Reunifikasi Korea Tidak Bisa Terjadi Dalam Satu Malam

KOREA Selatan dan Korea Utara sedang bekerja keras mewujudkan tugas konstitusional yang diemban masing-masing Korea, yakni menyatukan kembali tali persaudaraan yang putus akibat perang di awal 1950an.

Jalan menuju reunifikasi tidak mudah, dan sudah tentu reunifikasi bukan pekerjaan yang bisa selesai dalam satu malam.

Begitu dikatakan Duta Besar Republik Korea Kim Chang-beom dalam wawancara dengan Republik Merdeka beberapa waktu lalu.

Ia menyoroti berbagai “keajaiban” yang terjadi dalam 1,5 tahun terkait hubungan kedua negara.

Hal lain yang dibahas dalam bagian kedua wawancara dengan Dubes Kim itu adalah soal hubungan Korea Selatan dengan Jepang belakangan ini. Ia mengatakan, ketegangan yang terjadi hanya semacam jegukan kecil, yang dapat diselesaikan apabila kedua negara meningkatkan komitmen untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut.

Menurutnya Korea Selatan telah memperlihatkan gesture positif dengan mengirimkan Perdana Menteri Lee Nak-yeon dalam penobatan Kaisar Naruhito tanggal 22 Oktober lalu.

Berikut petikan wawancara itu.

Continue reading “Reunifikasi Korea Tidak Bisa Terjadi Dalam Satu Malam”

Bagi Kami Visi dan Misi Jokowi Cukup Jelas

REPUBLIK Indonesia dan Republik Korea atau Korea Selatan memulai hubungan diplomatik pada 17 September 1973. Setelah dalam pertemuan antara Presiden Joko Widodo dan Presiden Moon Jae-in di bulan November 2019, kedua kepala negara sepakat meningkatkan hubungan menjadi special strategic partnership, kini kedua negara tengah menyiapkan draft Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).

Perjanjian ini dipercaya dapat meningkatkan kualitas hubungan kedua negara secara signifikan dibandingkan (FTA) yang selama ini berlaku secara multilateral antara Korea Selatan dan negara-negara anggota ASEAN.

Dutabesar Korea Selatan Kim Chang-beom mengatakan, finalisasi draft CEPA sedang dilakukan sehingga dapat ditandatangani kedua negara dalam pertemuan di Busan, Korea Selatan, pada tanggal 25 November 2019.

Dalam wawancara dengan Republik Merdeka, Dubes Kim juga memberikan komentar mengenai susunan tim ekonomi Kabinet Indonesia Maju yang baru dibentuk. Menurutnya tim ekonomi yang baru dibentuk sangat menjanjikan, terutama karena visi dan misi Presiden Jokowi sudah cukup jelas.

“Bagi kami, visi dan misi Jokowi cukup jelas. Prioritas pertama adalah pembangunan sumber daya manusia; kedua, pembangunan sektor infrastruktur; serta ketiga adalah ekspor dan investasi. Ini semua adalah adalah persis apa yang kami tunggu-tunggu,” ujar Dubes Kim.

Berikut petikan wawancara itu:

Continue reading “Bagi Kami Visi dan Misi Jokowi Cukup Jelas”

Fragmen Revolusi

Saya pernah bertanya pada Dubes Kuba di Jakarta, Nirsia Castro Guevara, ada apa dengan Che Guevara dan Fidel Castro? Mengapa Che meninggalkan Kuba? Apakah karena Castro tak dapat menerima kritik Che pada Uni Soviet yang menurutnya adalah emporium juga?

(Walau memiliki kata Castro dan Guevara di namanya, namun Dubes Nirsia Castro Guevara tidak memiliki hubungan darah dengan keduanya.)

***

Bisa Anda gambarkan hubungan antara Che Guevara dan Fidel Castro?

Setelah kemenangan revolusi kami, Che Guevara ditunjuk sebagai menteri perindustrian dan gubernur bank nasional. Dia juga mewakili negara kami di banyak forum internasional.

