Dubes Turki Prof. Kılıç: Kami Tidak Mengubah Aya Sofya Menjadi Diskotik

RASANYA Prof. Dr. Mahmut Erol Kılıç adalah orang yang tepat untuk menjelaskan duduk persoalan ini: keputusan pemerintah Turki mengembalikan fungsi Aya Sofya sebagai masjid.

Pria kelahiran Istanbul, 2 Juni 1961, ini adalah Dutabesar Republik Turki untuk Republik Indonesia. Ia pernah menjadi Presiden Museum Turki dan Islam selama tiga tahun dari 2005 hingga 2008.

Tesis untuk gelar master di Universitas Marmara yang ditulisnya tahun 1988 berjudul “Hermes and Hermetic Thought in the light of Islamic Sources”. Di tahun 1993, setelah pembentukan Jurusan Sufisme di Universitas Turki yang dipimpinnya, Prof. Kılıç menulis disertasi berjudul “Existence and its Stages in Ibn Arabi’s Thought”.

Pikiran-pikirannya dalam studi sejarah dan filsafat Islam baik dalam bahasa Turki maupun Inggris telah diterbitkan di banyak ensiklopedia dan jurnal ilmiah. Sebanyak 16 buku telah dihasilkannya. Belum lagi pikiran-pikiran yang dipresentasikan di berbagai fora baik di Turki maupun di luar negeri.

Sebelum bertugas di Jakarta sejak tahun lalu, Prof. Kilic menempati posisi sebagai Sekretaris Jenderal Parliamentary Union of the Organization of Islamic Cooperation Member States (PUIC) yang berada di Tehran, Iran, (2008-2018).

Saat meminta kesediaan dirinya ditugaskan sebagai Dubes di Jakarta, Presiden Recep Tayyip Erdogan berpesan agar Prof. Kılıç mengeksplorasi berbagai peluang yang dapat dikerjakan Indonesia dan Turki agar hubungan baik kedua negara dapat segera melangkah dari sekadar historis dan emosional menjadi lebih bernilai ekonomis dan strategis.

Ketika bertemu Prof. Kılıç di ruang kerjanya di Kedubes Turki, Jalan H.R. Rasuna Said, hal pertama yang kami tanyakan adalah situasi pandemi Covid-19 dan strategi Turki mengatasinya. Kebetulan Prof. Kılıç baru beberapa hari tiba dari Turki setelah untuk beberapa bulan “mengunci diri” di tanah kelahirannya.

Segera setelah pertanyaan mengenai Covid-19 itu terjawab tuntas, kami ajukan pertanyaan kedua, tentang Aya Sofya.

“Kami tidak mengubah fungsinya. Kami tidak menjadikannya rumah penitipan hewan (animal house), atau diskotik. Kami memperlakukannya sebagai tempat ibadah,” ujarnya menjawab pertanyaan Republik Merdeka.

Prof. Kılıç juga menjelaskan berbagai isu yang selama ini digunakan pihak-pihak tertentu untuk menekan Turki. Misalnya tentang pemimpin pemberontak dan inspirator kudeta 2016 Fethullah Gulen yang sampai kini masih dilindungi Amerika Serikat.

Hal lain yang dijelaskannya adalah hubungan Turki dengan dua raksasa dunia, yakni AS dan Rusia. Di satu sisi AS adalah sekutu Turki, namun di sisi lain, AS memberikan dukungan yang signifikan kepada kelompok-kelompok yang melakukan makar dan pemberontakan. Prof. Kılıç pun menjelaskan perkembangan terakhir dari upaya Turki menjadi anggota Uni Eropa.  

Hal lain yang dijawab Prof. Kılıç adalah tuduhan bahwa Turki (Ottoman) melakukan genosida terhadap bangsa Armenia pada tahun 1915.

“Kalau mereka membunuh kami, mereka tidak mengatakan itu genosida. Tetapi bila kami membela diri kami mereka bilang itu genosida,” ujarnya.

Berikut petikannya:

Bisa Anda ceritakan bagaimana perkembangan virus corona baru atau Covid-19 di Turki?

