Media Massa Asing Bandingkan dengan Krisis 1998

Sejak beberapa hari terakhir konflik “cicak melawan buaya” mulai ramai dibicarakan berbagai media massa asing. Bahkan ada yang membandingkan gelombang demonstrasi saat ini dengan people power yang terjadi di tahun 1998.

BBC News Service edisi 6 November lalu, misalnya, menuliskan, kini masyarakat Indonesia tengah berjuang melawan korupsi dengan people power lewat demonstrasi yang semakin marak. Disebutkan, bahwa ini adalah demo yang cukup besar, yang terjadi di banyak titik setelah penggulingan Soeharto, Mei 1998.

Begitu juga dengan Asia Times Online edisi 7 November lalu. Dalam tulisan berjudul “Bom Korupsi Meledak di Indonesia”, Asia Times menuliskan, “hanya beberapa saat sejak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dilantik, protes marak terjadi di Jakarta dan kota-kota lain.”

Majalah terkemuka The Economist pun tak ketinggalan. The Economist menyoroti kasus ini dalam beberapa edisi. Dalam edisi 5 November lalu, majalah ini menurunkan tulisan berjudul “The Gecko Bites Back” atau “Sang Cicak Menggigit Balik” dengan subjudul “Yudhoyono: Second Term, First Crisis”.

“Setelah menyusun tim investigasi, Mr Yudhoyono berjanji akan memegang teguh supremasi hukum. Tetapi belum jelas apakah dia dapat mengendalikan krisis. Dia dikenal sebagai tokoh yang gemar berbagi kekuasaan dan mengambil jalan konsensus. Tetapi dalam kasus ini, bagaimanapun juga, publik menginginkan konfrontasi yang tegas (untuk menegakkan hukum),” tulis The Economist.

Sementara di dalam negeri semakin banyak pihak yang menilai bahwa krisis politik yang terjadi belakangan semakin menjadi karena Presiden SBY pun terkesan membiarkan.

Ketua Tim Independen Verifikasi Fakta dan Proses Hukum atas Kasus Bibit dan Chandra atau yang dikenal dengan nama Tim Delapan, Adnan Buyung Nasution, di Jakarta, kemarin (Rabu, 11/11) ikut mempertanyakan sikap diam SBY. Kata anggota Wantimpres ini, mestinya tanpa diminta rakyat atau Tim Delapan, hati SBY tergerak dan mengambil langkah dengan cepat dan tanggap untuk menyelesaikan masalah ini. ”Presiden seharusnya tergerak hati untuk paling tidak mempertanyakan apa yang terjadi di negeri ini. Apa yang salah dengan bangsa ini. Bagaimana nasib Republik Indonesia dan mau dibawa ke mana negara ini,” demikian Buyung.

“Bagaimana nasib Republik ini kalau begini terus menerus?” tanya Buyung.

Leave a comment