Uzbekistan Masih Maju Mundur

BANYAK kalangan mengira setelah aliansi Utara menguasai Mazar I Sharif di utara Afghanistan, pemerintah Uzbekistan akan segera membuka jembatan di atas sungai Amu Darya yang menghubungkan Uzbekistan dan Afghanistan. Dugaan ini salah. Sampai kemarin (12/11) Presiden Uzbekistan Islam Karimov belum menunjukkan tanda-tanda akan segera membuka jembatan itu.Read More »

Dostum Menuju Kabul

AMERIKA membonceng serangan Aliansi Utara pimpinan Abdur Rashid Dostum atas kota Mazar I Sharif di Afghanistan Jumat malam lalu (9/11). Sementara pasukan Dostum mati-matian menghadapi pasukan Taliban, puluhan pesawat tempur F-18 dan pesawat pembom B-52 Amerika berputar-putar di atas kota yang berpenduduk sekitar 300 ribu jiwa. Kebanyakan penduduk Mazar I Sharif adalah suku Uzbek, Tajik dan Hazaras.Read More »

Bom yang Ditumpahkan dari Langit

STAF PBB di Termez mulai buka mulut menentang Amerika Serikat. Diakui staf PBB serangan udara Amerika hanya membunuh penduduk sipil yang tak berdosa dan menghancurkan fasilitas umum.Read More »

Termez yang Berubah

TERMEZ adalah kota yang berfungsi sebagai pangkalan militer. Di masa Uni Soviet dulu, jalan-jalan di Termez dipenuhi ratusan tank dan senjata artileri lainnya, lalu tentara berdiri siap siaga di mana-mana. Markas tentara dibangun di sekitar sumah penduduk.Read More »

Mengintip Afghanistan dari Kebun Binatang

uz66

KEBUN binatang di Jalan Normansky, Termez, belakangan ramai dikunjungi wartawan asing. Berdiri sejak tahun 1939, kebun binatang ini berada tepat di garis perbatasan dua negara. Dua negara yang tengah berkonflik pula.Read More »

Divisi Tempur Kesepuluh

AMERIKA Serikat tampaknya mulai kesal melihat sikap zbekistan yang masih belum mau membuka jembatan perbatasan dengan Afghanistan di Sungai Amu Darya. Padahal Divisi Tempur Kesepuluh Amerika sudah berada di Termez sejak tiga minggu terakhir ini.Read More »

Perang Dingin yang Belum Berakhir

uz65

uz53

DISKUSI terbatas di kalangan wartawan asing yang mangkal di Termez menyimpulkan bahwa Amerika Serikat memiliki maksud tersembunyi di balik serangan ke Afghanistan yang sudah memasuki minggu kelima.

Maksud tersembunyi itu bukan sekadar ingin menggulung Taliban dalam lipatan sejarah dan menguburnya sedalam mungkin, kalau bisa hingga ke inti Bumi. Lebih dari itu, maksud tersembunyi tersebut berupa keinginan menghapus pengaruh Rusia di Asia Tengah.

Ketegangan yang tengah terjadi di kawasan ini dipandang sebagai jilid kedua dari drama Perang Dingin.

Minggu sore (5/11) beberapa wartawan asing yang menginap di Hotel Surkhon berkumpul di undakan tangga teras hotel.

Awalnya saya menikmati sinar matahari di bangku panjang di sisi taman. Tak jauh dari saya, seorang wartawan Jerman dibantu temannya dari Turki sedang mengatur semacam antena kecil di halaman hotel. Kelihatannya mereka mencari sinyal untuk mengirimkan laporan ke kantor berita mereka.

Kedua wartawan ini mengirimkan laporan dalam bentuk gambar dan rekaman video. Karena data yang mereka kirim jauh lebih besar, mereka tidak bisa menggunakan jaringan internet Hotel Surkhon.

Lalu satu persatu wartawan asing yang sudah sekitar tiga minggu menginap di Hotel Surkhon datang. Mereka baru kembali dari perjalanan mengelilingi Termez untuk mencari informasi dan hal-hal yang bisa dilaporkan ke media masing-masing.

Semua datang dengan keluhan yang sama: sudah bosan berlama-lama di Termez, dan berharap Jembatan Persahabatan segera dibuka.

Seorang wartawan sudah siap memasuki Afghanistan. Dari negaranya di Eropa sana, dia membawa helm dan jaket anti peluru.

Wartawan lain mendapat informasi tentang kemungkinan menyeberangi perbatasan dengan menggunakan helikopter. Namun mesti bayar mahal, tak kurang dari 6 ribu dolar AS untuk sekali perjalanan. Sementara belum bisa dipastikan apa yang akan dihadapi di seberang Amu Darya, sehingga belum diketahui berapa lama petualangan itu akan berlangsung.

Bukankah ketidakpastian adalah sesuatu yang seharusnya menantang kita, kata seorang wartawan lagi.

Tetapi kepastian logistik secara relatif adalah hal yang juga harus dipertimbangkan dalam perencanaan liputan. Wartawan lain menambahkan.

Kesimpulannya, kalau dapat dikatakan sebagai kesimpulan, kelompok wartawan yang datang dengan rencana masing-masing itu harus menerima kenyataan mereka tertahan di Termez untuk waktu yang masih belum bisa ditentukan.

