KEBIJAKAN pemerintah mendistribusikan Bantuan Langsung Tunai (BLT) sama sekali tidak mendidik.
Menurut Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, kebijakan yang diputuskan pemerintahan SBY sebagai kompensasi bagi rakyat miskin atas kenaikan harga BBM tersebut sebetulnya justru mengajarkan rakyat Indonesia untuk hidup sebagai pengemis.
“BLT ini sebetulnya membuat mental bangsa kita menjadi peminta-minta,” kata Mega di depan peserta Rapat Kerja Nasional (Rakernas) III PDIP di Hotel Clarion, Makassar, siang ini (Selasa, 27/5).
“Ya terang saja lho. Memangnya pemerintah Republik Indonesia itu adalah Sinterklas?” tanya istri Taufiq Kiemas ini sambil menjelaskan bahwa Sinterklas adalah simbol “kebaikan” dari negara Barat.
Dia mengatakan betapa hatinya risau melihat rakyat Indonesia yang miskin masih diajarkan untuk hidup jadi pengemis.
“Rakyat kita dibuat seperti itu, kemana harga dirinya, kalau dia dipaksa meminta-minta, menunggu secarik kertas, lalu ditukarkan. Saya melihat gambarnya di media, alangkah sedihnya hati saya. Seorang nenek yang ompong tertawa hanya karena mendapatkan secarik kertas yang jumlahnya hanya seratus ribu,” sebut Mega lagi.
Dia mengatakan dirinya tidak sedang mendramatisir kesulitan yang dihadapi rakyat miskin Indonesia.
“Setelah itu, apa yang akan dia terima? Berapa lama pemerintah akan mampu bertahan memberikan yang namanya whatever,” sambung dia.
Dia juga mengatakan dirinya senang karena masih ada kepala daerah yang menolak BLT. Rasa senang itu, sambung Mega, bukan karena dirinya berada di luar lingkaran kekuasaan. Tetapi karena penolakan itu memperlihatkan bahwa hari ini masih ada pemimpin daerah yang memikirkan masa depan rakyat.
“Awas ya kalau saya dengar, ada kader PDIP yang meminta-minta BLT,” tegas Mega disambut tepuk tangan kader PDIP.
Pada bagian lain, Mega pun mengutip petikan lagu Iwan Fals untuk menggambarkan persoalan kemiskinan yang semakin merebak dan .
BBM naik tinggi, susu tak terbeli. Orang pintar tarik subsidi, anak kami kurang gizi, dendang Mega.
“Ini bukan saya lho. Ini Iwan Fals lho.”
Menaikkan harga BBM dengan retorika bahwa subsidi BBM lebih menguntungkan orang kaya yang punya kendaraan daripada petani, nelayan, dan rakyat miskin, adalah wacana yang harus ditelaah secara kritis, sebut Mega lagi.
Dia mengkritik keras pemerintahan SBY yang telah menaikkan harga BBM sebanyak tiga kali dalam beberapa tahun terakhir. Kenaikan pertama sebesar 30 persen tanggal 1 Maret 2005, lalu hampir 100 persen pada tanggal 1 Oktober 2005, dan terakhir sekitar 30 persen tanggal 24 Mei 2008.
Fakta memperlihatkan bahwa secara linear tingkat kemiskinan dan pengangguran di Indonesia malah semakin tinggi.
Lha, bukankah dulu saat berkuasa Mega pernah menaikkan harga BBM?
Benar. Dan dalam pidatonya, Mega menyinggung hal itu: kenaikan harga BBM di tahun 2003. Tanpa merinci lebih jauh, Mega mengatakan, kebijakan pemerintahannya menaikkan harga BBM ketika itu dilakukan dengan pertimbangan yang masak mengenai kemampuan daya beli rakyat.

Saya heran dengan Pemerintah. Memangnya Pemerintah tidak belajar dari yang lalu? Ada yang sampai meninggal karena antri BLT atau setelah menerima BLT langsung ke pasar beli baju? Kemudian setelah dapat BLT lalu apa?
Apa karena BLT ini Pemerintah berharap mendapat popularitas untuk Pemilu 2009? Bah, demi popularitas mengorbankan rakyat untuk bermental pengemis. Egois.