Mendadak SMS dari Wapres Ucup Kelik

TUMBEN, malam ini Ucup Kelik mengirimkan sebuah SMS. Bunyinya singkat saja.

“Saksikan aksi Wapres Ucup Kelik di acara Democrazy malam ini di MetroTV pukul 21.05 WIB. Thx.”

SMS itu dikirim pukul 20:58:28 waktu Jakarta.

Sayang sekali, saya tak bisa mengakses MetroTV lagi. Di JumpTV kini ia sudah berbayar. Jadi untuk sementara tunggu versi Youtube-nya saja.

Kelik bukan nama baru dalam dunia parodi politik di Indonesia –yang memang baru seumur jagung. Ia mengawali kariernya di panggung politik-politikan bersama Effendy Ghazali di Republik BBM yang ditayangkan Indosiar. Setelah pindah rumah ke MetroTV dan berubah kulit jadi Republik Mimpi, Kelik dan Ghazali malah pecah kongsi. Kelik dipecat setelah beberapa kali rekaman untuk MetroTV.

Saya sempat menghubungi Kelik saat itu. Kata Kelik, dia mau istrirahat dulu dari “panggung politik.”

Rupanya sekarang Kelik balik kandang ke MetroTV setelah Ghazali hengkang (atau dihengkangkan?).

Saya mendengar dari salah seorang (mungkin bisa disebut) pejabat redaksi MetroTV bahwa pimpinan MetroTV (sudah gak perlu disebut lagi kan…) tidak suka dengan gaya Ghazali yang mudah membawa urusan personal ke wilayah politik. Kasus terakhir berkaitan dengan cek bodong Rp 200 juta yang diterima Jarwo Kwat dalam acara Kampoeng Bola tahun 2006 lalu.

Kasus itu sebetulnya sederhana saja. Pergelaran Kampoeng Bola di Parkir Timur Senayan Juni-Juli 2006 memang berantakan. Maklum, EO-nya bonek alias bondo nekat, modal kolor doang, kata teman-teman yang ikut sibuk mikirian Kamboja (Kampoeng Bola Jahanam) sebulan suntuk (benar-benar suntuk). Banyak order yang tak terbayar. Sementara pihak-pihak yang awalnya berjanji akan memberi kontribusi, ternyata omdo, omong doang.

Saking parahnya acara Kamboja itu, pada suatu tengah malam saya pernah dihubungi panitia, dimintai bantuan untuk menyelamatkan acara. Bantuannya tidak gede-gede amat, hanya Rp 2 juta. Untuk apa? Untuk beli solar buat listrik. Gila gak tuh, hanya untuk listrik satu malam saja mereka gak punya uang. Edan, benar-benar modal kolor doang.

Kalau saja kami tak punya stand disana, saya ogah juga balik kanan, mutar-mutar cari ATM. Untunglah yang dua jeti ini kembali. Ada yang diutangin puluhan bahkan ratusan jeti gak kembali. Entah bagaimana penyelesaiannya.

Nah, tetapi di tangan Ghazali, kasus yang kecil ini jadi komoditas politis. Ia mencitrakan seolah-olah ada rekayasa politik tingkat tinggi yang dilakukan kekuatan politik tertentu untuk merusak acaranya. Ghazali pun beraksi. Dia boyong rame-rame kru Republik BBM ke DPR, dia politisir habis pokoknya.

Kelakuannya ini, yang kata (orang yang dapat disebut) salah seorang pejabat redaksi MetroTV bikin geram si pemilik TV.

Sejauh ini, dari yang saya dengar persoalannya tidak serius-serius amat. Hanya dibikin rumit sedikit agar tampak serius.

Singkatnya, selamat datang kembali Ucup Kelik.
(Sorry, saya tidak tahu pasti, jangan-jangan sudah episode kesekian ini…)

One Reply to “”

Leave a comment