Bikin Romantis, Negara Dongeng Republik Naminara di Korea

DRAMA seri Korea, Winter Sonata, yang ditayangkan pertama kali tahun 2002 dianggap sebagai salah satu pelopor kebangkitan hallyu atau “gelombang Korea” yang merambah hingga ke berbagai belahan dunia hingga kini, tidak terkecuali ke Indonesia.

Drama percintaan remaja ini berkisah tentang seorang siswa SMA, Joon-sang yang dibintangi Bae Yong-joon, yang walaupun pintar namun pemalu dan introvert. Dia mengikuti ibunya pindah ke Chuncheon di Provinsi Gangwon.

Di sekolah barunya, ia berteman dengan Yoo-jin yang dibintangi Choi Ji-woo, dan keduanya saling jatuh cinta. Sebagaimana  drama percintaan, hubungan kedua remaja ini tidak berlangsung mulus. Apalagi setelah Joon-sang mengalami kecelakaan dan mengalami amnesia sehingga melupakan apapun dan siapapun sebelum kecelakaan terjadi. Termasuk melupakan Yoo-jin dan kisah mereka di Pulau Nami.

Continue reading “Bikin Romantis, Negara Dongeng Republik Naminara di Korea”

Urban Legend dari Uzbekistan

Nanti malam, bila tidak ada aral melintang, timnas U23 kita akan berhadapan dengan timmas U23 Uzbekistan di perempat final Piala Asia U23 2024.

Setelah menang dalam drama adu penalti yang memeras airmata melawan Korea Selatan, kita punya harapan besar tim asuhan Shin Taeyong dapat memetik kemenangan melawan Uzbekistan.

Continue reading “Urban Legend dari Uzbekistan”

Monumen Besar

Hampir dalam setiap kunjungan ke Korea Utara, saya mendatangi tempat ini: Mansudae Grand Monument.

Seperti namanya monumen ini berdiri di puncak bukit Mansu, Pyongyang.

Tahun 1972 untuk memperingati HUT ke-60 Kim Il Sung, patung perunggu setinggi 22 meter yang menggambarkan Kim Il Sung mengarahkan pandangan dan tangannya ke pusat Pyonyang didirikan atas perintah Kim Jong Il di bukit ini.

Continue reading “Monumen Besar”

Ryugyong Hotel

Ryugyong Hotel di pusat kota Pyongyang. Bangunan berlantai 105 dengan bentuk unik ini mulai dibangun tahun 1987. Pembangunannya dihentikan tahun 1992, setelah kehancuran Uni Soviet yang berdampak pada perekonomian Korea Utara.

Tahun 2003, ketika pertama kali mengunjungi Pyongyang, bangunan Hoyel Ryugyong belum seperti pada foto ini. Struktur bangunan telah berdiri, namun masih jauh dari selesai. Pembangunan dilanjutkan tahun 2008 oleh perusahaan konstruksi Mesir. Kaca kehijauan dan bagian eksterior mulai dipasang.

Continue reading “Ryugyong Hotel”

Karena Intan Mengizinkan

Karena Intansari Fitri mengizinkan, jadilah saya punya banyak cerita tentang Korea Utara.

Bulan April 21 tahun lalu. Saya belum lama kembali dari liputan di Suriah dan Turki menjelang kejatuhan Saddam Hussein di Irak. Dan sedang mempersiapkan pernikahan dengan Intan.

Lokasi pernikahan kami telah ditentukan, di Wisma Antara. Undangan telah dicetak, dan siap didistribusikan.

Continue reading “Karena Intan Mengizinkan”

Kafan

Tigapuluh menit lewat tengah malam, saya tiba di rumah duka, di Pondok Pekayon Indah, Bekasi Selatan. Di ruang keluarga, sang tuan rumah tengah dikafankan. Istri dan anak-anaknya duduk bersimpuh di sisi mayit.

Mas Yudhistira ANM Massardi, sang tuan rumah yang tengah dikafankan itu, meninggal dunia, Selasa, 2 April 2024, pukul 21.12 WIB di RSUD Bekasi. Menurut rencana, akan dimakamkan di TPU Pedurenan Bantar Gebang, Rabu siang, 3 April 2024.

Continue reading “Kafan”

Abadku, Lekra, dan Manikebu

Mein Jahrhundert” yang diinggriskan menjadi “My Century” dan kalau diindonesiakan menjadi “Abadku“. Karya Gunter Grass, sastrawan asal Jerman yang mendapatkan Nobel Sastra tahun 1999. Di tahun itu juga ia menerbitkan novel ini.

Saya lupa bagaimana bisa memiliki foto copy “My Century“. Tapi ia ada di dalam tas saya, saat bersama Surya Aslim, seorang teman baik yang sekarang menetap di Arab Saudi, mengunjungi rumah Pramudya Ananta Toer di Bogor.

