MENTERI Luar Negeri Amerika Serikat Hillary Rodham Clinton telah berangkat meninggalkan tanah airnya menuju empat negara Asia.
Ini adalah kunjungan kenegaraan pertama Hillary setelah ia dilantik menjadi menteri luar negeri negara adidaya itu.
Negara pertama yang dikunjungi mantan the first lady ini adalah Jepang. Setelah itu ia akan berangkat menuju Korea Selatan, Republik Rakyat China dan Indonesia.
Indonesia adalah negara terakhir yang masuk dalam daftar kunjungan Hillary. Presiden AS Barack Hussein Obama, Jr. yang meminta agar Hillary memasukkan Indonesia dalam rencana kunjungannya ke Asia.
Seperti kata Wapres AS Joe Biden saat bertemu Wapres Indonesia Jusuf Kalla dua pakan lalu (4/2), Indonesia dipandang penting karena merupakan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia sekaligus merupakan negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia.
Pemerintah AS, seperti dikatakan Joe Biden, merasa yakin Indonesia dapat memainkan peranan penting dalam membangun perdamaian dan keamanan di kawasan Timur Tengah dan negara-negara Muslim lainnya.
Joe Biden juga meminta kesediaan pemerintah Indonesia untuk bersama-sama menyusun cetak-biru perdamaian di Timur Tengah dan membantu memperbaiki hubungan Amerika Serikat dengan dunia Islam.
Namun sejauh ini belum ada tanda-tanda Hillary akan membawa agenda itu dalam kunjungannya ke Indonesia.
Saat berbiacara di forum Asia Society di New York, hari Jumat lalu (13/2), Hillary sama sekali tidak menyinggung posisi dan peranan Indonesia sebagai negara Muslim. Hillary lebih banyak berbicara soal peningkatan hubungan di bidang ekonomi dan energi, selain pendidikan.
Hillary mengatakan seperti negara-negara lain, Indonesia juga tak terhindar dari krisis finansial global yang tengah terjadi.
“Volume ekspor Indonesia jatuh 20 persen dalam bulan Desember, begitu juga dengan perkiraan pertumbuhan negara itu,” kata Hillary.
Pada bagian lain Hillary mengatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara Asia yang paling dinamis.
“Enerji dan spirasi manusia Indonesia bersatu mendorong negara itu ke arah sistem pemilihan umum yang bebas, pers yang bebas, civil society yang sehat, serta memberikan kesempatan pada wanita untuk terlibat aktif di pemerintahan,” demikian Hillary.
