
SEDIKIT bergeser dari hingar bingar usai Pemilu 2009.
Menyambut tanggal 21 April saya menuliskan catatan singkat berikut di dinding Facebook.
“Mengikuti perdebatan Hari Kartini, Hari Cut Nyak Dhien, dan selanjutnya dan seterusnya sambil mengelus dada. Well, masih seperti biasa, sejarah adalah catatan raja-raja dan kelas bangsawan sahaja.”

Seorang teman, Saleh P. Daulay yang sedang di Colorado, memberi komentar:
“Sejarah jenis ini sudah lama ditinggalkan bung. Format sejarah kontemporer adalah sejarah mentalitas. Nah, memperingati hari Kartini harusnya pakai pendekatan sejarah mentalitas bukan sejarah tradisional yang dituturkan seperti cerpen atau prosa.”

Untuk melengkapi komentar Saleh, saya menanggapi sebagai berikut:
“Bung Saleh, mengurut dada itu tanda gelisah. Pendekatan atau model sejarah para raja dan bangsawan ini belum ditinggalkan. masih banyak penganutnya. dan itu yang membuat saya risau dan galau.
Begini: kritik kerap dialamatkan pada Hari Kartini, dan ia dianggap sebagai bagian dari (re)konstruksi sejarah (kepentingan) Jawa. mengapa harus Kartini (Jawa), mengapa bukan Dewi Sartika (Sunda), atau Cut Nyak Dhien (Aceh), atau Martha Christina Tiahahu (Maluku)? Dan sebagainya dan seterusnya.
Para pengkritik ini menurut hemat saya pada dasarnya juga menggunakan pendekatan yang sama, hanya menawarkan tokoh yang berbeda.
Sejarah kaum kawula [kata kawula ini bahasa jawa, tolong dicari padanannya dalam bahasa-bahasa daerah yang lain bila perlu…] tampaknya belum lagi mendapat ruang yang cukup.
Bicara tentang sejarah mentalitas, saya sepakat. tapi ada baiknya dipastikan dulu bahwa ia bukanlah mentalitas kaum *raja-raja* yang diperanakpinakan dalam lingkungan *istana* dan kuasa kacamata kuda.”

Saleh kembali menanggapi:
“Saya memahami konteks kegelisahan Anda itu. Dalam konteks itulah sejarah mentalitas ini perlu disyiarkan lebih luas.
Sejarah mentalitas tidak berurusan dengan persoalan raja-raja. Sejarah mentalitas adalah sejarah yang membebaskan dalam artian tidak terikat dengan momentum-momentum besar (seperti perang, perpindahan kekuasaan, penaklukan) dan kronologi sebuah peristiwa. Sejarah mentalitas justru bisa saja beranjak dari peristiwa sederhana yang mengubah mentalitas orang-orang yang mengalami peristiwa itu.
Agar kegelisahan yang Anda alami itu tidak semakin besar, marilah kita bersama-sama untuk mengkampanyekan pengajaran sejarah mentalitas di sekolah-sekolah kita. Dengan begitu, sejarah tidak lagi diajarkan seperti dongeng, tetapi lebih dari itu diarahkan pada upaya pembangunan mentalitas dan karakter anak didik.”
Terakhir saya tutup dengan:
“Sepakat, bila yang anda maksud adalah sejarah yang dilahirkan oleh mentalitas dan semangat perlawanan kaum tertindas.”
Foto-foto dalam catatan dinding ini dipinjam –maaf tanpa ijin– dari beberapa tempat (ini, ini, ini dan ini), sebagai ilustrasi.