Continue reading “Abadku, Lekra, dan Manikebu”

Tenggelamkan Bismarck

Tujuh puluh tujuh tahun sebelum aku lahir di Medan, dia meninggal dunia di Friedrichsruh. Otto von Bismarck politisi hebat dari Prusia, Jerman kini. Jabatan tertingginya adalah Kanselir, dari 1871 sampai 1890.

Di era Perang Dunia Kedua, Adolf Hitler menggunakan namanya untuk sebuah kapal perang raksasa. Yang terbesar di dunia pada masanya. Dikerjakan galangan kapal Blohm & Voss dari tahun 1936 sampai 1939, dan mulai berlayar di bulan Agustus 1940.

Continue reading “Tenggelamkan Bismarck”

Utang Kehormatan

Ini salah satu novel yang tak habis dibaca. Ditulis Tom Clancy tahun 1994, “Debt of Honour” adalah kelanjutan dari “The Sum of All Fears” (1991) yang ada versi filmnya.

Saya membeli buku ini setelah ngobrol di telepon dengan teman lama saat sekolah di Singapura, Sandy Lien, beberapa hari setelah peristiwa 9/11 terjadi.

Sandy bercerita, adegan kelompok teroris menabrakkan pesawat ke menara WTC di Manhattan, New York, seperti adegan di dalam “Debt of Honour” ketika seorang pilot Jepang yang marah menabrakkan pesawatnya ke Capitol Hill di Washington DC, membunuh semua anggota Kongres dan Presiden AS yang sedang menggelar joint session.

Saya beli buku ini saat transit di KLIA, Malaysia, Oktober 2003. Dan saya persembahkan untuk kekasih hati Intansari Fitri.

Terkenang Kalau Tak Untung

“Kalau Tak Untung” karya Selasih, diterbitkan Balai Pustaka tahun 1934. Ditulis Selasih setahun sebelumnya, novel ini berkisah tentang kasih tak sampai antara jaka dan dara, Masrul dan Rasmani.

“Selasih” adalah nama pena Sariamin Ismail tercatat sebagai novelis wanita pertama di Indonesia. Selain “Selasih”, nama pena lain yang sering dia gunakan adalah “Seleguri”. Konon ada kalanya dia menggunakan “Selasih Seleguri”.

Continue reading “Terkenang Kalau Tak Untung”

Februari Lagi!

February word hanging on the ropes

Adalah Kaisar Numa Pompilius yang di tahun 713 Sebelum Masehi menambahkan dua bulan terakhir, Januari dan Februari sebagai bulan ke-11 dan ke-12, dalam sistem penanggalan Romawi.

Bila Januari diambil dari nama salah satu dewa dalam mitologi Romawi, Februari diambil dari nama festival pensucian atau Februa yang biasanya digelar tanggal 15.

Pada 450 SM, sistem penanggalan Romawi diubah lagi. Januari dijadikan bulan pertama, dan Februari mengikutinya sampai kini.

Seperti namanya, bulan ini identik dengan air, salah satu elemen penting dalam ritual pensucian.

Beberapa peristiwa penting dalam catatan sejarah manusia pun terjadi di bulan ini. Pergantian kekuasaan, pencapaian kemanusiaan, perkembangan seni dan teknologi.

Continue reading “Februari Lagi!”

Dua Guru

Kata orang-orang tua di kampung halaman: jika tuan pergi merantau, induk semang cari dahulu.

Selesai kuliah di Bandung tahun 2000, saya tidak kembali ke Medan; memutuskan bertarung di rimba Jakarta. Beberapa teman sudah lebih dahulu ke sana. Saudara ada juga satu dua.

Guru, itu yang saya belum punya.

Pertemuan dgn guru pertama tak lama setelah bekerja menjadi kuli disket. Rachmawati Soekarnoputri (1950-2021) membukakan pintu untuk kesempatan2 lainnya. Bila teman2 kini kerap mengaitkan saya dgn Korea Utara, itu jasa beliau.

Continue reading “Dua Guru”

Mengantar Bang Rizal

19 Oktober 2023, Bang Rizal Ramli mendampingi saya di pemakaman Intan. Hari itu saya tak sempat mengabarkan kepergian Intan padanya. Pikiran ini sungguh kalut.

Continue reading “Mengantar Bang Rizal”

Sepertiku, Bintangnya Leo

Sepertiku, bintangnya Leo.

Simón José Antonio de la Santísima Trinidad de Bolívar Ponte y Palacios Blanco lahir di Caracas, Veneuzuela, pada 25 Juli 1783.

Simon Bolivar dikenang sebagai El Libertador atau Sang Pembebas di Venezuela, Bolivia, Kolombia, Ecuador, Peru, dan Panama.

