Dilema Two-Level Game di BOP dan Tuduhan Palsu Trump

Dalam video ini, Dr. Teguh Santosa, Direktur Geopolitik dari Great Institute, membahas dinamika keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BOP) di tengah situasi geopolitik yang memanas akibat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Berikut adalah poin-poin utama pembahasannya:

  • Status Keanggotaan BOP (02:47 – 04:22): Meskipun sempat muncul spekulasi mengenai penangguhan (suspend) keanggotaan Indonesia, pihak diplomatik mengklarifikasi bahwa yang terjadi adalah downscaling (penurunan skala) pembicaraan. Hal ini disebabkan oleh tujuh negara mitra dalam BOP yang berada di kawasan Teluk dan terdampak langsung oleh ketegangan militer dengan Iran.
  • BOP sebagai Instrumen (06:30 – 08:06): Teguh Santosa menekankan bahwa BOP hanyalah sebuah instrumen atau alat untuk mencapai tujuan nasional, yakni kemerdekaan Palestina. Indonesia tetap berkomitmen pada tujuan ini dan akan mengevaluasi efektivitas instrumen tersebut; jika dirasa tidak efektif, pemerintah terbuka untuk mencari jalan lain.
  • Dilema Two-Level Game (19:02 – 20:45): Menggunakan teori Robert Putnam, dijelaskan bahwa pemerintah menghadapi tantangan untuk menyeimbangkan kebijakan luar negeri dengan tekanan opini publik di dalam negeri. Pemerintah tetap mempertimbangkan masukan (input) berkualitas dari masyarakat dan para ahli, seperti keterlibatan tokoh seperti Jusuf Kalla dalam upaya perdamaian (32:52 – 36:06).
  • Analogi dengan Perang Irak 2003 (09:47 – 14:54): Terdapat kemiripan pola serangan yang didasarkan pada tuduhan palsu (seperti isu senjata pemusnah massal di Irak dulu, dibandingkan dengan narasi saat ini terhadap Iran). Namun, Iran dinilai memiliki pertahanan dan kapabilitas yang jauh lebih kuat dibandingkan Irak pada tahun 2003.
  • Posisi Indonesia (25:05 – 26:50): Indonesia dikenal memiliki keahlian dalam meramu perdamaian (peace broker). Namun, seringkali kita terjebak dalam pendekatan yang naif. Kedepannya, partisipasi dalam isu global diharapkan tidak hanya sekadar menjadi ‘pemadam kebakaran’, tetapi juga mampu mengelola dampak struktural yang memberikan manfaat bagi kepentingan nasional Indonesia.

Leave a comment