Apabila kita bandingkan dengan beberapa negara lain, khususnya negara-negara Eropa seperti Italia, Spanyol, Inggris, dan Prancis, perkembangan pandemi Covid-19 di Turki relatif lebih rendah. Hampir sebulan lalu kami menghadapi puncak (peak). Sekarang sudah menurun. Kemarin, contohnya, hanya ada 17 orang yang meninggal dunia. Sementara kasus baru Covid-19 kurang dari 1.000 kasus dalam satu hari. Jumlah pasien terinveksi yang sembuh juga sangat tinggi. Kemarin yang sembuh dari Covid-19 sekitar 2.000 orang. Jadi jumlah orang yang sembuh lebih banyak dari kasus inveksi baru.

Kapasitas peralatan kesehatan, ketersediaan tenaga kesehatan, dan tempat tidur di rumah sakit kami juga baik sekali. Pada saat peak yang lalu kapasitas tempat tidur yang terpakai hanya 40 persen, tidak mencapai 50 persen. Rumah sakit Turki di Istanbul, Ankara, dan kota-kota lain sangat modern dan memiliki kapasitas yang tinggi. Kami memiliki jumlah dokter dan perawat yang cukup.

Pernyataan ini saya sampaikan bukan karena saya adalah seorang duta besar. Badan Kesehatan Dunia (WHO) juga datang dan melihat, lalu mengatakan bahwa Turki menangani pandemi Covid-19 ini dengan sangat baik. Saya harap penyakit ini akan segera hilang dari muka bumi. Kita berdoa.

Jadi saya dapat mengatakan bahwa kasus di Turki relatif rendah, dan juga kami tidak menyembunyikan apapun. Kami tidak ragu untuk melakukan tes. Dalam satu hari kami melakukan sekitar 50 ribu tes. Kalau kami melakukan tes hanya 1.000 tentu jumlah kasus terlihat sangat kecil. Tapi kalau Anda meningkatkan jumlah tes, tentu saja Anda akan mendapatkan jumlah kasus yang lebih banyak.

Kementerian Kesehatan Turki telah bekerja dengan sangat baik. Ini tidak terlepas dari peluang yang diberikan Presiden Recep Tayyip Erdogan kepada kelompok profesional dan ahli di sebuah bidang untuk ditunjuk sebagai menteri. Termasuk dalam dalam hal ini adalah Menteri Kesehatan Fahrettin Koca.

Sebelum menjabat sebagai Menteri Kesehatan sejak 2018, ia adalah seorang dokter medis dan direktur sebuah rumah sakit swasta. Dengan demikian ia memahami benar bagaimana cara menghadapi situasi darurat seperti Covid-19.

Sebelumnya, seseorang yang ditunjuk sebagai menteri harus berasal dari kalangan anggota Parlemen (Türkiye Büyük Millet Meclisi). Aturan inilah yang diubah Presiden Erdogan. Kini seorang menteri bisa ditunjuk dari Parlemen atau bisa juga dari kalangan profesional dan ahli.

Contoh lain adalah Menteri Pariwisata Mehmet Nuri Ersoy. Dia sangat terkenal, dan memiliki perusahaan wisata yang juga sangat besar. Sebelumya dia juga bukan anggota Parlemen.

Ini menarik. Kita tahan dulu isu Covid-19. Banyak yang mengatakan, ada potensi conflict of interest manakala seorang menteri berasal dari kalangan profesional. Bagaimana menurut Anda?

Gagasan ini tentu saja di satu sisi menguntungkan (advantageous) dan di sisi lain tidak menguntungkan (disadvantageous). Di Turki, hal ini (penunjukan kalangan profesional sebagai menteri) tidak berlaku untuk semua posisi menteri.

Sebagai contoh untuk posisi menteri yang mengurusi sektor pariwisata. Kami sebetulnya mengkombinasikan dua hal yang berbeda dalam satu kementerian, yakni budaya dan pariwisata. Namanya adalah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kültür ve Turizm Bakanlığı).

