SUDAH dua hari, Wapres Jusuf Kalla terlambat pulang ke Tanah Air. Di negara mana JK berada masih misterius. Padahal, kader Golkar di daerah sedang harap-harap cemas menunggu surat penjaringan capres.
JK pergi ke luar negeri sejak 31 Januari lalu. Menurut jadwal, kunjungan JK ke empat negara: Jepang, AS, Belgia dan Belanda itu akan berakhir Rabu, 12 Februari.
Dikutip dari Koran <i>Rakyat Merdeka</i>, edisi Sabtu, 14 Februari 2009.
Keberadaan JK di luar negeri masih terekspos ke publik saat dia bertemu PM Belanda Jan Peter Balkenende di kediaman Cat Huis Den Haag, Belanda, Sabtu (7/2). Tapi, hari itu juga, sekitar pukul 12.00 waktu Belanda, JK sudah take off pakai pesawat charter dengan diantar Dubes RI untuk Belanda JE Habibie.
Dimanakah JK? Staf Khusus Wapres, Alwi Hamu memastikan, tadi malam, JK baru take off menuju Tanah Air. Tapi, dia tidak mau kasih tahu dimana tempat JK singgah. “Pak JK dalam perjalanan pulang kembali ke tanah air. Dijadwalkan, Minggu (besok) pagi sudah berada di Jakarta,” kata Alwi Hamu kepada Rakyat Merdeka, tadi malam.
Keberadaan JK di luar negeri juga tak bisa diketahui Departemen Luar Negeri. “Kami belum tahu. Saya harus cek dulu ya,” ujar Jurubicara Deplu, Teuku Faizasyah, saat konferensi pers di Kantor Deplu, Jalan Pejambon, Jakarta, kemarin.
Faiza menjelaskan, bahwa tiap kali presiden dan wakil presiden melakukan kunjungan ke luar negeri, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di negara bersangkutan akan memberikan laporan ke Deplu.”KBRI akan memberi laporan. Laporan kegiatan di Tokyo, dan Washington sudah ada. Tapi Belgia dan Belanda belum. Nanti kami cek lagi,” tambah Faiza.
Namun, Jurubicara Kepresidenan Andi Mallarangeng memastikan, molornya kunjungan dinas JK di luar negeri sudah sepengetahuan Presiden SBY. Presiden juga, kata Andi telah memberikan izin kepada JK untuk memperpanjang masa dinasnya. Jadi benar JK sudah dapat izin Presiden? “Iya benar,” kata Andi Mallarangeng di kantor Kepresidenan, kemarin.
Andi Mallarangeng menolak memberitahukan keberadaan JK. “Kalau soal itu, kita tidak berani komentar. Silakan saja tanya orang wapres,” elak pria berkumis tebal ini.
Press Officer Wapres JK, Muchlis Hasyim memberikan keterangan kenapa JK telat pulang. Kata dia, JK masih ada urusan penting di luar negeri, tapi sudah melaporkan ke SBY.
Muchlis yang sudah tiba di Jakarta setelah ikut JK ke luar negeri, enggan membeberkan agenda penting yang dimaksud. Termasuk dimana keberadaan JK saat ini.
Muchlis heran, kenapa keterlambatan pulang JK dibesar-besarkan. “Terlambatnya kan dua hari, bukan seminggu. Mengapa dibesar-besarkan. Lagian, beliau sudah meminta izin dari Presiden dan Presiden mengizinkan,” tegas Muchlis.
Menurut Muchlis, keberadaan JK di luar negeri semata-mata hanya urusan pribadi. Kebetulan di sana keluarga sedang berkumpul, istri dan anak-anaknya. Setibanya di tanah air, Muchlis mengatakan, JK akan menggelar jumpa pers, tapi tak mau disebutkan materi apa yang akan disampaikan JK nanti.
Sementara itu, Sekjen Golkar Sumarsono mengatakan, setelah dari Belanda, JK terbang ke Amerika,lalu pulang ke Indonesia.’’Perjalanannya (Amerika ke Indonesia, Red.) kan 14 jam. Jadi mungkin beliau sampai di Indonesia Minggu pagi,’’ kata Sumarsono, kemarin.
Menurut Sumarsono, molornya jadwal kunjungan itu sudah seizin presiden. Karena itu, dia menganggap molornya kepulangan JK bukan menjadi masalah. Meski begitu, Sumarsono tak bisa mengatakan apa yang membuat kunjungan JK molor. ’’Itu kan bukan porsi saya. Lagipula, itu sudah internal kenegaraan. Jadi, saya tidak tahu menahu,’’ katanya.
Sumarsono menambahkan, agenda yang menunggu JK di Indonesia sudah cukup banyak. Yang paling ditunggu adalah persiapan rapat konsultasi nasional pada 18 Februari.
“Sebagai pimpinan partai, begitu beliau datang kami akan laporkan berbagai perkembangan yang terjadi. Beliau kan harus tahu. Tapi kalau soal capres, itu jelas menunggu pemilu legislatif. Sekarang masih survei,’’ katanya.
