Rakyat Merdeka, Agustus 2004
Catatan: Tiga artikel berikut ditulis menyusul pertemuan anak-anak Bung Karno dari Ibu Fatmawati di kediaman Rachmawati di Jati Padang, Jakarta Selatan, bulan Agustus 2004, beberapa saat sebelum putaran kedua Pilpres 2004 dimulai. Itu adalah pertemuan pertama antara Rachma dan Megawati yang sejak lama berseteru.
SUDAH sejak lama Mega ingin bertemu dengan Rachma—yang walaupun adiknya tetapi memilih berseberangan dengan Ketua Umum PDIP itu. Bukan hanya pihak keluarga yang diminta Mega untuk melunakkan hati Rachma. Beberapa orang dekat Mega juga sudah berkali-kali menghubungi Ketua Umum Partai Pelopor itu, dengan satu pesan: Mega ingin ketemu.
Sebelum tadi malam, pekan lalu Rachma dibisiki bahwa Mega hendak bertemu. Rachma pun menyanggupi permohonan kesekian itu dengan sejumlah syarat. Di antaranya, pertemuan dilakukan di kediaman Rachma, tidak ada agenda politik yang dibicarakan, serta jangan sampai ada plintiran ke arah dukungan terhadap Mega.
Tadi malam, sebelum pertemuan dimulai, Rachma sempat ditanya wartawan, apakah dirinya grogi. “Saya hanya khwatir pertemuan ini dipakai untuk men-downgrade sikap saya. (Dibikin) nanti seolah-olah saya ini mendukung Mega,” jawab Rachma.
“Tapi saya kira, orang sudah mengerti sikap saya. Apalagi dalam Rakernas Partai Pelopor kemarin (Minggu, 29/8), kami sudah menyatakan independen,” sambungnya.
Sikap menentang Mega sudah diperlihatkan Rachma sejak lama, bahkan sejak Sidang Umum (SU) MPR 1999 memilih Mega sebagai wakil presiden. Sikap anti ini semakin besar saat Mega naik menjadi presiden menggantikan Gus Dur. “Mega melakukan kudeta konstitusi,” kata Rachma saat itu.
Sikap Rachma ini “mengherankan” banyak pihak. Bagaimana mungkin seorang adik tidak suka melihat kakaknya berkuasa? Tetapi itulah Rachma. “Saya dan Mega memang bersaudara. Itu tidak bisa dibantah. Tetapi pandangan dan sikap mengenai bangsa kita adalah hal lain,” katanya lagi suatu kali.
Rachma juga kerap menyoroti kebijakan Mega yang dinilai tidak populis, seperti penjualan aset negara, membiarkan korupsi merajalela, menghentikan kasus korupsi yang melibatkan sejumlah konglomerat hitam. Menjelang putaran final pilpres bulan September nanti, Rachma juga mengkritik Koalisi Kebangsaan yang digagas Mega, sebagai koalisi berbau Orde Baru, karena tiga partai yang ada di zaman Orba mendukung koalisi itu. “Persoalannya bukan pada partai Orba-nya. Tetapi koalisi itu cenderung untuk saling melindungi kesalahan yang pernah mereka buat selama berkuasa,” ujarnya.
Kini, dari lima anak Bung Karno dan Ibu Fatmawati, jelas sudah petanya. Mega, Sukma dan Guruh beridir di satu sisi, “melawan” berhadapan dengan Rachma di sisi lain. Sementara sikap Guntur yang cenderung memilih diam juga diartikan mendukung Mega.
Ada Yang Jadi Penguasa, Dan Nonton Penguasa
Mengumpulkan anak-anak Bung Karno seperti yang terjadi di rumah Rachmawati Soekarnoputri, Senin malam kemarin, bukanlah pekerjaan gampang. Apalagi setelah mereka semakin dewasa, matang serta memiliki pandangan dan keyakinan hidup sendiri-sendiri. Tak dapat dipungkiri, hari-hari ini keturunan Bung Karno tampak berwarna-warni. Ada yang menonton penguasa, ada yang berkuasa dan ingin tetap berkuasa, ada yang menentang penguasa, dan ada yang berdiri di sekitar kekuasaan.
