






BAPAK DAN IBU sekalian, mohon maaf, saya tidak berpretensi untuk menyimpulkan. Kami sudah menangkap poin-poin penting yang disampaikan dan pertanyaan-pertanyaan dasar yang beredar di masyarakat.
Menarik tadi, misalnya, tentang teori 30-70, di mana komunikasi dikuasai oleh publik melalui platform media sosial. Kita sama-sama mengetahui bahwa platform digital sekarang kelihatannya memang lebih mengendalikan arus informasi di tengah masyarakat.
Ada tradisi FOMO, Fear of Missing Out. Begitu ada satu pihak mengatakan sesuatu, maka yang lain akan seperti lebah, ikut. Sehingga ramailah itu dan akhirnya kita kehilangan fokus. Sementara sebetulnya ada juga JOMO, Joy of Missing Out.
Terkait dengan sikap GREAT Institute terhadap Board of Peace sebetulnya dua hari lalu sudah kami rilis. Kami memberikan dukungan penuh kepada Presiden Prabowo karena kami melihat bahwa BOP ini adalah produk sistem internasional melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803.
Resolusi 2803 itu harus dibaca bersama dengan lampiran pertama atau annex pertama yang merupakan “Comprehensive Plan” dari Donald Trump.
Nah, barangkali kita mencampurkan persepsi umum kita mengenai Donald Trump yang bergaya koboi dan urak-urakan dengan objektif untuk menghentikan kekerasan di Gaza. Dan memang resolusi itu bicara soal Gaza, bukan bicara soal Palestina secara umum.
Ada beberapa informasi yang mungkin perlu dilengkapi. Misalnya, benar bahwa Hamas diminta untuk meletakkan senjata. Tetapi “Comprehensive Plan” Donald Trump itu juga meminta agar Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menarik diri dari Gaza. Coba perhatikan kata-kata yang digunakan. Hamas diminta meletakkan senjata. Tapi IDF diminta menarik diri dari Gaza karena Gaza bukan punya Israel.
Kami melihat hal itu sebagai fase pertama dari upaya menciptakan perdamaian, yaitu negative peace. Sampai kapan kita mau mendengar informasi dan berita tentang orang mati dibantai setiap hari di manapun, terutama di Gaza. Kita kan harus menghentikan itu.
Tentu tujuannya, kita ingin positive peace. Kita ingin kedua negara itu seperti yang disebutkan dalam Dasasila Bandung, peaceful coexistence, hidup berdampingan secara damai.
Saya pribadi membandingkan BOP dengan “pasukan multinasional yang dipimpin Amerika Serikat” di mana BOP memiliki button ON/OFF, yaitu Resolusi DK PBB 2803.
Bandingkan dengan saat Amerika Serikat ingin menginvasi Irak tahun 2003. Menlu AS Colin Powell bicara di depan Dewan Keamanan PBB minta restu PBB untuk menyerang Irak dan tidak diizinkan karena diveto oleh dua anggota Dewan Keamanan PBB. Tetapi apa yang dilakukan Amerika Serikat? Mereka jalan terus melakukan invasi di Irak dan berkelanjutan di mana-mana.
Salah satu kekhawatiran kita adalah bila “Board of Peace” yang jadi seperti milik Amerika Serikat melakukan tindakan di luar dari Gaza
Menurut saya itu tidak akan terjadi, karena ada tombol power ON/OFF yaitu Resolusi 2803.
Saya kira hal seperti ini yang mesti diperhatikan. Tapi ya, tentu saja ini terbuka untuk selalu diperdebatkan.
Penggunaan nama tokoh dalam “plan” merupakan tradisi yang biasa digunakan di PBB. Saya salah seorang petisioner untuk masalah Sahara Barat di Komisi IV4 PBB. Pernah ada James Baker Plan.
James Baker adalah mantan Menlu AS dan mantan Seskab AS. Dia menyampaikan tawaran mengenai penyelesaian masalah di Sahara Barat. Kemudian tawarannya itu diadopsi Dewan Keamanan PBB, keluar menjadi Resolusi DK PBB. Maka disebut sebagai Baker Plan.
Kebetulan James Baker bukan tokoh yang kontroversial dan waktu itu belum ada medsos. jadi perdebatan mengenai dirinya tidak seramai ketika Donald Trump menawarkan “Comprehensive Plan”.
Berikutnya, saya mengajak kita semua untuk memetik pelajaran dari apa yang sedang terjadi.
Satu konsep yang barangkali kita semua sepakat, yaitu tentang inclusive security. Ini tadi dijiwai oleh pemaparan dari Pak Jenderal.
Inclusive security mengatakan bahwa tidak ada negara yang boleh mengandalkan keamanannya pada pihak lain, apakah negara tetangga, bahkan sistem internasional, apalagi organisasi kawasan.
Setiap negara bertanggung jawab pada keamanan dirinya sendiri. Kita harus memperkuat kaki-kaki kita dan memperkokoh kuda-kuda kita.
Berikutnya juga kita sama-sama tahu bahwa security adalah situasi di mana defense lebih besar daripada thread. Nah, ini agenda kita. Kita hanya bisa dibilang secure, kalau kita memang bisa membangun defense yang lebih besar daripada ancaman.
Lalu mengutip Sun Tzu, dia berkata, bila musuh Anda tidur, ganggu. Bila dia lari, kejar. Nah, pertanyaannya kemudian, bagaimana bila dia mengejar kita? Ya, Anda yang lari.
Tetapi pesannya apa? Jangan ganggu musuh yang tidur kalau tidak bisa memastikan bahwa dialah yang nanti akan lari. Jadi, kalau kata orang Amerika biarkan anjing tidur, tidur. Let’s a sleeping dog sleeps.
Juga perlu kita perhatikan tentang definisi perdamaian di antara dua perang. Insya Allah perdamaian akan panjang manakala pihak-pihak yang bertikai memiliki kekuatan yang seimbang. Tetapi bila ada yang powerful dan powerless, maka perdamaian akan sebentar.
Dinamika baru yang diciptakan oleh Donald Trump ini dengan sendirinya mendorong kelahiran kubu-kubu baru, kutub-kutub baru.
Belajar dari Perang Dingin, kita melihat tidak ada perang konvensional. Perang Dingin berakhir karena ada pihak yang collapse.
Kalau kita menggunakan pendekatan realisme struktural yang didalilkan John Mearsheimer bahwa saat ini ada 3 kubu, AS, Tiongkok, dan Rusia, ya bagus. Kalau bisa ada 5, 6, atau 8. Untung-untung Indonesia bisa menjadi salah satu kubu.
Sehingga dari perspektif ini kita melihat bahwa persenjataan adalah instrumen untuk memastikan perdamaian terjaga. Civis pacem para bellum. []
Artikel ini diambil dari closing statement Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, pada Focus GREAT Discussion bertema “Amerika Era Donald Trump dan Gejolak Geopolitik Multiblok di Ambang Perang” di Kantor GREAT Institute di Jakarta Selatan, Jumat, 30 Januari 2026.
