Menjelang Hari Raya…

1966.KITA semua tentu punya cerita tentang Ibu kita masing-masing. Izinkan aku, di tengah malam ini, di sela-sela mengerjakan tugas yang akan dikumpul besok pagi bercerita tentang sosok itu: Dahlia Ketaren. Wanita yang melahirkanku, membesarkanku dan mengajarkan kepadaku apa yang harus aku lakukan dan apa yang harus tidak aku lakukan.

Bagiku, semoga ini tidak salah, ia-lah penjelmaan Tuhan di atas muka bumi ini.

Pertengahan tahun 2001, Ibuku diserang tekanan darah tinggi hingga mencapai 285. Aku yang baru beberapa bulan bekerja di kantorku memutuskan untuk pulang dan menemani Ibuku di rumah sakit Adam Malik. Dari Polonia, tempat pertama yang kutuju adalah rumah sakit.

Dia yang sedang terbaring, berbinar-binarnya matanya melihat kehadiranku. Tangannya menggapaiku, mulutnya hendak berkata “Anakku”, tapi suaranya tak terdengar jelas. Tekanan darah tinggi telah membuatnya tak bisa menggerakkan sebagian besar anggota tubuhnya, termasuk mulutnya untuk bicara. Saat itu juga aku putuskan akan tinggal di rumah sakit sampai ia kembali pulang ke rumah dalam keadaan sehat, atau sesehat mungkin.

Satu bulan lebih aku di Medan, dan selama masa itu hanya sekali aku bermalam di rumah kami. Selebihnya, seperti yang aku janjikan, aku menghabiskan waktuku di rumah sakit bersama Ibuku. Setiap pagi, aku memapahnya ke luar ruangan, menjemurnya di bawah sinar matahari. Membantu Ibuku menggerakkan kaki dan tangannya, membantunya melangkah dan menggenggam. Menyuapinya. Memberi semangat kepadanya, menjelaskan sebisaku bahwa penyakitnya dapat disembuhkan. Membelikan buah-buahan yang dia suka. Pernah suatu malam, aku berputar-putar kota Medan untuk mencari duku Palembang yang dimintanya. Aku pulang dengan tangan kosong, karena saat itu memang sedang tak musim duku Palembang. Untunglah, Ibuku tak kecewa.

Suatu hari, hapeku berbunyi. Seorang senior dari kantorku di seberang sana memberi tahu bahwa mereka sedang rapat untuk membahas kinerja anak-anak baru. Dan katanya, namaku ada dalam daftar yang akan dipecat karena sudah dua minggu tak hadir di kantor. Kepada senior ini aku katakan, “Bang, terima kasih. Aku tak bisa ke Jakarta sekarang. Ibuku hanya satu. Soal pekerjaan, insya Allah, ada banyak.” Sampai sekarang, mereka, kantorku itu, tak juga memecatku.

Aku tetap memilih tinggal di Medan menemani Ibuku. Keadaannya semakin baik. Tekanan darahnya turun, walau tak bisa normal. Seingatku, sekitar 180. Dan yang paling menggembirakan, Ibuku kembali bisa berjalan, kembali bisa berbicara seperti semula. Walau dari luar tampaknya tak ada fungsi motorik yang terganggu, tetapi ternyata di dalam sana ginjalnya rusak berat hingga tak berfungsi sama sekali. Dan ia harus cuci darah dua kali setiap minggu.

Tiap kali cuci darah sungguh membuat hatiku tak menentu. Bayangkan, aku harus menyaksikan Ibuku ditusuk-tusuk, pada pangkal paha dan lengannya, dengan jarum yang besarnya minta ampun. Itu belum seberapa. Aku harus menyaksikan darahnya dipompa keluar dan dipompa masuk. Setiap kali cuci darah, Ibuku harus tinggal di dalam ruangan yang dingin itu selama 4 jam. Sampai sekarang mesin pencuci darah itu masih melekat di pelupuk mataku, sementara bunyi mesinnya masih terngiang di telingaku.

Di minggu keempat, Ibuku sudah boleh meninggalkan rumah sakit. Tetapi, ia tetap harus melanjutkan cuci darah, dua kali dalam seminggu.

Bulan Mei 2002, aku kembali pulang. Kali ini Ibuku masuk ruang ICU RS Pirngadi Medan. Seperti setahun sebelumnya, dari Polonia tempat pertama yang kutuju adalah rumah sakit. Di depan rumah sakit, Ayahku telah menunggu. “Lemah, Guh. Keadaan Mama lemah.”

Di ruang ICU, aku melihatnya terbaring. Ia memang melemah. Ya Tuhan, tubuhnya membengkak, wajahnya menguning. Nafasnya satu dua. Secara medis, Ibuku koma. Aku hanya bisa membisikkan doa-doa yang aku tahu. Aku tak cukup yakin, apakah Ibuku bisa mendengar suaraku. Di saat aku kehilangan harapan, tangannya menggenggam tanganku. Cukup erat. Hanya sebentar.

Keesokan harinya, Ibuku meninggal dunia. Aku ada di sana ketika ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Tubuh yang tadinya bengkak kembali normal. Wajahnya kembali kuning langsat.

Selama Ayahku dan kakakku mengurus berbagai hal di luar sana, aku menemani jenazah Ibuku. Mengucapkan janji-janji yang aku harap bisa aku tepati. Membaca Quran kecil yang selalu kubawa kemana-mana (kini tertinggal di Jakarta) untuknya. Berbicara dengannya seolah ia masih bisa mendengarkan suaraku.

Ibuku dimakamkan sehari kemudian. Luar biasa banyak yang datang melihat jenazahnya disemayamkan di rumah kami dan juga yang mengantarnya ke liang kubur. Sepanjang jalan dari rumah kami ke kuburan, di atas ambulans, mulutku hanya bisa berkata “Allahu Akbar”.

Di malam ini, izinkan aku mengenang Ibuku. Izinkan aku mengajak kita semua mengenang Ibu kita. Doakan ia yang sudah berada di alam sana. Sayangi ia yang masih ada bersama kita.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1428 H.