
Mabes Polri sedang kesulitan mencari jalan keluar untuk menyelesaikan kekisruhan di Jalan Trunojoyo setelah rekaman pembicaraan antara Anggodo Widjaja dengan sejumlah pihak diputar dalam persidangan Mahkamah Konstitusi (MK) hari Senin lalu (2/11).
Foto diambil dari Rakyat Merdeka (6/11/2009)
Di satu sisi, Polri memahami desakan yang disampaikan masyarakat agar pimpinan Polri bersikap tegas terhadap Kabareskrim Komjen Susno Duadji yang namanya disebut-sebut dalam rekaman pembicaraan itu. Selain dianggap sebagai pihak yang menarik pelatuk konflik antara Polri dengan Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) –lewat pernyataan cicak lawan buaya–, Susno dalam rekaman tersebut juga tergambar sebagai petinggi Polri yang berperan dalam penahanan pimpinan KPK, Bibit Samad Rianto dan Chandra M. Hamzah.
Tetapi, di sisi lain, Polri sampai sekarang belum menemukan bukti yang cukup mengenai keterlibatan Susno itu.
Apa bukti yang cukup kuat itu?
Tidak ada satu pun rekaman pembicaraan antara Anggodo dengan Susno. Yang ada hanya rekaman pembicaraan antara Anggodo dan pihak lain yang kemudian menyebut-nyebut nama Susno –yang terkadang disebut sebagai Trunojoyo Tiga.
Di mata petinggi Polri, pernyataan-pernyataan yang membawa nama Susno, seperti juga membawa nama Presiden SBY, hanya sekedar bluffing atau gertak sambal yang biasa digunakan dalam urusan tawar menawar dengan maksud menaikkan harga dan seterusnya. Dan menggeser Susno hanya karena opini publik sudah terbentuk sedemikian rupa dianggap sebagai entertainment yang tidak perlu.
Keinginan Susno untuk mundur, menurut informasi yang diterima Rakyat Merdeka Online, sebenarnya telah diutarakan kemarin (Rabu. 4/11). Hal ini diperoleh dalam sebuah pembicaraan yang juga dihadiri seorang perwira tinggi Polri yang sedang bertugas di luar Jakarta. Perwira tinggi ini –yang disebut sebagai the rising star di kalangan teman seangkatannya– sepanjang hari kemarin bersiap siaga di sekitar Semanggi.
Awalnya, disebutkan bahwa Susno akan mengundurkan diri Rabu siang. Tetapi entah mengapa, pengumuman pengunduran diri itu diundur. Menurut rencana berikutnya, Susno akan mengumumkan pengunduran dirinya hari Jumat (6/11). Tetapi tadi pagi, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri mengumumkan pengunduran diri Susno sebelum mengikuti rapat dengan Presiden SBY.
Walau telah menerima pernyataan pengunduran diri Susno, namun Kapolri belum bisa mengambil keputusan untuk menunjuk pejabat penggantinya. Hal ini, sekali lagi, karena Kapolri belum menemukan bukti yang cukup kuat, seperti yang disebutkan di atas.
Di luar pagar Trunojoyo, kelompok prodemokrasi dan pendukung KPK percaya sepenuh hati bahwa Susno dan bahkan Kapolri punya peranan di balik upaya kanibalisasi KPK ini. Penanganan masalah ini yang dibiarkan berlarut-larut membuktikan bahwa ada kolusi dan kongkalikong di lapisan atas Polri. Dengan demikian, untuk mengembalikan kepercayaan publik dan sebagai bukti kuat komitmen Polri, maka Susno harus mundur. Tidak itu saja, supaya publik lebih yakin dengan komitmen itu, Kapolri pun diminta ikut mundur.
Inilah dilemanya.
