“Poros Islam Beralih ke Asia Tenggara

Gagasan tentang ajaran Islam yang moderat dan santun diakui tidak mudah untuk dibumikan. Kalangan intelektual, dai, dan ulama yang nyaris sehari-hari berurusan dengan dakwah Islam pun mengakui hal tersebut. Sebagai cerminan dari ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin, doktrin moderatisme Islam sesungguhnya diharapkan dapat terus mewarnai kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara.

Dalam hal ini, perkembangan dakwah Islam yang moderat di kawasan Asia Tenggara, harapan ke arah itu tetap cerah dan terbuka lebar, meski tantanganpun tak kecil. Memperdalam masalah ini, At-Tanwir mewawancarai Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI), Direktur CMM, dan mantan Menag, KH Dr dr Tarmizi Taher, yang beberapa waktu lalu menjadi pembicara seminar “Dakwah Islam Moderat di Asia Tenggara: Masa Depan dan Tantangannya”, di Manila, Filipina. Petikannya:

Bagaimana Anda melihat prospek dakwah Islam di Asia Tenggara?

Saya kira cukup bagus, dari waktu ke waktu terusmeningkat. Kalau kita lihat di Malaysia misalnya, karena di sana Kerajaan, semua dakwah Islam disokong oleh pemerintah. Keuntungannya, gerak dakwah akan lebih kondusif dan cepat berkembang karena dukungan yang besar dari kerajaan. Di Indonesia yang mayoritas Muslim dunia, juga terus membaik. Dakwah di sini kian menunjukkan peningkatan kualitas, meski di sana-sini masih ada yang memprihatinkan. Di Singapura, Thailand, khususnya bagian selatan, juga Filipina, nyaris semua negeri yang Muslimnya minoritas pun seperti tak mau ketinggalan. Mereka melakukan dakwah lewat televisi, radio, media cetak, dan media lain, selain ceramah publik. Semua itu membuktikan dakwah Islam tetap cerah. Justru hambatan dan kekurangan yang ada harus dijadikan tantangan bagi perbaikan dan peningkatan dakwah Islam di masa mendatang.

Sebenarnya, arahnya kemana, dakwah Islam yang anggun, moderat, atau dakwah yang sifatnya sempalan, politis, dan primordial-kelompok?

Kalau saya amati, sudah jelas arahnya adalah Islam moderat. Karena itu, tepat jika seminar tentang dakwah Islam moderat di Filipina itu digelar oleh CMM Cabang Manila. Saya akui, peran lembaga ini (CMM—red), meski baru, tapi sangat diperhitungkan di Filipina. Ini tidak lepas dari sosok ketuanya, Prof Thaha Basman, tokoh Islam yang sangat disegani masyarakat dan pemerintah Filipina. Mereka giat berdakwah melalui media, penerbitan, dengan mengusung konsep dan ajaran Islam moderat.

Kalau di tempat lain?

Tak jauh beda. Kecuali Malaysia dan Indonesia, seperti di Thailand selatan, mereka juga terus melakukan terobosan dakwah yang bisa diterima masyarakat. Saya berkeyakinan, karena landasan Islam yang anggun dan ajaran moderat itu jelas, yakni Surat Al-Baqarah ayat 143: “Wa kadzalika ja’alnaakum ummatan washatan litakuunu syuhadaa’a ‘alannasi wayakuna ar-rasululu ‘alaikum syahiidan,” artinya: Demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat pertengahan, agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu,” maka kedepan perjuangan menegakkan risalah Islam yang santun, ramah, sehingga dapat menjadi rahmat bagi semesta alam, dapat tercapai.

Anda demikian optimis, bukankah tantangan radikalisme dan terorisme di Asia Tenggara terus menghantui?

Memang, radikalisme dan terorisme dapat menjadi ancaman. Tapi, saya yakin kalau Islam yang moderat dan anggun akan tetap mewarnai dan mendominasi peradaban global. Radikalisme dan terorisme terjadi karena salah paham terhadap ajaran Islam yang benar. Itupun hanya sekelompok kecil. Mainstream utama kita kan tetap moderat, yakni NU dan Muhammadiyah. Yang lainnya, kecil-kecil meski radikal seperti FPI, MMI, HTI, dan sebagainya, tidak berpengaruh. Anggap saja itu bumbu demokrasi. Juga di Malaysia, Islam Hadhary (Islam moderat) menjadi mayoritas dan penentu kebijakan, relatif lebih aman dan makmur ketimbang Indonesia.

Kedepan, apa harapan Anda agar proses pembumian ajaran Islam moderat tercapai dengan baik?

Saya menyitir pernyataan intelektual terkenal Mesir, Muhammad Imarah. Dalam seminar beberapa waktu lalu, Imarah mengatakan bahwa Islam di Indonesia dan Asia Tenggara umumnya akan mewarnai peradaban global. Poros Islam beralih ke kawasan ini. Mengapa? Karena Islam di kawasan ini memiliki ciri khas, ramah dan saling menghargai. Berbeda dengan Islam di Arab yang suka marah-marah dan kurang menghargai manusia. Jadi, kedepan, akan semakin banyak dibutuhkan dai-dai yang berkualitas, seiring perkembangan zaman dan teknologi. Karena itu, kemampuan ulama dan dai dalam berbahasa Inggris pun sangat dibutuhkan. Banyak negara-negara di Asia yang butuh dai. Di Korea Selatan perkembangan Islam cukup pesat. Yang lainnya juga demikian. Tugas dakwah ini hanya dapat dilayani oleh para dai yang dapat beradaptasi dengan kemajuan dan mampu berbahasa Inggris dan Arab. Karena itu, harapan saya, saling menghargai dan terus meningkatkan kualitas diri, menjadi kata kunci bagi dakwah Islam masa depan.

One Reply to “”

Leave a comment