Kita tahu aktivitas kebudayaan tidak menghasilkan banyak uang. Sebaliknya, ia (aktivitas kebudayaan) membutuhkan anggaran yang cukup besar. Anda harus mensponsori eskavasi arkeologi, mengoperasikan museum, membeli artefak-artefak, mengorganisir kegiatan internasional. Semua itu membutuhkan banyak uang. Di sisi lain, sisi pariwisata menghasilkan pendapatan. Itu sebabnya dua bidang ini disatukan sehingga kegiatan kebudayaan dapat dibiayai oleh aktivitas pariwisata.

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Turki memiliki latar belakang yang kuat di sektor pariwisata. Dia bukan seorang akademisi, bukan seorang budayawan. Dia memberikan perhatian yang besar untuk sektor pariwisata. Sektor pariwisata kami sebelum pandemi berkembang sangat positif dan profesional.

Minggu lalu Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menyelesaikan masalah dengan pihak Rusia. Turis nomor satu yang mengunjungi Turki adalah Rusia. Karena jaraknya sangat dekat, sekitar satu atau dua jam penerbangan dari Moskow. Turis dari Rusia suka matahari terbit (sun shine) dan berenang di laut. Mereka terbang langsung dari Moskow ke Antalya. Kami punya hotel-hotel bintang lima di Antalya dan juga pantai-pantai yang indah.

Saya harus mengakui di antara dua sayap di Kementerian ini, sayap turisme naik, sementara sayap kebudayaan tetap seperti apa adanya. Dalam keadaan berimbang.

Saya ingat, museum di Ankara adalah salah satu yang terbaik di dunia…

Museum terbesar di Turki ada di Istanbul, Istana Topkapi, yang di masa Emporium Ottoman menjadi tempat tinggal Sultan. Ankara adalah kota yang relatif baru dan cukup kecil, namun dipilih sebagai ibukota negara. Di sana ada museum arkeologi. Artefak-artefak di dalam museum itu tidak hanya datang dari Ankara, tetapi dari semua tempat di Turki.

Museum di Turki cukup profesional dan bagus. Saya sendiri pernah menjadi Direktur Museum Turki dan Islam di Istanbul selama tiga tahun.

Baik, kita kembali ke masalah Covid-19. Apakah Turki sempat memberlakukan lock down?

Ya, pada masa peak. Awalnya lock down dilakukan hanya dua hari dalam sepekan, di akhir pekan. Tidak sepanjang pekan. Lalu lock down diberlakukan selama empat hari dalam sepekan, dari Jumat sampai Minggu. Tetapi itu dirasa berlebihan. Maka sistemnya diubah. Dilakukan pembatasan. Orangtua yang berusia di atas 65 tahun harus berada di rumah. Juga yang berusia di bawah 17 tahun. Sekarang semua pembatasan sudah dihentikan.

Kini kami berada di situasi new normal. Tetapi pemerintah dan kementerian selalu memberikan peringatan khususnya bagi warga berusia lanjut untuk tinggal di rumah kalau tidak ada hal penting di luar rumah. Rakyat mematuhi. Anda tahu, Istanbul adalah kota yang sangat padat. Tetapi sekarang ini tidak ada kemacetan dan tidak terlalu banyak orang di jalanan.

Tentu ada beberapa yang masih beroperasi. Misalnya pertokoan yang cukup menderita karena mereka harus tetap membayar sewa. Dan mereka hanya dapat membayar sewa dari penjualan yang mereka lakukan. Kalau mereka tidak menjual apa pun, bagaimana mereka bisa membayar sewa toko. Apalagi kalau pemilik toko itu mempekerjakan dua atau tiga staf. Bagaimana mereka bisa membayar gaji kalau terus tutup.

Bagaimana dengan sekolah?

Sekarang tutup karena sedang libur musim panas. Tetapi saat awal pandemi, kami menutup semua sekolah. Kami juga menutup masjid saat itu, dan tidak ada shalat berjamaah. Tetapi azan tetap dilakukan walau pintu ditutup. Kalau Anda dengar azan, Anda shalat di rumah. Tidak bisa di masjid. Sekarang masjid sudah dibuka, tetapi tentu dengan memberlakukan social distance.

Isu yang paling menarik dari Turki saat ini adalah tentang Aya Sofya yang kembali dijadikan masjid. Bagaimana Anda menyikapi protes dari pihak-pihak yang keberatan dengan hal itu?

