Krisis Sistemik Versi Boediono Hanya Fiksi yang Dilebihkan

Alasan krisis sistemik yang tetap digunakan mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono untuk membela diri di depan Pansus Centurygate dinilai sebagai cerita fiksi yang berlebihan.

Menurut Direktur Center of Banking Crisis (CBC) Deni Daruri penjelasan yang disampaikan Boediono, bahwa krisis finansial yang terjadi tahun 2008 lalu memiliki tingkat kerusakan yang sama dengan krisis tahun 1997-1998 adalah bagian dari upaya untuk mengaburkan berbagai fakta yang memperlihatkan, bahwa ada kepentingan jangka pendek di balik penggelontoran dana talangan untuk Bank Century.

Menurut Boediono, dalam keadaan krisis, bank sekecil apapun harus diselamatkan. Bank Century memang hanya memiliki kontribusi sebesar 0,5 persen terhadap perbankan nasional. Tetapi sekecil apapun sebuah bank, bila tidak diselamatkan akan menciptakan efek domino yang begitu parah. Boediono ketika diperiksa juga membandingkan dengan perlakuan pemerintah terhadap 16 bank yang ditutup menyusul krisis ekonomi satu dasawarsa lalu. Kata Boediono, secara total, besar ke-16 itu hanya sekitar dua persen.

Boediono juga menyebutkan ketika krisis sepuluh tahun lalu nilai tukar uang Rupiah terhadap Dolar AS sebesar Rp 17 ribu. Sementara tahun lalu mencapai Rp 12 ribu.

Nah, menurut Deni, inilah salah satu fiksi yang direka oleh Boediono. Menurutnya, krisis tahun 1997-1998 sama sekali berbeda dengan krisis 2008. Di tahun 1997-1998 dampak sistemik dilahirkan oleh situasi makro yang sudah tidak mendukung lagi. Kunci utamanya terkletak pada kejatuhan rezim Orde Baru dan pengunduran diri Soeharto, sesuatu yang tidak terbayangkan sebelumnya. Tanpa penutupan ke-16 bank itu, dampak sistemik memang akan terjadi. Apalagi pertumbuhan pembangunan ketika itu sudah minus 32 persen.

Keadaan itu jelas berbeda dengan keadaan di tahun 2008. Angka pertumbuhan jelas tidak mencapai titik minus. Benar bahwa nilai tukar rupiah mencapai Rp 12 ribu. Tetapi yang perlu diingat, angka itu naik dari sebelumnya sekitar Rp 9 ribu. Berbeda dengan saat krisis 1997-1998 dimana nilai tukar Rupiah anjlok dari sekitar Rp 2 ribu menjadi Rp 17 ribu.

Leave a comment