“Setidaknya kita semua sadar, tidak ada berita yang lebih mahal dari nyawa. Semua hal harus secermat mungkin diperhitungkan. Berani tidak sama dengan tidak hati-hati.” Ada juga yang mengucapkan kalimat bijak seperti itu.

Dari urusan perencanaan peliputan, diskusi bergeser ke persoalan konstelasi politik regional dan global yang melatari konflik yang tengah berlangsung. Saya bisa mengikuti diskusi ini, karena sebelum meninggalkan Jakarta, saya melakukan riset kecil, membaca banyak materi mengenai situasi di Asia Tengah, pertarungan abadi Amerika Serikat dan Uni Soviet yang kini direpresentasikan Federasi Rusia.

Selama lebih dari 70 tahun Uni Soviet menguasai negeri-negeri di Asia Tengah, Uzbekistan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Kazakhstan dan Turkmenistan dalam sebuah pemerintahan kolektif semi federasi Soedineniy Sovietskiy Sosialisticheskiy Respubliki alias Uni Soviet.

Di tahun 1991 Uni Soviet runtuh setelah diterpa berbagai konflik internal dan krisis ekonomi yang antara lain diakibatkan ambisi menguasai Afghanistan (1979-1989).

Jauh sebelum keruntuhan Uni Soviet, seusai Perang Dunia Kedua, Uni Soviet dan Amerika Serikat tampil sebagai dua seteru besar di panggung global. Kedua negara ini bertarung merebut simpati dan pengaruh dari negara-negara lain. Masing-masing membangun Blok Timur yang sosialis dan Blok Barat yang kapitalistik.

Kedua blok adu senjata dan kecanggihan teknologi. Persaingan keduanya sampai ke rusan siapa yang bisa menguasai langit.

Adalah Uni Soviet yang pertama kali berhasil mengirimkan misi ke luar angkasa. Pada Oktober 1957 Uni Soviet memetik poin pertama dalam pertarungan di langit. Sputnik-1 menjadi satelit artifisial pertama yang meluncur ke ruang angkas. Poin kedua didapatkan Uni Soviet di bulan April 1961, ketika misi luar angkasa Vostok-1 yang membawa awak berhasil menembus orbit bumi dan membuat kosmonot Yuri Gagarin sebagai manusia pertama yang mengelilingi orbit bumi dari luar angkasa.

Butuh satu dekade bagi Amerika Serikat untuk bisa menyamai dan melampaui prestasi Uni Soviet ini. Pada Juli 1969, misi Apollo-11 berhasil mendarat di bulan, dan astronot Neil Armstrong menjadi manusia pertama yang menginjakkan kaki di satelit bumi itu.

Amerika Serikat mengintili apapun yang dilakukan Uni Soviet. Demikian sebaliknya. Dinas intelijen Amerika Serikat, Central Intelligent of America, atau CIA adu kecerdasan melawan dinas intelijen Uni Soviet Komitet Gosudarstvenniy Bezapaznosti atau KGB.

Tak berlebihan bila dikatakan bahwa Amerika Serikat bertepuk tangan girang menyambut kehancuran Uni Soviet dan Blok Timur. Tetapi hanya sebentar. Sistem yang ditinggalkan Rusia di negara-negara bekas jajahannya itu terlalu kuat untuk lenyap dalam waktu sepuluh tahun.

Tahun 1993, Tajikistan mengundang Rusia untuk memperkuat pasukan tempur mereka di selatan, di wilayah yang berbatasan langsung dengan Afghanistan dan sedikit Republik Rakyat China. Saat ini pengaruh militer Rusia di Tajikistan semakin besar.

Selain Tajikistan, di Kyrgyzstan dan Turkmenistan pengaruh Rusia pun masih kuat.

Amerika Serikat kembali gerah. Setelah berusaha keras, tahun 1995 kekuatan militer Amerika Serikat berhasil masuk ke Uzbekistan. Beberapa perwira terpilih Uzbekistan pun dikirim belajar ke Amerika Serikat.

Bagi Uzbekistan bantuan militer Amerika Serikat ini diperlukan untuk menghadapi kelompok Islam fundamentalis anti pemerintah, Islam Movement of Uzbekistan (IMU). Kelompok ini disebut-sebut memiliki hubungan dengan kelompok sejenis di Tajikistan dan Kyrgyzstan.

Selama ini Amerika Serikat butuh alasan untuk bisa unjuk gigi dengan garang di Asia Selatan. Ketika menara WTC dan Gedung Pentagon diserang oleh kelompok teroris, Amerika memiliki alasan memulai perang baru yang bisa dijadikan alat untuk semakin menguatkan pengaruhnya di Asia Tengah, sehingga sedikit demi sedikit menggeser pengaruh Rusia.

Seorang wartawan dari Eropa di tengah diskusi di teras Hotel Surkon mengatakan, ada laporan intelijen yang menyebutkan bahwa Amerika Serikat sudah berencana menyerang Afghanistan akhir tahun ini. Amerika butuh satu perang di Asia Tengah untuk bisa memusnahkan pengaruh Rusia selamanya.

Ini salah satu teori, atau setidaknya dugaan yang pantas. [guh]