myRMnews – Bekas Menteri Keuangan era Presiden Habibie, Fuad Bawazier, menempatkan Sjamsul Nursalim sebagai penjahat BLBI urutan pertama. “Hingga Juni 1997 pemilik Bank Dagang Nasional Indonesia itu masih menerima kucuran dana 600 juta dolar Amerika Serikat,” kata Fuad dalam diskusi “Gerakan Melawan Serangan Balik Koruptor” di Hotel The Sultan, Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Minggu (30/12).
Menurut Fuad, aset Sjamsul ini dengan sengaja dibengkakan sementara kewajibannya dikecilkan. Kini, Sjamsul ngendon di Singapura setelah sebelumnya minta izin untuk berobat di Jepang.
Fuad yang juga Ketua DPP Partai Hanura ini mengaku pesimistis dengan pengusutan dana BLBI yang dilakukan pemerintah sekarang. Alasannya, sumber yang mengeluarkan kebijakan justru sekarang harus menyelesaikan kasus ini. Pernyataan ini menunjuk kepada Menteri Keuangan saat itu yang saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Boediono.
“Dengan fakta seperti ini sangat tidak mungkin untuk menyelesaikan BLBI,” kata Fuad.
Dikatakan Fuad, prestasi pemerintahan SBY dalam pemberantasan korupsi harus diakui gagal. Salah satunya karena banyaknya campur tangan politik sehingga pemberantasan korupsi pun tebang pilih.