Keenam negara ini pernah disatukannya di bawah payung Gran Colombia (1819-1831) yang oleh Quincy Adam, Menlu AS saat itu yg kemudian menjadi Presiden AS, sebagai salah satu negara terkuat di muka bumi.

Continue reading “Sepertiku, Bintangnya Leo”

Jose Belo dan RTTL yang Sedang Berbenah

RADIO Televisi Timor Leste (RTTL) sedang berbenah. Sebuah bangunan berlantai tiga sedang dibangun di kantor RTTL di Jalan Caicoli, Dili. Diharapkan pembangunan akan selesai di bulan April 2024 mendatang.

Pembangunan gedung baru dan sistem operasional baru yang digunakan tidak lama lagi diharapkan dapat membuat kualitas siaran RTTL lebih baik, dengan jangkauan yang juga lebih luas.

“Semua studio dan ruang kerja redaksi akan dipindahkan ke gedung baru,” ujar Direktur Utama RTTL Jose Antonio Belo ketika menerima saya di kantornya, Kamis (23/11).

Continue reading “Jose Belo dan RTTL yang Sedang Berbenah”

Niujie, Masjid di Jalan Lembu, Beijing

Tadi ke Masjid Niujie di Distrik Xuanwu, Beijing. Usai shalat Ashar bertemu H. Ismail. Kepadanya saya tanyakan kabar H. Yusuf, pengurus Masjid Niujie yang saya temui tahun 2013.

Continue reading “Niujie, Masjid di Jalan Lembu, Beijing”

Kekuasaan yang Abadi

Lahir dengan nama Ying Zheng, Kaisar Pertama Tiongkok ini adalah pecinta dunia yang berambisi berkuasa selamanya. Di dunia maupun di akhirat.

Apapun akan dilakukannya agar tetap bisa berkuasa.

Saat berusia 13 tahun, dia menggantikan ayahnya Raja Zhuangxiang yang berkuasa di Kerajaan Qin. Itu tahun 247 SM.

Setahun kemudian, Raja Qin Shi Huang mulai memerintahkan pembuatan patung prajurit dari tanah liat yang dibakar agar kuat dan tahan lama.

Continue reading “Kekuasaan yang Abadi”

Surga Petinju

Ketika menduduki Beijing, koalisi delapan negara yang terdiri dari Austria-Hungaria, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Rusia, Inggris Raya dan Amerika Serikat, menjadikan kuil ini sebagai pusat komando.

Itu tahun 1900. Sejak setahun sebelumnya perlawanan anti-asing merebak di seluruh wilayah Kekaisaran Tiongkok.

Pemberontakan yang dimotori para petinju (yihequan) menolak berbagai upaya yang dilakukan negara-negara Eropa untuk membagi-bagi wilayah Tiongkok di antara mereka.

Continue reading “Surga Petinju”

Setelah 20 Tahun

Setelah 20 tahun saya kembali menginjakkan kaki di (bandara) kota ini. Guangzhou atau Kanton, kota terbesar sekaligus ibukota Provinsi Guandong di sisi selatan China.

Sekitar 120 km dari Hong Kong dan sekitar 145 km dari Macau. Keduanya terletak lebih di selatan lagi.

Kota yang dialiri oleh jejaring Sungai Mutiara ini memiliki sejarah yang panjang, setidaknya 2.200 tahun, dan merupakan salah satu titik persinggahan penting di era Jalur Sutra.

Continue reading “Setelah 20 Tahun”

Bata Tertinggi

Bergaya Art Deco yang populer di paruh pertama abad ke-20 dan memiliki 77 lantai, gedung di persimpangan 42nd Street dan Lexington Avenue ini dibangun dari 1928 sampai 1930.

Arsitek William van Alen merancang gedung setinggi 319 meter ini untuk Walter P. Chrysler yang dikenal sebagai salah seorang pelopor industri otomotif Amerika.

Continue reading “Bata Tertinggi”

John Lennon dan Pistol yang Ujungnya Disimpul

Malam itu 8 Desember 1980. Musisi Inggris John Lennon, mantan pentolan The Beatles, ditembak dan terluka parah di gerbang Apartemen Dakota, di New York City, tempatnya tinggal.

Empat dari lima peluru Charter .38 Special yang ditembakkan Mark David Chapman menghujam bagian belakang tubuh Lennon.

Lennon segera dilarikan ke RS Roosevelt dan dinyatakan tewas saat tiba.

Sang eksekutor, Mark David Chapman, sebenarnya adalah seorang penggemar Beatles dan pengagum Lennon. Namun belakangan ia menjadi pembenci nomor 1. Dia tidak bisa menerima gaya hidup glamor dan popularitas Beatles yang suatu saat menurutnya mengalahkan Yesus.

