Menimbang Sartono Kartodirdjo dan Onghokham

Oleh: Asvi Warman Adam

Mengenang Sejarawan “Gerakan Petani” dan “Ratu Adil”
Sejarawan Onghokham mengalami stroke di Jogjakarta, Februari 2001, ketika menghadiri peringatan ulang tahun ke-80 Sartono Kartodirdjo. Penyakit itu tidak pernah pulih sampai dia meninggal tujuh tahun kemudian, 30 Agustus 2007.

Wartawati senior Tuti Kakiailatu menulis bahwa “Penderitaan Ong telah berakhir”. Pada 8 Desember 2007, diluncurkan buku dalam rangka 100 hari wafatnya Onghokham. Pada hari yang sama, dimakamkan Sartono Kartodirjo yang telah berpulang 36 jam sebelumnya.

Sartono Kartodirdjo dan Onghokham adalah dua sejarawan besar Indonesia yang sama-sama menaruh perhatian terhadap sejarah kolonialisme. Keduanya sama-sama menulis disertasi tentang petani pada masa penjajahan. Ong menulis tentang petani dan priayi pada abad XIX di Keresidenan Madiun. Sedangkan Sartono menulis tentang pemberontakan petani di Banten pada 1888. Mereka berdua lulusan Yale University (MA bagi Sartono sebelum melanjutkan ke Amsterdam University dan PhD bagi Onghokham).

Kehidupan petani tidak terlepas dari gagasan milenarisme. Wacana tentang ratu adil mewarnai gerakan petani di Banten sebagaimana dibahas dalam disertasi Sartono. Ong melihat konsep ratu adil itu sebagai retorika para lawan raja. Di Jawa, legitimasi diperoleh melalui wahyu. Konsep wahyu tersebut menjelaskan kekuasaan mutlak raja dan perlawanan terhadap dia berarti perlawanan terhadap Tuhan.

Namun, konsep tersebut juga menjadikan kedudukan raja tidak stabil karena wahyu bisa berpindah setiap waktu kepada orang lain. Orang yang bakal mendapat wahyu itu menjadi ratu adil yang didambakan kedatangannya.

Sartono dan Ong sama-sama tertarik pada revolusi Prancis. Dalam tulisannya mengenang Denys Lombard, Sartono menulis tentang perbandingan antara revolusi Prancis dengan revolusi Indonesia.

Menurut Sartono, dalam revolusi Prancis, golongan borjuis mengawali revolusi, sedangkan petani menentukan seberapa jauh dapat dilaksanakan. Dalam revolusi Indonesia, terbentuk struktur politik baru menggantikan sistem politik kolonial.

Namun, revolusi sosial yang terjadi secara lokal dan regional tidak mempunyai dampak luas dan tidak bisa merombak struktur sosial secara radikal. Rakyat belum menikmati statusnya sebagai warganegara secara penuh.

Ong tertarik pada revolusi Prancis melalui buku sejarah yang pertama dibacanya di perpustakaan sekolah di Surabaya tentang Marie Antoinette, sang ratu yang hidup penuh glamor dan dipenggal kepalanya dengan guillotine. Sampai tua, Ong masih terkenang guru sejarahnya yang menerangkan revolusi Prancis dengan gaya yang dramatis.

Sartono maupun Ong adalah sejarawan yang memiliki integritas yang tidak ditawar. Sartono pernah dihubungi pihak sekretariat negara untuk memperbaiki naskah buku putih tentang Gerakan 30 September. Dia menyindir pemerintah “menulis sejarah harus sesuai dengan fakta”. Namun, buku itu tetap diterbitkan pada 1994 tanpa memedulikan catatan Sartono.

Tentang pemalsuan sejarah, Ong melihat itu sudah terjadi sejak dulu dan di mana-mana. Namun, dia membedakan karya sejarah yang memberikan legitimasi berlebihan terhadap kerajaan Mataram seperti Babad Tanah Jawi.

Menurut Ong, karya itu tidak merugikan siapa pun, kecuali pengelabuan terhadap masyarakat mengenai kebesaran suatu kerajaan. Yang lebih berbahaya adalah “pemalsuan yang membawa akibat perang, kekejaman, dan pengejaran terhadap suatu golongan oleh kelompok yang berkuasa”. Kolom itu ditulis Ong di tengah kejayaan Orde Baru di majalah Tempo September 1981, pembaca tentu mafhum siapa yang dituju.

Sartono adalah sejarawan akademis. Berpuluh tahun dia mengajar di Universitas Gadjah Mada dan mempunyai murid yang tersebar mulai Banda Aceh sampai Papua. Dia diangkat sebagai guru besar emeritus. Sedangkan Universitas Indonesia kurang memanfaatkan keahlian dan pengetahuan Onghokham, sehingga yang bersangkutan pensiun muda dalam usia 55 tahun. Tapi, Ong lebih banyak menulis di media massa, kumpulan tulisannya pada Star Weekly, Kompas, dan Tempo telah dibukukan.

Bahkan, Onghokham adalah sejarawan Indonesia yang paling sering menulis di Prisma, majalah ilmu sosial yang bergengsi itu. Ong adalah sejarawan publik.

Tulisan-tulisan Ong banyak menyindir praktik politik Orde Baru, bahkan relevan dengan kondisi dewasa ini. Judul buku Ong yang merupakan kumpulan tulisan di majalah Tempo adalah Wahyu yang Hilang dan Negeri yang Guncang. Cocok untuk suasana di tanah air sekarang. Memang, negara ini sekarang sedang guncang. Namun, “wahyu” itu sekarang di mana dan akan berpindah kepada siapa? Apakah rakyat dapat berharap akan datang sang ratu adil?

Dr Asvi Warman Adam, sejarawan di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta. Artikel ini dikutip dari Jawa Pos.

Leave a comment