Tak Perlu Pemilu (Bukan Ajakan Golput)

Tulisan ini pernah dimuat di Harian Rakyat Merdeka, tanggal 4 April 2004, sehari sebelum pencoblosan.

DI hari pencoblosan Pemilu 2004, 5 April besok, saya perkirakan secara umum sikap masyarakat akan terbagi ke dalam berbagai tipe. Tipe pertama, orang yang sangat antusias dan bersemangat. Begitu bangun mereka langsung mempersiapkan diri. Mandi yang bersih, berpakaian yang rapi, bahkan mempersiapkan cemilan sebelum berangkat ke tempat pemungutan suara (TPS). Mereka ingin menjadi orang pertama yang tiba di TPS. Sebagian dari mereka pun bertekad menjadi orang yang pulang paling akhir.

Siapa mereka? Mereka adalah calon anggota legislatif dan keluarganya atau orang dekatnya. Juga petinggi partai dan orang-orang yang mengabdikan diri untuk partai.

Tipe kedua, orang yang bersikap biasa-biasa saja. Setelah memastikan tidak ada lagi pekerjaan di rumah, barulah mereka menuju TPS. Di TPS nanti orang tipe kedua ini akan duduk di deretan tengah. Mereka enggan membicarakan proses pencoblosan. Setelah memberikan suara, mereka langsung pergi. Mereka juga enggan menjelaskan apa pilihan mereka. Kalau ditanya mereka bilang, “Kan rahasia,” lalu pergi.

Tipe ketiga adalah orang yang sebenarnya tidak antusias. Bagi mereka, pemilu atau tidak dan siapa pun yang menang, terserah saja. Tapi karena berbagai hal yang sulit dijelaskan mereka terpaksa datang ke TPS, biasanya setelah diajak tetangga. Mereka tiba saat matahari sudah tinggi. Di luar TPS mereka celingak celinguk dulu, lalu duduk di deret paling belakang. Ada kalanya mereka lupa bawa kartu pemilih, atau surat panggilan. Atau lupa siapa dan partai apa yang akan dipilih. Terkadang ada yang salah TPS.

Tipe keempat adalah orang bingung yang sampai detik terakhir bingung mau ikut pemilu atau tidak. Kalaupun mau ikut mencoblos mereka bingung kenapa belum terima kartu pemilih. Boro-boro surat panggilan. Beberapa hari sebelum hari pencoblosan, mereka mendatangi aparat mulai dari ketua RT, ketua RW juga petugas di kelurahaan. Beberapa dari mereka bertanya, kenapa tidak diberi kartu pemilih. Jawaban dari aparat biasanya bikin mereka tambah bingung.

Tipe kelima sama sekali tidak mau memikirkan pemilu. Mereka ini golput dalam pikiran dan tindakan. Sejak masa kampanye lalu mereka ini cenderung jijik melihat konvoi pendukung partai. Informasi mengenai pemilu mereka simak sekenanya. Yang ekstrem biasanya mematikan atau menukar saluran TV dan radio setiap kali menanyangkan tentang partai dan pemilu. Kebanyakan dari mereka mengaku sudah lelah ditipu politisi dan tak mau tertipu lagi.

Mereka punya rumusan sederhana: Pemilu 2004 akan dimenangkan oleh kelompok penguasa yang beberapa tahun ini terbukti tidak menunjukkan keberpihakan pada rakyat. Mereka juga menilai, yang namanya Pemilu 2004 menjadi pintu masuk bagi kekuatan yang pernah menguasai bangsa ini tiga dasawarsa lebih; membikin Indonesia jadi salah satu negara penghutang terbesar di dunia, menciptakan krisis ekonomi hingga jutaan penduduk Indonesia jadi pengangguran, dan sebagainya.

Jadi untuk apa ikut pemilu?

Pemilu memang tidak untuk melahirkan demokrasi. Pemilu hanya menjadi salah satu mekanisme untuk menjaga harmoni demokrasi dan mengatur sirkulasi politik, sehingga tidak ada chaos dari keinginan semua pihak untuk berkuasa.

Negara-negara besar yang sistem politiknya relatif stabil dan ekonominya relatif mantap tidak dilahirkan lewat pemilu. Hampir semua negara itu dilahirkan oleh revolusi. Misalnya Revolusi Amerika 1776, Revolusi Prancis 1879, dan Revolusi Iran 1979.

Nah, Pemilu 2004 ini untuk apa?

One Reply to “”

Leave a comment