Ternyata Netanyahu Ancaman Terbesar bagi Israel

Dalam episode GREAT Talks ini, Dr. Teguh Santosa, Direktur Geopolitik di GREAT Institute, membahas keterlibatan Indonesia dalam Dewan Perdamaian (BOP) dan menegaskan kembali dukungan teguh negara ini untuk Palestina.

Poin Penting:

Peran Indonesia dalam Diplomasi Global: Dr. Santosa menjelaskan bahwa partisipasi Indonesia dalam Dewan Perdamaian (yang dibentuk oleh Donald Trump) berakar pada mandat Dewan Keamanan PBB (4:35-4:47, 13:42-14:05). Indonesia telah dipercayakan sebagai Wakil Komandan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF), yang bertugas menjaga keamanan di Gaza (4:40-4:53).

Dukungan untuk Palestina: Video ini menyoroti bahwa komitmen Indonesia bersifat substansial, bukan dangkal. Ini termasuk:

Dukungan historis, seperti Presiden Soeharto yang membantu kedutaan Palestina di Jakarta selama tahun 1990-an (0:00-0:33, 27:44-28:18).
Upaya terkini Presiden Prabowo untuk mendidik pemuda Palestina di Universitas Pertahanan Indonesia (UNHAN) guna mempersiapkan pemimpin masa depan bagi bangsa mereka (0:35-0:53, 9:38-9:57).
Upaya diplomatik untuk mengadvokasi solusi dua negara di PBB (6:43-7:16).
Perspektif tentang Konflik: Dr. Santosa menekankan bahwa meskipun kekuatan militer adalah kenyataan, hal itu harus dipadukan dengan diplomasi (11:55-12:04, 29:18-29:28). Beliau berpendapat bahwa Benjamin Netanyahu bertindak sebagai penghalang utama perdamaian, dan bahwa Israel sendiri terpecah belah, menyarankan Indonesia harus terlibat dengan suara-suara moderat dalam masyarakat sipil Israel untuk mendorong stabilitas jangka panjang (21:10-22:45).
Menanggapi Kritik: Diskusi ini membahas skeptisisme publik mengenai posisi diplomatik Indonesia. Dr. Santosa mengklarifikasi bahwa Neraca Pembayaran (BOP) adalah mekanisme yang lahir dari PBB dan bahwa keterlibatan Indonesia bersifat strategis, diperlukan untuk pemulihan regional, dan tidak sama dengan meninggalkan perjuangan Palestina (13:35-14:15, 27:07-27:36).

Dr. Santosa menyimpulkan bahwa pemerintah perlu meningkatkan strategi komunikasinya untuk memastikan masyarakat memahami signifikansi dan maksud di balik manuver diplomatik ini (29:54-30:49).

Leave a comment