Guntur menarik diri dari kehidupan politik dan memilih mengurus bisnis serta melupakan Band Eka Sapta yang didirikannya tahun 1960-an. Mega yang awalnya berdagang kembang di Cempaka Putih, dan ibu rumah tangga yang biasa-biasa saja, malah banting stir memilih jalan politik yang berliku-liku dan tajam. Agaknya, pilihan wanita kelahiran bulan Januari itu tepat. Kini dia memimpin PDI (Perjuangan), berkuasa, dan berniat melanjutkan kekuasaannya.
Rachma yang concern pada dunia pendidikan—mendirikan TK Sarinah, SMP, SMA dan Universitas Bung Karno—belakangan juga memilih jalan politik. Dengan Partai Pelopor yang dipimpinnya, Rachma berniat meluruskan ajaran Bung Karno dan membangun kembali Indonesia yang masih koyak moyak dan carut marut.
Sukma dan Guruh yang berdarah seni sudah lebih dahulu memilih jalan politik. Sukma sangat bersemangat menghidupkan kembali Partai Nasionalis Indonesia (PNI) yang dulu didirikan Bung Karno. Kini dia memimpin PNI Marhaenisme, dan mendukung kakak sulungnya. Adapun Guruh sejak tahun 1997 hingga hari ini duduk di DPR sebagai wakil rakyat PDI (Perjuangan) sambil memimpin kelompok kesenian Swara Mahardika GSP.
Pertemuan terakhir yang dihadiri kelima anak Bung Karno dari Fatmawati ini terjadi sekitar tahun 1995. Sejak itu, tak sekalipun mereka bertemu lagi secara komplit, hingga Senin malam kemarin, saat Guntur, Mega, Sukma, dan Guruh mendatangi rumah Rachma—anak Bung Karno yang paling berani menarik garis dalam keluarga.
Sebetulnya, yang paling sulit untuk dipertemukan adalah Mega dengan Rachma. Mereka terakhir bertemu tahun 2001 di Blitar saat memperingati 100 tahun Bung Karno. Hampir tak ada yang mereka bicarakan saat itu. Mega bertanya Rachma datang naik apa dan menginap di mana. Rachma menjawab, naik kereta bersama Gus Dur dan menginap di Hotel Sri Lestari. Itu saja. Selebihnya, mereka asyik dengan pikiran dan rencana masing-masing.
Perbedaan sikap antara Mega dan Rachma sudah lama terjadi. Paling tidak sejak Mega dielus-elus untuk masuk PDI di era 1980-an. Rachma menentang rencana itu, karena bertentangan dengan konsensus keluarga Bung Karno tahun 1978 yang intinya menyatakan anak-anak Bung Karno tidak akan terlibat dalam politik praktis yang masih dikendalikan oleh Orde Baru, serta akan berdiri di atas semua golongan sesuai dengan ajaran Bung Karno.
Tahun 1982, konsensus itu diperbaharui. Anak-anak Bung Karno sepakat untuk tidak berpihak pada salah satu kekuatan politik menjelang Pemilu 1982. Tapi, hanya sesaat, konsensus itu dilanggar saat Mega bergabung dengan PDI. Guntur yang diharap Rachma mencegah Mega, memilih diam. Rachma tidak dapat menutupi dirinya kecewa dengan sikap kedua kakaknya itu. Belakangan, Rachma semakin kecewa dengan sikap kedua adiknya yang mengikuti langkah Mega.
Perbedaan kedua Soekarnoputri ini mulai muncul ke permukaan saat Sidang Umum (SU) MPR 1999 memilih Mega sebagai wakil presiden. Rachma adalah orang pertama yang menyatakan Mega tidak akan sanggup mengemban amanat itu. Bulan Juli 2001, saat Mega yang didukung oleh kekuatan lintas partai menggantikan Gus Dur, Rachma juga berteriak kencang. Mega mendukung kudeta konstitusi, katanya.
Lantas, bagaimana dan siapa yang berperan, hingga Rachma dan Mega akhirnya bertemu, saat bulan menggantung di langit Jatipadang, Senin malam itu?
Dirayu Sukma, Guruh Dan Panda
Senin malam, Rachma duduk di sofa ruang tamunya. Seperti biasa dia mengenakan baju berwarna hitam. Sebuah pin merah-putih dengan gambar wajah Bung Karno pada bagian tengah disematkan di dada kiri. Di seberang Rachma duduk sejumlah aktivis Partai Pelopor yang dipimpinnya, termasuk Sekjen Eko Surjo Santjojo.
