Lembaga pendidikan yang dikelola umat Islam sejauh ini masih berkualitas rendah. Banyaknya lembaga pendidikan Islam tidak serta merta mencerminkan peningkatan kualitas, namun di banyak sisi justru mencerminkan stagnasi alias tidak banyak mengalami perubahan yang lebih baik. Padahal di tengah persaingan pasar global yang lebih mengedepankan kualitas SDM, umat Islam dituntut lebih bisa mewarnai dan ikut dalam pergulatan tersebut.
Tanpa adanya kualitas pendidikan dan sumber daya manusia yang baik, mustahil dapat memperbaiki kualitas hidup. Di sela-sela lokakarya Managemen Pendidikan Islam beberapa waktu lalu di Bukittinggi, Sumatera Barat, tim At-Tanwir mewawancarai intelektual dan tokoh Islam yang juga rektor Universitas Islam Azzahra-Jakarta, KH Dr dr Tarmizi Taher, M.D. Petikannya:
Menurut Anda, harus dari mana membenahi managemen pendidikan Islam?
Mulai dari semua aspek. Di sisi pemerintah, harus ada kepastian kebijakan yang meniscayakan proses belajar-mengajar dan keberlangsungan dunia pendidikan dapat berjalan secara permanen. Artinya, kebijakan yang jelas, pasti, dan terprogram jauh kedepan mesti ada. Di kita kan tidak. Ganti menteri, ganti kebijakan, ganti pejabat, ganti aturan. Kapan pendidikan kita akan mapan dengan program yang jelas dan sistematis? Kemudian di sisi lembaga pendidikan, harus ada peningkatan kualitas SDM. Ini menjadi kunci keberhasilan, karena tenaga pendidik yang berkualitas akan menghasilkan input atau produk yang berkualitas pula. Tentu hal itu harus ditunjang dengan sarana dan prasarana yang memadai. Kebijakan internal sekolah yang menunjang peningkatan mutu juga penting.
Kalau kita merujuk ke Malaysia, bagaimana Anda melihat pendidikan di sana?
Tadi saya katakan, program yang jelas, terpadu dan berjangka jauh. Itu tidak kita miliki. Di Malaysia hal itu ada. Semua lini saling menunjang, sehingga kini Malaysia muncul sebagai negara dengan dunia pendidikan yang dikenal maju. Tahun 70-an dan 80-an, mereka berguru kepada kita, kini kita berguru kepada mereka. Mendiknas Malaysia itu menjadi tolok ukur terpenting dalam jenjang karir politik. Kalau mendiknas sukses, dia akan mendapat promosi utama menjadi wakil PM, lalu kemudian menjadi PM. Selain itu, Inggris yang menjajah Malaysia dulu meninggalkan warisan administrasi yang baik, beda dengan kita dijajah Belanda. Inilah pentingnya kita mengadakan sharing dengan Malaysia di bidang pendidikan, biar kita tidak menjadi pecundang terus, tapi kedepan dapat tampil sebagai pelopor dan dikenal mutu pendidikannya.
Menurut Anda, seperti apa sekolah atau lembaga pendidikan yang ideal?
Ideal itu tentu harus dilihat dari banyak aspek. Tapi, hemat saya, sekolah ideal adalah yang berasrama. Mengapa? Karena semua memungkinkan berlangsungnya apa yang kita inginkan. Pengawasan 24 jam, proses pendidikan formal dan non-formal terjadi, penempaan mentalitas yang baik dengan pengawasan dewan pengajar, terhindar dari hal-hal buruk dari pengaruh dunia luar, dan berasrama juga berarti penambahan jam pelajaran agama. Kalau di sekolah umum khususnya, sangat minim, jam agama hanya dua jam saja. Itu sangat kurang, minimal harus empat jam. Nah, dalam kerangka sekolah ideal itu, banyak terdapat nilai plus-nya. Hasilnya, potensial melahirkan murid atau produk unggul.
Harapan Anda kedepan?
Tentu ada perubahan dunia pendidikan Islam menjadi lebih baik dan bermutu. Di sisi pemerintahan, akan lebih baik jika ada sinergi yang kuat antara Mendiknas dan Menag. Peningkatan mutu SDM dan sarana serta prasarana harus menjadi komitmen semua pihak, sebab bagaimana pun pendidikan adalah aset paling berharga di masa mendatang. Perlu terobosan dan managemen baru untuk merombak total sistem pendidikan kita. Kita perlu belajar dari keberhasilan Malaysia, tak usah malu-malu. Kalau demi nasib bangsa dan kemajuan di masa mendatang, apapun yang menunjang ke arah itu mesti dilakukan.