Keberadaan JK yang misterius memunculkan spekulasi. Apakah JK sakit? Atau sengaja mengulur-ulur waktu karena tak mau menandatangani surat penjaringan capres Golkar?
Menteri Hukum dan HAM Andi Mattalatta menilai sangat mungkin jika di perjalanan JK sakit. “Beliau kan ke Jepang, Amerika lalu ke Belgia, bisa saja dalam perjalanannya dia demam,” kata Andi yang juga pengurus Golkar ini, di Gedung Depkum HAM, Jakarta, kemarin.
Menurut Andi, kemungkinan Ketua Umum Partai Golkar itu sakit, bisa saja. Sebab JK menempuh perjalanan jauh dalam lawatannya serta cuaca di setiap negara yang dikunjungi berbeda-beda.”Saya saja kalau ke Makassar 2 hari kadang suka gitu. Apalagi ini perjalanan jauh dari daerah panas tiba-tiba masuk ke daerah dingin. Kalaupun dia sakit mungkin saja,” jelasnya.Memang JK sakit apa? “Waduh saya nggak tahu,” kata Andi singkat.
Soal penjaringan capres Golkar, orang dekat JK, Muchlis Hasyim dan Alwi Hamu membantah, jika JK sengaja pulang terlambat untuk menjegal penjaringan capres.
“Nggak ada urusan dengan itu. Ini kebetulan saja beliau di sana untuk pribadi. Sekali-kali boleh dong, beliau juga kan manusia,” kata Muchlis.
Hal yang sama disampaikan Alwi Hamu. “Jangan kaitkan keberadaan JK di luar negeri dengan Golkar. Harus dilihat siapa itu JK, beliau adalah politisi santun dan dia tidak punya pikiran politicking dengan yang lain,” kata Alwi, tadi malam.
Terkait molornya kepulangan JK, Wasekjen Golkar Rully Chaerul Azwar memastikan tak akan mengganggu agenda rapat konsultasi nasional yang akan digelar 18 Februari.
Dia juga membantah, JK sengaja mengulur-ulur waktu menandatangani surat penjaringan capres ke daerah. “Tidak ada kaitannya itu. Surat itu tidak harus ditandatangani ketua umum, karena sifatnya pemberitahuan. Lagi pula, DPD-DPD sudah tahu mengenai inventarisasi nama-nama capres itu, meski surat tidak dikirimkan,” kata Rully, kemarin.
Menurut Rully, DPD-DPD sudah diingatkan secara lisan mengenai inventarisasi nama capres. Namun, sebenarnya tanpa diberitahu, DPD-DPD sudah memahaminya, karena hal ini merupakan amanat rapimnas tahun lalu. Bahkan, sebagian DPD sudah mengirimkan sejumlah nama capres yang telah disurvei. Rully juga menjelaskan bahwa tidak ada kaitan inventarisasi capres dengan Rapat Konsultasi Nasional (Rakonsulnas) yang akan digelar 18 Februari 2009 di DPP Partai Golkar.
“Rapat Konsultasi Nasional bukan forum pengambilan keputusan, hanya rapat informal saja antara PK JK, DPP dan DPD I,” ujar dia.
Karena itu, tak ada kaitan antara molornya lawatan JK ke luar negeri dengan Rakonsulnas. Yang jelas, kata Rully, jika JK sudah tiba di Indonesia, surat itu akan diserahkan kepada JK untuk ditandatangani. Bila sudah diteken, baru akan dikirimkan ke DPD-DPD.
“Jadi, hingga sekarang surat yang ramai di media ini belum dikirimkan ke DPD-DPD. Sebenarnya bisa saja Pak Agung Laksono tanda tangan. Namun karena sudah menjadi kontroversi, Pak Agung menunggu Pak JK pulang,” kata Rully.
Ditambahkan, deadline inventarisasi nama capres itu masih lama, akhir Februari 2009. Jadi, proses inventarisasi nama capres itu tidak berakhir menjelang rakonas. “Inventarisasi capres itu baru akan dibahas dalam rapimnas khusus yang akan digelar setelah pemilu legislatif,” terang Rully.
Sementara itu, anggota Komisi I DPR Yusron Ihza Mahendra menilai, jika molornya kedatangan Wapres mengganggu jalannya pemerintahan, maka DPR berhak menanyakan ke JK. “Sesuai fungsi kontrol, DPR bisa menanyakan kenapa bisa molor,” kata Yusron.

mentang-mentang lg sibuk mencalonkan pilpres, seenaknya saja mengenyampingkan masalah pemerintahan. baru jadi wapres aj udah kaya begitu, apa lagi sampe jadi presiden. mau jadi apa negara ini, jika pemimpinnya nanti lebih mementingkan diri sendiri. apa harus rakyat terus yang akan menjadi korban keegoisan para elit politik?……….