Abu Kamal di Tepi Euphrates

0225
ABU Kamal nama sebuah kota kecil di sebelah tenggara Syria. Letaknya di sisi kanan Sungai Euphrates yang mengalir dari Turki di utara sana. Kalau Anda melihat peta Syria, Abu Kamal persis berada di garis perbatasan negara itu dengan Irak.

Menuju kota di tengah gurun itu gampang saja. Naik bus malam dari Damaskus ke arah timur, menuju Der Zur, kota kecil lain yang juga berada di sisi kanan Sungai Euphrates. Etape pertama ini empat jam lamanya. Dari Der Zur, bus belok kanan, terus ke selatan, menyisir tepi Sungai Euphrates. Berkelok-kelok sedikit sepanjang etape kedua.

Tiga jam kemudian saya tiba di Abu Kamal. Matahari belum lagi menampakkan diri. Baru mendekati pukul 06.00 pagi waktu Syria. Masih terlalu pagi bagi penduduk Abu Kamal untuk memulai aktivitasnya. Jalanan masih sepi. Cuma satu dua truk lalu lalang. Kios-kios di pasar masih tutup. Hempasan angin menghantam pintu-pintu kios. Berderak dan berdecit. Debu gurun menyapu dibawa angin. Dingin sekali.

Di sudut pasar, beberapa laki-laki mengenakan kefayeh, kain yang juga biasa dipakai para pejuang pembebasan Palestina, tengah berdiri mengelilingi sebuah tungku dari kaleng bekas. Mereka membakar potongan kayu untuk menghangatkan tubuh. Kata seorang diantara laki-laki itu, mereka adalah pembersih pasar.

“Pekerjaan baru dimulai satu jam lagi,” katanya sambil menawarkan teh.

Wajah mereka tidak seperti kebanyakan laki-laki yang saya temui di Damaskus.

Kata teman saya, mereka ini orang-orang Badui yang senang hidup mengembara ke seantero jazirah Arab. Beberapa dari mereka, orang-orang Badui di sudut pasar itu, ada yang memelihara kumis seperti Saddam Hussein. Lebat di bawah hidung. Senyumnya pun lebar-lebar. Juga, persis senyum Saddam. Sepertinya kumis Saddam favorit di sini.

Orang-orang Badui itu bertanya tentang banyak hal. Mulai dari soal dimana Indonesia, pesawat terbang, Amerika, sampai kapan perang dunia akan terjadi (lagi).

Menjelang pukul 07.00 saya meninggalkan kelompok Badui itu. Ada sebuah warung menjual susu dan rebus telur ayam. Ke sanalah saya pergi.

Si pemilik warung adalah orang Damaskus atau Syam. Kelihatannya pengetahuan laki-laki ini tentang hal-hal lain di luar Abu Kamal jauh lebih banyak dari kelompok buruh yang saya temui sebelumnya. Orang ini tahu soal Indonesia. (Dia sempat-sempatnya menirukan mimik wajah Gus Dur.) Tapi dia tidak tahu Indonesia juga merupakan salah satu negara dengan jumlah koruptor terbanyak di dunia.

Soal Amerika? Jangan tanya. Ceritanya lebar berapi-api. Semuanya berisi hujatan kepada Amerika dan sekutunya.

“Amerika ingin menguasai minyak di Arab. Mereka mulai menguasai Arab dari Palestina. Di sana mereka berhasil. Negara-negara kafir yang takut pada Amerika, mendukungnya. Sekarang mereka ingin mencaplok Irak. Setelah itu mungkin Syria, Iran. Lalu seluruh dunia,” ujarnya mantap.

“Tanya seluruh penduduk di kota ini. Kami cinta Irak. Kami membenci Amerika. Anda tahu, jalan di depan itu,” katanya sambil menunjuk jalan utama di tengah pasar, “namanya Jalan Baghdad.”

Satu jam kemudian, saya meninggalkan warung itu, dan menuju satu-satunya hotel di Abu Kamal. Namanya Hotel Jumhuriyah. Pintu-pintu kios di pasar mulai dibuka. Angin masih bertiup kencang, debu-debu masih beterbangan.[t]

One Reply to “Abu Kamal di Tepi Euphrates”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s