Tetapi di sisi lain, sebenarnya Che Guevara juga punya satu keinginan, yakni melanjutkan perjuangan melawan kolonialisme dan membebaskan negeri-negeri yang masih berada di bawah penjajahan asing. Dia ingin melanjutkan perjuangan membebasakan negeri-negeri itu. Dia merasa bahwa sudah menjadi tugas dan kewajibannya untuk membantu mereka.

Dia sempat menulis sebuah buku tentang perang gerilya. Di dalam buku itu dia menuliskan pengalaman melawan diktator Kuba dan berharap pengalaman itu dipelajari oleh sebanyak mungkin orang.

Ketika merasa saatnya sudah tepat untuk meninggalkan Kuba, Che Guevara pergi ke Kongo untuk membantu gerakan kemerdekaan di sana. Tetapi karena situasi di Afrika tidak mendukung, dia akhirnya memutuskan untuk pergi ke Bolivia.

Dari Bolivia dia kembali sebentar ke Kuba. Kali ini dia mengajak kelompok kombatan yang ikut bersama dirinya pada masa revolusi Kuba. Bersama mereka, Che Guevara kembali ke Bolivia dan setelah itu kita tahu apa yang terjadi. Dia ditangkap tentara pemerintahan diktator Bolivia, dan dieksekusi pada 9 Oktober 1967.

Apakah ada pesan terakhir Che Guevara sebelum meninggalkan Kuba? Apa yang dikatakannya?

Hubungan Che Guevara dan Fidel Castro sangat tulus. Bila kita membuka dokumen sejarah, sebelum meninggalkan Kuba, Che Guevara menulis sebuah surat perpisahan untuk Fidel dan rakyat Kuba. Surat itu tidak rilis sampai kematiannya dipastikan.

Mengapa tidak segera dirilis dan diumumkan oleh Fidel Castro?

Menurut Fidel Castro, kalau surat itu diumumkan tak lama setelah Che Guevara meninggalkan Kuba, maka pihak lawan akan mengetahui bahwa Che Guevara tidak berada di Kuba melainkan sedang berada di tempat lain untuk melakukan perlawanan. Ini tentu akan berbahaya bagi keselamatan Che Guevara.

Jadi, Fidel Castro memutuskan menyimpan surat itu sampai kabar kematian Che Guevara terbukti. Fidel Castro membacakan surat itu dalam sebuah upacara untuk mengenang Che Guevara.

Di dalam surat itu Che mengatakan, kira-kira begini kalau diterjemahkan, “Saya memiliki tugas yang tidak bisa Anda lakukan. Saya ingin melanjutkan menyebarkan revolusi.”

Jadi bukan karena mereka memiliki perbedaan pandangan terkait hegemoni Uni Soviet?

Bukan karena itu. Mereka adalah dua sahabat yang kerap berdiskusi dan memiliki saling pengertian dan ketulusan dalam perjuangan.

Di Institut Che Guevara semua rekaman perjalanannya termasuk ke Indonesia dipamerkan oleh keluarga.

Apakah Che Guevara dianggap sebagai pahlawan nasional?

Ya, tentu saja. Bahkan hari-hari ini kami sedang memperingati kematian dirinya. Di Kuba murid-murid di sekolah diajarkan untuk mengikuti keteladanan Che Guevara.

***

Che Guevara ditangkap pasukan Bolivia dan dieksekusi di dalam ruang kelas di sebuah sekolah di La Higuera, 9 Oktober 1967. Sembilan peluru menghujam tubuhnya.

Mendengar kabar kematian Che, Fidel awalnya menolak untuk percaya.

Tentara Bolivia memotong kedua tangan Che dan mengirimkannya ke Argentina, lalu ke Kuba untuk mengkonfirmasi kematian Che.

Tubuh Che Guevara dimakamkan di sebuah tempat yang dirahasiakan. Di tahun 1995 seorang pensiunan tentara Bolivia membongkar misteri kuburan Che dan beberapa temannya.

Tahun 1997 kuburan itu dieskavasi, dan tulang belulang Che dibawa ke Kuba, ke tempat peristirahatan terakhirnya di Santa Clara.

Dubes Sudan Abdalla: Mengapa Berpisah Kalau Semua Hak Anda Dijamin

SELAIN Afrika, Sudan juga tengah memasuki era baru. Era baru yang lebih menantang dan menjanjikan.