Continue reading “John Lennon dan Pistol yang Ujungnya Disimpul”

Insya Allah Sengketa Sahara Berakhir Segera

Lebih dari 150 petisioner kembali berkumpul di Komite 4 Majelis Umum PBB, di New York, untuk mempresentasikan pandangan mereka mengenai sengketa Sahara Barat atau Sahara Maroko. Pertemuan dijadwalkan berlangsung dari hari Rabu (4/10) sampai (6/10).

Salah seorang petisioner dalam pertemuan itu adalah wartawan senior yang juga dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta, Teguh Santosa. Dia menjadi petisioner ke-22 dalam daftar petisioner di sesi tahun ini.

Bagi Teguh yang kini memimpin Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), ini adalah kali ketiga dirinya hadir sebagai petisioner sengketa Sahara Maroko, setelah sebelumnya di tahun 2011 dan 2012.

Teguh mengatakan, dirinya lebih memilih menggunakan istilah “Sahara Maroko” dan bukan “Sahara Barat” karena menurutnya wilayah yang sedang diperbincangkan ini secara historis merupakan bagian dari Kerajaan Maroko sejak lama.

Continue reading “Insya Allah Sengketa Sahara Berakhir Segera”

Pantai Lampuuk

Saya singgah di Masjid Rahmatullah pekan lalu. Pas waktu shalat maghrib. Dalam perjalanan dari @sophies_sunset_library yang dikelola sahabat kecil Raihan dan suaminya, Dendi.

Sekitar 500 meter dari Pantai Lampuuk di pesisir barat Aceh Besar, Masjid Rahmatullah yang dibangun antara 1990 sampai 1997 ini adalah salah satu saksi mata betapa begitu dahsyat gelombang tsunami menghantam Aceh, 26 Desember 2004.

Tsunami itu dipicu gempa berkekuatan 9,3 SR di Samudera Hindia. Menewaskan sekitar 300 ribu warga Aceh. Sekitar 500 ribu lainnya kehilangan tempat tinggal.

Masjid Rahmatullah bertahan sementara bangunan2 lain di sekitarnya rata dengan tanah. Foto2 udara dari masa duka itu memperlihatkan ia kokoh di tengah nestapa dalam kesendirian.

Renovasi masjid dibantu Turki, selesai dua tahun kemudian. Dua menara ditambahkan. Begitu juga gerbang pengganti gerbang lama. Museum tsunami dibangun di halaman. Salah satu pilar di bagian dalam yang rusak tak disentuh renovasi. Dikelilingi pagar kaca. Jadi pengingat agar terus waspada.

Ramos Horta dan Ramalan Kejatuhan Soeharto

TIGA tahun sebelumn wawancara dengan CNN di bulan Mei 1995, Ramos Horta telah meramalkan Orde Baru akan tumbang dan Soeharto akan jatuh dari kekuasaannya. Menurut perhitungannya, Orde Baru akan hancur karena korupsi yang semakin menjadi, salah kelola, dan legitimasi rejim yang semakin jeblok.

Setelah Orde Baru tumbang, lanjut Horta, barulah pembicaraan mengenai kemerdekaan Timor Leste akan lebih mudah dilakukan.

Ramos Horta yang kini Presiden Timor Leste menceritakan kisah ini ketika berbicara dalam Dialog Demokrasi yang digelar Center for Strategic and International Studies (CSIS) di Tanah Abang, Jakarta, Senin siang (7/8).

Continue reading “Ramos Horta dan Ramalan Kejatuhan Soeharto”

Problematika, Dilema, dan Romantika Dunia

Kedua buku ini telah diluncurkan. Isinya adalah wawancara yang saya lakukan dengan dutabesar negara sahabat di Jakarta.

Continue reading “Problematika, Dilema, dan Romantika Dunia”

Cerita dari Tanah Patah

Thomas Stamford Bingley Raffles berpikir keras. Inggris harus memiliki pelabuhan di Selat Malaka. Hanya dengan demikian dapat menguasai sisi timur Asia, yang berarti melengkapi dominasi di benua terbesar di dunia.

Raffles memulai kariernya di Asia Tenggara pada 1805 sebagai jurutulis Perusahaan Hindia Timur Inggris di Penang yang ketika itu masih bernama Pulau Pangeran Wales.

Di saat yang bersamaan, Eropa sedang dilanda perang. Napoleon Bonaparte menyapu Eropa, dan antara lain merebut Belanda. Kemenangan atas Belanda ini membuat semua wilayah Hindia Belanda di Asia Tenggara, yang kini bernama Indonesia, pun berada di bawah kekuasaan Prancis.

Continue reading “Cerita dari Tanah Patah”