Herman Sarens Sudiro adalah tokoh yang eksentrik.
Setelah meninggalkan korps baju loreng, pensiunan jenderal bintang tiga ini mengurusi berbagai hal. Mulai dari olahraga menembak, berkuda dan tinju, sampai organisasi pemilik skuter. Dia juga mengelola hotel dan resor di sejumlah kota.
Nama Herman Sarens Sudiro mendadak jadi buah bibir setelah sejak dinihari tadi (Senin, 18/1) rumahnya di kawasan Serpong, Tangerang, dikepung anggota Pomdam Jaya yang hendak membawanya secara paksa menghadap Oditur Militer Tinggi Jakarta. Herman Sarens tersangkut kasus penggelapan aset berupa tanah. Sudah beberapa kali dipanggil, tetapi ia selalu menolak datang.
Banyak kisah yang meluncur dari mulut Herman Sarens. Salah satunya adalah kisah tentang keterlibatannya menggulung simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) menyusul peristiwa 30 September – 1 Oktober 1965.
Ketika peristiwa itu terjadi, Herman Sarens adalah Assiten Kastaf Koti.
Dengan bangga dia pernah bercerita dirinya menggiling 100 anggota PKI dengan tank.
“Seperti dulu, baru 7 orang PKI menculik dan mau mengubah Pancasila, seratus orang saya giling dengan tank. Saya dilindungi undang-undang untuk kelangsungan dari kedaulatan negara dan melindungi rakyat. Kenapa mesti takut. Kalau saya nggak peduli,” ceritanya seperti dimuat Tabloid AKSI, Oktober 1998.
Herman juga menyatakan keberatan atas penutupan penjara politik di Pulau Buru. Dia menyalahkan Jenderal Sudomo atas penutupan itu.

Andaikan itu betul apa yng diceriterakan oleh Bapak Gen itu, luar biasa degdayanya. Sampai 100 orang pki digiling, begitu saja. Mereka menyerah digiling, mereka menyerah digantung, mereka menyerah ditembak,mereka menyerah dianiaya. Mereka menyerah dipenjara dan setiap malam di bunuhin di pinggir sungai. Mereka menyerah apa yang dimilikinnya, anak isteri,suami, rumah pun didudukin. Itulah kehebatan sang general untuk menghancurkan bangsanya sendiri, sekaligus kita aminin.Hebat toh kita ini.
Hebat sekali bapak.
Hebatnya karena bapak menjadi seorang pembunuh yang biadab.
Yang membunuh mereka (PKI) yang sebenarnya ingin merubah konsep dan nasib negara ini.
Coba bandingkan sistem pemerintahan dan ekonomi indonesia dengan negara penganut paham komunis,siapa yang makmur dan sejahtera?
Bapak harus ketahui bahwa kehancuran komunis disaat itu adalah hasil fitnah dari soeharto yang ingin meraih jabatan presiden yang sementara dijabat soekarno.
Bapak terhegemoni oleh soeharto.
Penembakan dan pembunuhan saat itu bukan dilakukan oleh PKI.
Tapi dilakukan oleh orang-orang soeharto yang ingin jadi presiden.
Tapi apa kenyataannya?
Setelah jadi presiden,bukan memperbaiki taraf hidup rakyat tetapi menyengsarakan rakyat.
Menjual rakyat untuk mendapatkan pinjaman luar negeri yang masih menjadi mendiangnya untuk kita.
Padahal uang pinjaman tersebut hanya digunakan untuk pembangunan perusahaan pribadi.
Sejarah hutang negara yang kaya raya ini kepada bank dunia (world bank) adalah dari soeharto.
Padahal negara ini siap dan mampu untuk menghidupi rakyatnya lewat kekayaan alam yang melimpah.
Dan hutang pinjaman soeharto berbuntut sampai sekarang.
Coba lihat hasik kekayaan alam kita dihari ini bebas diambil oleh negara lain.
Itu yang harus jadi alas bapak biar nggak buta dalam melakukan sesuatu yang menurut pada hegemoni orang.
Akhir kata saya mengucapkan semoga bapak mendapatkan neraka karena telah membunuh orang-orang hasil fitnahan yang sebenarnya tidak bersalah.
Salam perjuangan.
Salam pemberontakan.
Ah itu kan fikiran pak Erick, tapi kita sebagai orang mukmin tidak begitu pak. Kita yang paling depan dulu membabatin komunis yang menyerah itu, yang tidak tahu apa2 itu. Dan sampai sekarangpun, kita sebagai orang mukmin yang masih mengorganiseer anti komunis. yaitu tadi kita adalah orang yang beradab didunia ini.Kita adalah bangsa yang konsekwen dan komitmen toh untuk membabat orang yang nggak bersalah. Masya Allah.
Jadi anda bangga sebagai orang yang membantai orang2 Komunis? mungkin karena hukum alam, sekarang orang2 Muslim yang dibantai!!
Kita harusnya berpikiran lebih jernih, kenapa dulu kita Bangsa Indonesia bisa terpedaya oleh sebuah permainan..
Sekarang bukan jamannya lagi kita bertengkar mengenai agama atau ideologi, tapi lebih baik kita melihat hati nurani dari orang itu, entah Islam atau Komunis..
Lha wong jaman sekarang yang namanya Islam bisa membantai sesama Islam, saya tidak berbicara mengenai Ahmadiyah saja, tetapi bagaimana pertengkaran Sunni dan Syiah masih ada sampai sekarang..