Dalam wawancara dengan Majalah Republik Merdeka beberapa waktu lalu Dutabesar Republik Sudan Elsiddieg Abdulaziz Abdalla berbagi cerita tentang angin perubahan itu.

Setelah Presiden Omar Al Bashir yang mulai berkuasa pada 1985 berhasil ditumbangkan dari kekuasaannya pada April 2019, kelompok pendukung revolusi yang terdiri dari kelompok sipil dan kelompok militer sepakat membentuk pemerintahan transisi dan membagi rata kekuasaan di antara mereka. Pemerintahan transisi inilah yang ditugaskan untuk mempersiapkan pemilihan umum yang credible dalam waktu tiga tahun.

Continue reading “Dubes Sudan Abdalla: Mengapa Berpisah Kalau Semua Hak Anda Dijamin”

Dutabesar Abdalla: Afrika (Kembali) Melihat Indonesia

INDONESIA kembali memainkan peranan penting dalam hubungan dengan negara-negara di benua Afrika. Di tahun 1955 silam, Presiden Sukarno mengundang bangsa-bangsa Asia dan Afrika yang baru merdeka di akhir Perang Dunia Kedua untuk berkumpul di Bandung. Dalam Konferensi Asia-Afrika itu dirumuskan satu dokumen politik yang diberi nama Dasa Sila Bandung, yang dalam prinsipnya mendoronga agar negara-negara yang baru merdeka di Asia dan Afrika mengembangkan kerjasama yang positif dan konstruktif dengan sesama mereka.

Kini, giliran Presiden Joko Widodo yang mengambil inisiatif merapatkan kembali hubungan Indonesia dengan benua Afrika. Di tahun 2018, Kementerian Luar Negeri menggelar Indonesia-Africa Forum (IAF). Di tahun 2019, pembicaraan ditingkatkan ke level yang lebih konkret dalam pertemuan Indonesia-Africa Infrastructure Dialogue (IAID).

Continue reading “Dutabesar Abdalla: Afrika (Kembali) Melihat Indonesia”

Dubes Al Hamar: Jalan Keluar Perseteruan Dan Perselisihan Adalah Dialog

SIAPAPUN tahu Qatar adalah salah satu pendukung utama war on terror yang dipimpin Amerika Serikat menyusul serangan terhadap Menara WTC di New York pada 11 September 2001. Qatar memberikan kesempatan kepada pasukan multinasional yang dipimpin AS untuk menggunakan wilayahnya sebagai pangkalan militer. Dukungan Qatar pada perang melawan teror berlangsung hingga kini.

Di pertengahan 2017, hubungan Qatar dengan negara-negara tetangganya memburuk. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, Maladewa, Senegal, Djibouti, Komoro, Jordania, pemerintahan Libya di Tobruk dan pemerintahan Yaman yang dipimpin Hadi, menghentikan hubungan diplomatik dengan Qatar.

Continue reading “Dubes Al Hamar: Jalan Keluar Perseteruan Dan Perselisihan Adalah Dialog”

Dubes Al Hamar: Bagi Qatar, Indonesia Negara Yang Penting

DAWLAT Qatar atau Negara Qatar terletak pada wilayah geografis yang unik. Di tengah Teluk Parsi, di sebuah semenanjung di sisi timur jazirah Arab. Berbatasan langsung dengan Saudi Arabia di selatan. Dipisahkan oleh laut dengan Uni Emirat Arab di sebelah tenggara, dengan negara pulau Bahrain di baratdaya, dan dengan Iran di seberang timur.

Negeri semenanjung seluas 11.581 kilometer persegi itu dipimpin Bani Thani sejak tahun 1868 saat Mohammed bin Thani dan Inggris menandatangani pemisahan Qatar dan  Bahrain yang sebelumnya diikat perjanjian dengan Inggris pada 1820. Pada periode 1871 hingga 1915 Qatar berada di bawah pengaruh Turki Ustmaniah, dan sejak 1916 hingga 1971 berada di bawah perlindungan Inggris.

Continue reading “Dubes Al Hamar: Bagi Qatar, Indonesia Negara Yang Penting”