Media Revolusi

ADA dilema saat menerima undangan itu pertengahan Januari yang lalu.

Red de Intelectuales y Artistas en Defensa de la Humanidad atau Jaringan Intelektual dan Seniman Pembela Kemanusiaan, sebuah organisasi yang berafiliasi dengan Kementerian Kebudayaan Venezuela, mengharapkan kehadiran saya dalam sebuah forum internasional yang diikuti sekitar 40an peserta dari 20an negara.

Selain Red, forum bertema “Revolusi dan Era Perubahan di Abad 21” itu juga didukung Instituto Simon Bolivar (ISB) dan Institutos de Altos del Pensamiento del Comandante Supremo Hugo Rafael Chavez Frias.

Forum internasional ini digelar dalam rangka memperingati Kudeta yang dilakulan Chavez dan kawan-kawan sayap militernya, Revolutionary Bolivarian Movement-200 atau Movimiento Bolivariano Revolucionario 200 (MBR-200), pada 4 Februari 1992.

Upaya menggusur Presiden Carlos Andres Perez dari Palacio de Miraflores itu gagal. Chavez menyerah. Dia dan pendukungnya dijatuhi hukuman penjara.

Namun menggagalkan kudeta kelompok Chavez — yang gelombang keduanya terjadi di bulan November 1992 — tak bisa menyelamatkan karier politik Perez. Kekuasaannya semakin lemah. Di bulan Maret 1993, Perez digugat Jaksa Agung dalam kasus penggelapan uang.

Pada Mei di tahun itu juga Mahkamah Agung menyatakan Presiden Perez bersalah, dan sehari kemudian Parlemen melucuti semua kekuasaan yang dimilikinya. Presiden Perez digulingkan.

Tahun 1994, Presiden Rafael Caldera (pemerintahan kedua) membebaskan Chavez. Tahun 1997, Chavez meng-upgrade gerakannya menjadi Fifth Republic Movement atau Movimiento V República (MVR). Setahun kemudian, Chavez memenangkan pemilihan presiden.


Undangan itu membuat dilema, karena bila menghadirinya saya tidak akan dapat mengikuti ulang tahun Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) dan Hari Pers Nasional (HPN) 2022 yang keduanya diselenggarakan di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Saya dijadwalkan berangkat tanggal 31 Januari. Lalu transit di Istanbul, Turki selama 22 jam. Tiba di Venezuela tanggal 2 Februari. Konferensi diselenggarakan selama dua hari, tanggal 3 dan 4 Februari di bekas kediaman presiden Venezuela sebelum era Chavez, La Casona Cultural.

Tanggal 5 Februari ada satu kegiatan kebudayaan di bario St. Agustin, dan tanggal 6 Februari saya dijadwalkan kembali ke Jakarta via Istanbul — di mana saya harus transit lagi selama 22 jam — dan mendarat di Jakarta tanggal 8 Februari petang.

Pilihan yang sulit, karena dua kegiatan di tanah air, HUT JMSI dan HPN 2022, bernilai penting. Apalagi ulang tahun ke-2 JMSI. Ini akan jadi ulang tahun spesial karena diselenggarakan tidak lama setelah organisasi perusahaan pers itu diresmikan sebagai Konstituen Dewan Pers.

Setelah menarik nafas sejenak, saya putuskan berangkat ke Venezuela. Pertimbangannya antara lain, saya sudah menyampaikan pokok-pokok penting yang harus dilakukan JMSI setelah jadi konstituen Dewan Pers dalam Rakorsus di Bandung, Jawa Barat, Januari lalu.

Memang, karena bersifat khusus, tidak semua unsur pimpinan daerah hadir. Tapi saya percaya, pokok-pokok pikiran itu akan cepat disosialisasikan.

Pertimbangan lain, saya merasa perlu untuk tampil sebagai representasi Indonesia. Bagaimana pun juga, masyarakat dunia perlu diingatkan kembali bahwa Indonesia pernah menjadi ibukota revolusi. Para pendiri bangsa kita ikut mengambil inisiatif untuk membangun kesadaran kemerdekaan di Asia dan Afrika. (Ini sudah saya sampaikan di hadapan peserta konferensi.)

Saya sedang menjalani karantina di sebuah hotel di Jakarta Selatan ketika menuliskan hal ini. Persis di Hari Pers Nasional (HPN) 2022. Dan karenanya, tulisan singkat ini saya dedikasikan untuk kita semua, praktisi pers dan kaum revolusioner di manapun berada. Semoga ada pelajaran yang bisa dipetik..


Di Caracas, penyelenggara meminta saya membagi pandangan mengenai hubungan pers dan revolusi. Di sesi ketiga.

Hal pertama yang saya sampaikan adalah bahwa pers dan perubahan sosial, terserah bagaimana kita menyebutnya — bisa reformasi, bisa revolusi, dan sebagainya — adalah seperti saudara satu sama lain. Mereka tumbuh di alam penindasan, dan karenanya memiliki pengalaman dan perasaan yang sama.

Perubahan sosial rasanya selalu memanfaatkan — atau diuntungkan oleh — pers. Pers mempercepat dan memperdalam penyebaran api perlawanan.

Ketika pers membuka pintu bagi kemerdekaan, persis di saat yang sama, dia menutup pintu bagi penjajahan.

Setidaknya, langkah pertama yang dilakukan pers adalah membangun narasi “kita” (terjajah) untuk membedakan dengan “mereka” (penjajah).

Di masa-masa perjuangan, hubungan keduanya sangat erat. Namun setelah kemenangan diraih, ada kalanya pers dan kaum revolusioner berselisih paham.

Bila kaum revolusioner yang sudah jadi penguasa itu sangat kuat, dia bisa membengkokkan pers. Bila sebaliknya, pers yang akan meluruskannya.

Tapi sering juga penguasa dan pers, karena tumbuh bersama bagaikan saudara, sepakat untuk sama-sama bengkok. Habis perkara.

Belum.

Akan hadir pers baru dan kaum revolusioner baru. Membuka bab baru.

Kapan?

Kita tunggu. []

Published by

TeguhTimur

Born in Medan, lives in Jakarta, loves Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s