Mereka baru saja mendiskusikan berbagai kemungkinan yang akan terjadi bila kelima anak Bung Karno—Guntur, Mega, Rachma, Sukma dan Guruh—bertemu malam itu, Senin (30/8).
“Saya khawatir pertemuan ini dipakai untuk men-downgrade sikap saya. Nanti dibikin seolah-olah saya ini mendukung Mega,” kata Rachma.
Rachma wajar khawatir. Sebab walau dibungkus dengan judul pertemuan keluarga dan silaturahmi—apalagi mereka sudah lama tak bertemu—tetap saja ada bau politis yang mengikuti pertemuan itu. Sejak Mega diketahui melaju ke putaran kedua pilpres tanggal 20 September ini, entah sudah berapa kali Rachma dirayu untuk bertemu dengan Mega. Secara sepintas, pertemuan anak-anak Bung Karno mudah di-spin menjadi forum mendukung Mega.
Sebelumnya, sebuah pertemuan antara Rachma dengan Hasyim Muzadi, yang mendampingi Mega dalam pilpres, pernah digagas. Adalah Hasyim yang menginginkan pertemuan itu. Rachma membuka diri. Saat ditanya, dia berkata, “Saya sudah lama kenal dengan Pak Hasyim, dan saya terbuka untuk mendengar buah pikiran dari siapapun, termasuk beliau.”
Tapi pertemuan yang juga rencananya akan digelar di kediaman Rachma mendadak dibatalkan Hasyim. Beredar kabar, bahwa Hasyim menolak hadir karena rencana pertemuan itu tercium oleh wartawan. Padahal, kabar yang beredar di kalangan wartawan, menyebutkan justru kubu Hasyim-lah yang menyebarkan rencana pertemuan.
Sementara itu, Mega melalui sejumlah orang dekatnya, termasuk Sukma dan Guruh, terus merayu Rachma agar mau bertemu Mega, paling tidak dalam forum keluarga, sekalian reuni. Apalagi Guntur dan Mega belum pernah bertandang ke rumah Rachma di Jatipadang yang didiaminya sejak tahun 2002 silam.
Hari Rabu, 18 Agustus lalu, Rachma yang sedang berada di luar kota dihubungi Guruh. Kata Guruh, Mega mau bertemu. Rachma menyanggupi. Rencananya pertemua digelar di rumah Rachma, usai maghrib. Usai azan isya, Rachma kembali dihubungi Guruh. Kali ini kata Guruh, Mega tak jadi datang, karena ada kegiatan lain. Rachma nothing to lose dengan kegagalan pertemuan itu.
Hari Rabu pekan lalu, giliran Panda Nababan, aktivis PDIP, yang mendatangi Rachma di Universitas Bung Karno (UBK). Dia meminta Rachma bersedia kembali menjadwalkan pertemuan dengan Mega. Keesokan harinya, Panda mendatangi rumah Rachma di Jatipadang, saat sang tuan rumah sedang berada di DPP Partai Pelopor, kawasan Gudang Peluru, Tebet.
Sampai hari Minggu, saat Partai Pelopor memperingati HUT ke-2 dan menggelar Rakernas di Hotel Century, Rachma belum mendengar konfirmasi apakah pertemuan jadi dilakukan, atau tidak. Konfirmasi baru diterima Rachma beberapa jam menjelang pertemuan.
Rachma tiba di rumahnya pukul 18.00 WIB. Puluhan wartawan telah berkumpul di sana. Begitu juga beberapa anggota polisi dan Paspampres.
Setelah istirahat sejenak, Rachma menuju ruang tamu yang dijadikan arena pertemuan. Tidak banyak yang berubah di rumah Rachma. Ruang tamunya seperti biasa masih dipenuhi aneka bunga. Dan di dapur tidak ada kesibukan ekstra. Kata seorang kerabat, makanan disediakan Teuku Umar—kediaman Mega. Yang agak berbeda, adalah jumlah kursi di ruang tamu Rachma yang bertambah. Maklumlah, pertemuan akan diikuti oleh banyak kerabat, anak dan cucu Bung Karno.
“Sebagai saudara, saya tidak bisa menghalangi keinginan saudara saya untuk bertemu. Tetapi pertemuan ini tidak akan mengubah sikap saya. Saya rasa sikap saya cukup terang dan jelas,” katanya lagi pada teman-teman separtainya. GUH
