun kami rapat selama dua jam, selalu ada kesimpulan yang dibacakan di akhir sidang. Mengapa di Kongres ini tidak ada kesimpulan yang dibacakan?”

Si anggota pimpinan sidang menjawab, ringan saja. “Notulennya sudah tidak ada.”

Tarmidi berkata lagi. “Kalau begitu biar saya membacakan catatan saya selama sidang. Kesimpulannya adalah, yang menghendaki pembentukan formatur pasti mendukung Budi Hardjono. Yang menghendaki voting pasti mendukung Mbak Mega. Sebanyak 256 DPC sepakat mendukung voting, 33 mendukung formatur dan 15 kosong.”

Ucapan Tarmidi disambut tepuk tangan riuh, gegap gempita, para pendukung Mega. Lalu Mega pun maju. Di depan massanya, Mega menyatakan diri sebagai Ketua Umum DPP PDI secara de facto. Kata beberapa orang, saat itu, persis pukul 24.00 WIB.

Bisalah kita sebut peristiwa itu salah satu karya monumental Tarmidi di PDI. Karya monumental lainnya adalah saat ulang tahun PDI tahun 2000 yang digelar di Stadion Senayan. Di ujung pidato sambutannya, tanpa teks, Tarmidi meminta Gus Dur, saat itu presiden, mengubah kembali nama Stadio Senayan menjadi Stadion Gelora Bung Karno.

Permintaan Tarmidi disambut Gus Dur. Dari atas podium, Gus Dur meminta Setneg dan Gubernur menyiapkan semua urusan administrasi untuk pengembalian nama stadion itu. Dari kursinya, Mega yang waktu itu masih wakil presiden, mengangguk-angguk sambil tepuk tangan.

Itu kisah Tarmidi dengan Mega. Lalu, bagaimana Tarmidi bertemu Rachma? Nah, pertemuan pertama Tarmidi dengan Rachma terjadi 20 tahun lalu. Waktu itu, sekitar 1982, Rachma sedang mengunjungi rumah tokoh nasionalis Sudarto di Kelurahan Pisangan untuk meresmikan kantor Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS).

Tarmidi menyapa Rachma, dan memperkenalkan dirinya sebagai Ketua Anak Ranting PDI Kebon Pala. Sudah, itu saja. Sejak itu mereka tak pernah bertemu lagi.

Pertemuan kedua terjadi bulan November tahun lalu, beberapa saat setelah Mega memecat Tarmidi. Rachma mengundang Tarmidi ke kediamannya di Jalan Jati Padang Raya. Dalam pertemuan itu, Rachma mengajak Tarmidi bergabung dengan Partai Pelopor.

Tarmidi meminta waktu enam bulan untuk memikirkan tawaran itu.

Enam bulan berlalu. Pertengahan Mei lalu, Tarmidi kembali ke Jati Padang. Katanya, dia akan memberi jawaban tanggal 1 Juni, tepat di hari lahirnya Pancasila. Dan tanggal 1 Juni, di Blitar, Tarmidi menyatakan bersedia bergabung dengan Partai Pelopor.

Apakah karena sakit hati Tarmidi bergabung dengan Rachma? Jawab Tarmidi, “Tidak.” Lalu dia mengutip ucapan Bung Karno, “manakala Saudara punya bunga mawar, berikan bunga mawar itu pada sanggul Ibu Pertiwi. Cempaka, kenanga, melur, berikan. Manakala Saudara punya melati, berikan melati yang kecil itu. Asal jangan kau berikan bunga kecubung yang memabukkan.” [t]

Standard

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s