Di Hawaii, Indonesia Tetap Tekan Amerika

Pihak Indonesia terus menekan pemerintah Amerika Serikat agar segera meratifikasi Protokol Kyoto dan menjadikannya produk hukum negara adidaya itu.

Masnellyati Hilman, ketua delegasi Indonesia dalam Major Economies Meeting on Energy Security and Climate Change yang digelar di Honolulu, Hawaii, mengatakan pihak Indonesia sangat berhati-hati dalam menanggapi setiap usul yang disampaikan oleh Amerika Serikat dan negara maju dalam pertemuan ini.

“Ada beberapa pernyataan dan usul mereka yang memperlihatkan seolah mereka ingin melanjutkan hasil-hasil yang diputuskan dalam Climate Change Conference di Bali, tetapi kami sangat berhati-hati. Draft yang mereka bikin sejauh ini sangat umum sekali. Kita belum tahu arahnya mau kemana. Butuh pembicaraan detil lebih lanjut,” urai Nelly usai bertemu mahasiswa Indonesia di kompleks East West Center, Honolulu, Kamis petang (31/1) waktu Hawaii, atau Jumat siang (1/2) waktu Indonesia.

Menurut Nelly, selain Indonesia, Republik Rakyat China juga bersikap tegas terhadap usul yang disampaikan pemerintah Amerika Serikat mengenai pengurangan emisi gas ruangkaca yang meningkatkan pemanasan suhu bumi.

“Untuk Kyoto Protocol, kita tetap push agar mereka segera meratifikasinya,” kata Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Kantor Kementerian Negara Lingkungan Hidup ini.Sejauh ini, dalam Pertemuan Honolulu yang merupakan kelanjutan dari pertemuan yang digelar Amerika Serikat atas prakarsa Presiden George W Bush tahun lalu, Nelly mengatakan bahwa sikap Indonesia sama dengan sikap RRC.

“Walau kami tidak termasuk pihak state dalam pertemuan ini, tetapi kami sudah memberikan banyak sekali masukan. Pendapat kami sama dengan pendapat yang disampaikan delegasi China yang mewakili negara. Kami ingin tahu apa yang dituangkan dalam poin-poin leaders meeting. Setelah mengetahuinya baru kita bisa mengatakan komit atau tidak. Sekarang ini isinya belum ada, tapi sudah minta persetujuan. Akhirnya kita menolak. Dan mereka lalu mengatakan akan ada pertemuan lanjutan untuk membahas beberapa items mengenai berbagai isu seperti proses adaptasi dan forestry,” masih kata Nelly.

Dalam pertemuan di Honolulu yang akan ditutup malam ini waktu Hawaii, pemerintah Indonesia sebagai peninjau mengingat peranan Indonesia dalam Climate Change Conference di Bali.

“Kita dianggap memahami persoalan pemanasan global ini, disamping kita juga dianggap sebagai negara penyumbang emisi terbesar.”

Tahun 1999 lalu, demikian Nelly, Indonesia menjadi negara penyumbang emisi terbesar ketiga di dunia. Ketika itu terjadi kebakaran hutan yang cukup luas di Indonesia. “Padahal ini akibat perubahan cuaca regional, dimana curah hujan amat sedikit, dan musim kemarau yang berkepanjangan. Dari sudut pandang ini, kita dapat mengatakan bahwa kita adalah korban pemanasan global yang dipicu oleh begitu tingginya emisi negara-negara maju,” pungkas Nelly.

One Reply to “”

Leave a comment