BEBERAPA tahun terakhir, hubungan Megawati dan Sutiyoso memang terlihat dekat. Kedekatan ini mulai tercium sejak Mega menduduki kursi Wakil Presiden tahun 1999 silam. Mungkin karena kebetulan Istana Wapres, tempat Mega berkantor, berada persis di sebelah Balai Kota, yang dihuni Sutiyoso sejak tahun 1997.
Kabarnya mereka berdua sering menghabiskan waktu dengan bernyanyi bersama (karaoke) di Istana Wapres setiap hari Jumat. Selain Sutiyoso, beberapa pejabat dan bekas pejabat lain juga sering mampir ke kantor Mega untuk sekedar relaksasi dengan karaoke. Dari sinilah, kabarnya lagi, Mega mulai menyukai lagu My Way. Mendadak lagu My Way menjadi identik dengan Mega. Sampai-sampai, dalam beberapa kesempatan dan kunjungan, Mega didaulat untuk menyanyikan lagu yang ditulis Frank Sinatra dan Paul Anka itu.
Kedekatan Mega dan Sutiyoso jelas bukan hanya dalam hal nyanyi bareng. Mereka juga kerap melakukan kegiatan resmi bersama. Bulan Maret 2001, misalnya, dalam rangka memperingati Hari Air, Mega dan Sutiyoso naik perahu menyusuri Kali Ciliwung. Ribuan warga di sekitar Kali Ciliwung gembira menyambut kehadiran mereka.
Setahun kemudian, waktu banjir besar melanda Jakarta, sekitar bulan Januari dan Februari, Mega dan Sutiyoso juga mengunjungi korban banjir di beberapa lokasi, seperti Tanah Abang.
Terakhir, pekan lalu, dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup, Mega dan Sutiyoso menjejakkan telapak kaki mereka di atas lempengan semen basah. Setelah kering, cap telapak kaki mereka dipajang di dua pintu berbeda, utara dan selatan.
Nah, mungkin karena terlalu setia pada Mega, Tarmidi tidak melihat kedekatan antara Mega dan Sutiyoso menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan bagi perkembangan partai dan karir politiknya.
Saat pemilihan Gubernur DKI dilangsungkan, Mega sedang berada di luar negeri dalam rangkaian kunjungan ke Afrika dan Eropa Timur. Sehari setelah Sutiyoso terpilih, Mega buka mulut. Kata Mega, dia punya hak ntuk mendukung siapa pun, dalam konteks apa pun. Termasuk mendukung Sutiyoso menjadi Gubernur DKI Jakarta. Sebab, dukungan seperti itu adalah sah menurut nilai demokrasi.
“Katanya dukung orang itu boleh. Sekarang saya dukung A kok terus ribut. Kan tidak ada salahnya. Anda mau mendukung siapa ya silakan. Saya mendukung siapa juga silakan,” kata Mega usai bertemu masyarakat Indonesia di Mesir.
Setelah menyampaikan hal itu, perdebatan soal dukungan terhadap Sutiyoso hilang dari peredaran. Orang-orang seolah lupa.
Bagaimana dengan Tarmidi? Dia dijatuhi hukuman ala PDIP. Pertama, posisinya sebagai Ketua DPD PDIP DKI Jakarta dicopot. Kedua sanksi sosial, dijauhi, diisolasi dari anggota Fraksi PDIP DPRD DKI Jakarta. Selanjutnya, Tarmidi turun dari kursi Wakil Ketua DPRD.
Masihkah Tarmidi hard feeling dengan peristiwa pemilihan Gubernur DKI Jakarta itu? “Mas, persoalan dukungan Mega untuk Sutiyoso dalam pemilihan Gubernur DKI tahun lalu dan persoalan di DPRD tidak jadi masalah lagi bagi saya. Itu sudah terjadi. Dan, seperti yang sering saya katakan, kursi gubernur bukan target saya. Tapi target partai melalui Rakerdasus,” katanya kemarin.
Satu hal yang masih mengganjal di hati Tarmidi adalah soal pencopotan dirinya dari kursi Ketua DPD PDIP DKI Jakarta. “Kenapa Ketua DPD yang dihasilkan Konferda mudah sekali dipecat,” katanya lagi.
Padahal proses pemilihan Ketua DPD cukup panjang. Sebelum Konferensi Daerah (Konferda), partai menggelar Musyawarah Ranting (Musran), Musyawarah Anak Cabang (Musancab) dan Konferensi Cabang Khusus (Konfercabsus). Jadi, kalau Mega hendak mencopot Tarmidi, mestinya mekanisme yang dilakukan juga seperti itu. Tarmidi duduk di kursi Ketua DPD PDIP DKI Jakarta bukan karena restu Mega, melainkan atas restu dan keinginan anggota dan simpatisan PDIP di Jakarta.
Pencalonan Tarmidi sebagai gubernur juga menempuh prosedur serupa. Tidak karena restu Mega, melainkan karena dukungan dan restu anggota dan simpatisan PDIP di Jakarta. Jadi, tidak ada hak seujung kukupun bagi Mega mencopot Tarmidi.

One Reply to “”