Ini dunia yang problematik. Apa pun yang Anda lakukan, mereka tidak akan puas. Pertama, kita harus tahu itu. Bagi Muslim, Tuhan itu satu. Tetapi apabila untuk memuaskan mereka kita katakan Tuhan itu tiga, mereka pun tidak puas. Saya tidak tahu mengapa.

Ayo kita letakkan masalah ini (Aya Sofya) pada tempatnya. Dalam catatan sejarah ada banyak imigrasi yang diakukan berbagai bangsa sebelum Abad Pertengahan, bahkan sebelum masa Yesus Kristus. Siapa pun datang (ke Istanbul) dari berbagai tempat. Juga di Indonesia, misalnya. Ada yang mengatakan, orang Indonesia datang dari India. Ada yang mengatakan orang Lombok dari Myanmar. Itu mungkin saja.

Bangsa Turki berasal dari Asia Tengah. Mereka berimigrasi ke barat. Ke Iran, misalnya. Sekarang ini lebih dari setengah orang Iran adalah keturunan Turki. Mereka menyebutnya Azeri yang merupakan salah satu suku dari bangsa Turki. Kami menggunakan bahasa yang sama. Juga di Uighur, sebanyak 30 juta orang Uighur di China adalah keturunan Turki. Juga di Kazakstan, Uzbekistan, dan sebagainya.

Istanbul adalah kota yang indah. Berbagai bangsa pernah tinggal di sana. Kalau Anda melihat sejarah Istanbul, Anda akan menemukan catatan tentang bangsa-bangsa yang pernah menetap di sana. Pertama, Thracian, lalu Iberian, kemudian Phrygian juga tinggal di sana. Beberapa dari mereka menetap selama 1.000 tahun, beberapa menetap selama seratus tahun.

Setelah Phrygian, bangsa Latin datang ke Istanbul, setelah itu bangsa Romawi, lalu bangsa Yunani. Jadi, tanah ini tidak hanya milik Yunani. Untuk beberapa waktu lamanya memang di bawah kontrol Yunani. Tetapi sebalum bangsa Yunani, yang berkuasa adalah Phrygian. Sebelum Phrygian, bangsa Iberian. Dan seterusnya. Intinya, banyak bangsa yang datang dan menetap.

Bagi bangsa Arab, karena ada nubuat Nabi Muhammad SAW yang mengatakan suatu hari nanti kota Konstantinopel akan ditaklukan oleh pemimpin pasukan Muslim, banyak Muslim yang pada dasarnya bangsa Arab, ingin menaklukkan Istanbul atau Konstantinopel. Banyak yang berusaha, dan banyak yang kembali (karena gagal).

Bahkan, ada sahabat Nabi Muhammad, namanya Abu Ayub Al Anshari, seorang yang sudah tua berusia 80 tahun, dia mendatangi Konstantinopel dengan pasukannya untuk memenuhi nubuat Nabi Muhammad SAW. Mereka gugur. Makamnya berada di dalam Istanbul.

Lalu tibalah masa Sultan Mehmet II yang masih sangat muda, 21 tahun. Dia dan pasukannya sudah menaklukkan kota-kota di sekitar Konstantinopel. Ankara sudah ditaklukkan, juga sisi timur Turki sudah berada di bawah kekuasaan pasukan Muslim. Lalu akhirnya dia berkata, “Aku mau menaklukkan Istanbul”. Karena hadis Nabi Muhammad SAW.

Dia beruntung dan sangat pintar. Dia memiliki strategi khusus untuk menaklukkan kota itu. Tetapi yang juga perlu diketahui, ketika Sultan Mehmet II hendak menaklukkan kota itu, Emporium Byzantium sedang melemah sehingga akhirnya Sultan Mehmet II berhasil menaklukkan Istanbul. Dia membuka gerbang. Kata Fatih yang kemudian menjadi gelarnya berarti pembuka (opener). Dia seorang Muslim yang baik, seorang intelektual, dan menghormati orang lain.

Sebelum Sultan Mehmet II menaklukkan Konstantinopel, bagaimana situasi di kota itu?

Kata Konstantinopel dibentuk dari dua kata. Konstantin dan polis atau kota. Tetapi sebelumnya, kota ini memiliki nama lain.

