Sepinya hati Garuda/Dijunjung tanpa jiwa/Menjadi hiasan maya/Oleh hati yang hampa//Dendam tanpa kata/Mendalam luka Garuda/Disayangi tanpa cinta/Dipuja tapi dihina//
Itulah sepenggal lagu karya Emha Ainun Nadjib, yang akan dilantunkan oleh Novia Kolopaking dalam pementasn ‘Tikungan Iblis’ di Gramedia Expo Surabaya, 19 November 2008.
Publik budaya Surabaya akan disuguhi kolaborasi Teater Dinasti Jogjakarta dengan kelompok musik Kiai Kanjeng, di Gedung Gramedia Expo, 19 November. Pertunjukan yang dimulai pukul 20.00 itu membawakan lakon ‘Tikungan Iblis’ karya budayawan Emha Ainun Nadjib.
Pementasan yang diselanggarakan Komunitas Bang Bang Wetan (BBW) dan Dewan Kesenian Surabaya (DKS) ini merupakan bagian dari tur Teater Dinasti ke sejumlah kota , setelah Agustus lalu tampil perdana di Taman Budaya Yogyakarta .
Apa yang akan ditawarkan Dinasti sekarang melalui Tikungan Iblis?
Bangsa Indonesia telah mengalami degradasi nilai-nilai secara eksistensial dan dignity (martabat) dari bangsa yang dicitrakan sebagai burung Garuda menjadi burung emprit. Tesis itu dituangkan dalam narasi yang mengisahkan perjalanan eksistensial manusia dari awal penciptaan manusia Adam hingga umat manusia berkembang biak dan membangun peradaban.
Iblis –yang sejak awal manusia diciptakan sudah tidak percaya bahwa manusia mampu menjadi khalifah di bumi– akhirnya membuktikan ketidakpercayaannya itu: hidup manusia hanya berkisar dari tiga kata kunci, yaitu rakus, merusak bumi, dan saling berbunuhan. Umat manusia ternyata tak lebih menjadi sekadar ”tapel” –sebuah terminologi elementer manusia yang artinya sekadar wadag/jasad.
Tapel bergerak dan beraktualisasi diri lebih didasari insting daripada hati nurani dan akal sehat.
Kekurangmampuan untuk meningkatkan kualitas diri membuat bangsa kita mengalami kemerosotan martabat. Padahal, bangsa kita memiliki genetika unggul sebagai Burung Garuda sejati yang memiliki kemampuan untuk terbang, menerkam, dan berjuang (ingat sejarah kebesaran Dinasti Syailendra, Majapahit, Sriwijaya, dan lainnya). Namun, karena Garuda itu kemudian dikurung oleh kekuatan yang menindas (baca kolonialisme) , maka burung itu tidak lagi memiliki kemampuan dasarnya. Yang menyedihkan adalah anak-anak, cucu, dan cicit Garuda itu. Mereka bukan hanya tidak bisa terbang atau menerkam tapi memang tidak lagi memiliki memori untuk terbang dan menerkam.
Lakon ini menginspirasi kita bahwa masih ada peluang bagi bangsa ini untuk menjadi kelas bangsa Burung Garuda yang memiliki martabat, kewibawaan, kemuliaan, dan kebesaran; bukan hanya menjadi bangsa kelas emprit yang tidak diperhitungkan bangsa-bangsa lain. Saatnya martabat itu harus direbut. (*)
‘TIKUNGAN IBLIS’
Teater Dinasti.
Penulis Naskah: Emha Ainun Nadjib
Tim Sutradara: Jujuk Prabowo, Fajar Suharno
Parampara/supervisor/kontributor gagasan: Emha Ainun Nadjib, Indra Tranggono, Simon Hate, Toto Rahardjo, Fauzie Ridjal
Penata Musik: Bobiet Santoso
Art Director/Multimedia: Ipung Way Ming
Para Pemeran
Joko Kamto (Smarabhumi/ Iblis), Novia Kolopaking (Siti Majnunah), Novi Budianto (Prawiro), Setheng (Prawijo), Chithut DH (Prawito), Kumbo Makumbo (Prawidi), Joko Kusnun (Prawikun), Fajar Suharno (Maula Hasarapala), Bambang Sosiawan (Maula Hajarala), Tertib Suratmo (Maula Jabarala), Untung Basuki (Maula Makahala), Jujuk Prabowo (Khabil), Jijit (Qabil), Jemek Supardi (Tapel), Agung Gareng (Tapel), Toro Marhen (Tapel), Irfan (Tapel), Whieka M (Tapel), Rina (Tapel), Delvi (Tapel), Delina (Tapel), Riska (Tapel), Ve (Tapel), Shelly (Tapel), Ratri (Tapel). Pemain Anak-anak: Hayya, Jembar, Dimas, Tido, Lintang, Krisna
Tim Produksi
Pimpinan Produksi: Ahmad Syakurun Muzakki
Manajer Produksi: Eko Nuryono
Bendahara: Muh Zaenuri
Seksi Publikasi: Helmi Mustofa, M. Sholahuddin
Seksi Transportasi: Agus Santoso
Seksi Perlengkapan: Godor Widodo
Seksi Keamanan: Rahmat Mulyono Seksi Latihan : Jujuk Prabowo
Konfirmasi Acara
Cak Rahmat
0817370899

jakarta juga ada tanggal nanti,… wah saya ndak sabar pengen liat
Pentas Kebahagiaan Teater Dinasti “TIKUNGAN IBLIS” karya: Emha Ainun Nadjib, Selasa 30 Desember 2008 di GBB TIM Cikini. Saatnya Mendengar Kritik Iblis. …. HANYA SATU MALAM ….. http://www.tikunganiblis.com