JENDERAL terkenal AS, Peter Pace, Jumat (14/9) di Washington, mengakui sendiri bahwa ia membuat beberapa kesalahan saat menyusun strategi invasi ke Irak. Namun, jenderal ini tetap mengatakan bahwa keputusan untuk menginvasi Irak adalah tindakan yang tepat. Demikian pengakuan Jenderal Peter Pace dari jajaran Angkatan Laut AS. Ia sekaligus menjadi Ketua Kepala Staf Gabungan dan merupakan salah satu arsitek invasi. Pace mengatakan, sebelum invasi, diasumsikan bahwa tentara Irak bisa diajak bekerja sama setelah invasi penjungkalan Saddam Hussein (almarhum) dilakukan.
Jumlah tentara AS yang dikirim dianggap sudah memadai, tetapi ternyata tidak mencukupi untuk mengakhiri invasi. “Saya membuat kesalahan dalam penyusunan asumsi-asumsi,” kata Pace kepada wartawan di Pentagon.
“Salah satu kesalahan yang saya buat adalah saya beranggapan bahwa rakyat dan tentara Irak akan menyambut pembebasan, termasuk anggapan bahwa tentara Irak akan merasa mendapatkan sebuah kesempatan sehingga bisa merangkul rakyat Irak untuk membangun sebuah negara baru,” kata Pace, yang akan meninggalkan posisinya sebagai Ketua Kepala Staf Gabungan pada 1 Oktober nanti.
“Jika tahu bahwa tentara Irak tidak mendukung, jelas saya akan mengajukan rekomendasi yang lain, terutama tentang jumlah tentara AS yang dikirim,” kata Pace. Saat menyampaikan introspeksi, Pace menyatakan, “Anda mengatakan bahwa Anda ingin mengetahui semua itu sebelumnya, tetapi ternyata tidak tahu cara masuk ke dalam.”
Pace kini menjadi salah satu petinggi militer yang telah menjadi korban politik akibat invasi ke Irak.
Memicu perbedaan
Menteri Pertahanan AS Robert Gates sudah memutuskan untuk menggantikan Pace. Alasannya, keberadaan Pace telah meningkatkan perbedaan antara Gedung Putih dan Kongres AS soal Irak.
Pace menambahkan bahwa ketika merekomendasikan invasi ke Irak, ia sangat yakin dengan semua asumsi yang dia pegang. “Jelas saya yakin. Yakin. Yakin,” katanya. Namun, terbukti asumsi yang dimaksudkan Pace itu tidak didapatkan.
Pengeboman sebuah masjid Syiah di Samarra, 22 Februari 2006, yang memicu konflik sektarian meluas, membuat Pace sadar soal keadaan buruk di Irak.
Namun, The Brookings Institution (sebuah lembaga pemikir di AS), sebelum invasi mengeluarkan berbagai skenario invasi ke Irak. Salah satu skenario yang disampaikan lembaga ini adalah invasi ke Irak kemungkinan akan berkepanjangan dan tak tertuntaskan jika invasi tersebut tidak disambut rakyat Irak.
Bahkan lembaga tersebut sudah mengingatkan, invasi di Irak akan makin sulit dimenangi jika kehadiran AS justru meningkatkan semangat pemberontakan warga di Timur Tengah untuk menentang kehadiran tentara AS di Irak.
Terlepas dari itu, beberapa dokumen atau bahan yang dipakai AS, termasuk Inggris, untuk menginvasi Irak, adalah dokumen usang dan tak bisa dipertanggungjawabkan. AP/MON/Kompas
