Video ini membahas polemik keputusan Presiden Prabowo Subianto untuk bergabung dengan Board of Peace (BoP) yang diluncurkan oleh Donald Trump di Davos. Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, memberikan analisis mendalam untuk meluruskan narasi negatif yang berkembang di publik Indonesia.
Berikut adalah poin-poin utama dari diskusi tersebut:
- Status BoP dalam Kerangka PBB: Teguh Santosa menegaskan bahwa Board of Peace bukanlah instrumen tandingan PBB. Sebaliknya, BoP adalah produk dari PBB yang lahir melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 2803 (November 2025) untuk mengadopsi comprehensive peace plan di Gaza (0:24-0:36, 3:55-4:36).
- Tujuan Perdamaian: Fokus utama BoP adalah mencapai fase negative peace atau situasi di mana kekerasan dihentikan (absence of violence) sebagai langkah awal sebelum menuju positive peace (7:12-8:03). Ini mencakup proses deradikalisasi, penarikan pasukan Israel, dan peletakan senjata oleh pihak yang bertikai (5:38-6:05, 8:40-9:36).
- Partisipasi Indonesia: Keputusan Presiden Prabowo dianggap konsisten dengan agenda perjuangan Palestina. Indonesia bergabung sebagai bentuk komitmen untuk menciptakan stabilitas dan perdamaian, bukan untuk menegasi peran PBB atau terlibat dalam zero-sum game (9:43-10:02, 11:55-12:12).
- Kritik Publik: Mengenai kritik yang muncul (termasuk dari tokoh seperti Dino Patti Djalal), Teguh Santosa memandangnya sebagai bentuk kepedulian masyarakat terhadap politik luar negeri. Ia menekankan bahwa kritik tersebut adalah hal yang wajar dan merupakan bagian dari apresiasi publik terhadap kebijakan pemerintah (0:00-0:14, 26:14-27:21).
- Kemandirian Keamanan: Indonesia saat ini menerapkan konsep inclusive security, di mana negara harus membangun kuda-kuda yang kokoh dan tidak hanya mengandalkan sistem internasional demi keamanan nasional (29:26-29:50).