Istanbul terbagi dua yang dipisahkan Selat Bosporus. Satu sisi berada di Asia dan satu sisi lainnya berada di Eropa. Bangsa Phrygian menguasai bagian Asia dari Istanbul. Bangsa Roma datang dan mengatakan sisi Eropa dari Istanbul lebih indah. Saat itu ada bangunan khusus tempat penyembahan berhala. Mereka, bangsa Romawi, mengubah bangunan itu menjadi gereja umat Kristen. Sementara itu di kalangan umat Kristiani, ada banyak perdebatan, misalnya mengenai icons dan status Yesus Kristus. Ini cerita yang sangat panjang. Mereka terbelah.

Menurut Katolik Roma, patung tiga dimensi Yesus Kristus boleh disembah. Sementara Gereja Ortodoks mengatakan, patung tidak boleh digunakan dalam pernyembahan. Tetapi gambar boleh. Banyak sekali diskusi seperti ini di kalangan mereka.

Kemudian, di atas tempat pemujaan berhala itu penguasa Byzantium memerintahkan pembangunan gereja besar yang diberi nama Hagia Sophia. Menurut legenda yang dapat Anda baca dari banyak sumber, penguasa Byzantium itu mengatakan dirinya bermimpi. Di dalam mimpi, ada yang mengatakan Tuhan, ada yang mengatakan Yesus Kristus, memintanya membangun gereja di tempat itu. Saat itu disebutkan, gereja ini adalah yang terbesar.

Di sisi lain, Istanbul juga berada dekat dengan patahan tektonik. Sering kali gempa bumi terjadi. Terkadang bangunan itu rusak, lalu dibangun lagi. Begitu seterusnya.

Setelah gereja berdiri, mereka memilih Orthodox, bukan Katolik. Pada suatu masa Gereja Katolik Roma memerintahkan umat Katolik untuk melakukan perang suci (Crusade) ke Jerusalem. Mereka datang dari Eropa, melewati Istanbul (Konstantinopel), lalu ke Anatolia. Bangsa Romawi yang sedang dalam perjalanan menuju Jerusalem untuk Perang Suci itu menghancurkan Konstantinopel. Mereka juga menghancurkan Aya Sofya. Ini tertulis di dalam sejarah. Mereka membunuh pendeta, karena mereka Orthodox.    

Ketika Sultan Mehmet II Al Fatih menaklukkan Istanbul, Byzantium sedang mengalami pelemahan (declining). Sejarawan menyebutkan, Aya Sofya seperti puing-puing (ruins). Dibutuhkan banyak biaya untuk memperbaikinya.

Menurut tradisi Turki dan Islam, dalam perang melawan yang lain (others), bila mereka menang, mereka akan membunuh kita. Bila kita menang, kita akan tetap memberikan hak kepada mereka. Tentu saja, tidak lebih besar dari kita, karena kita yang menang. Tetapi yang jelas mereka akan berada di bawah perlindungan kita.

Begitu juga dalam penaklukan Konstantinopel. Ada pernyataan tertulis dari Sultan Mehmet II Al Fatih yang memberikan perlindungan kepada penduduk Konstantinopel. Dia mengatakan, “Kalian semua bebas. Keamanan Anda adalah keamanan saya. Kalian tidak membunuh kami, kami tidak akan membunuh kalian. Perang sudah berakhir.” Semua gereja dikembalikan. Pemimpin Gereja Orthodox juga menandatanganinya.

Di sisi lain, menurut hukum yang berlaku di kalangan militer Turki ketika itu, apabila ada rumah ibadah terbesar, apakah itu katedral, kuil, candi, apa pun itu, harus menjadi milik kami dan diubah menjadi masjid. Sementara rumah ibadah yang lebih kecil, silakan digunakan seperti biasa. Karena ini (menguasai rumah ibadah terbesar) adalah simbolisasi untuk memperlihatkan kekuatan (power) pada masa itu di Abad Pertengahan.

Itulah yang terjadi dengan Hagia Sophia. Sultan Mehmet II Al Fatih mendatanginya bersama pasukannya, juga ilmuwan dan cerdik pandai. Di dalam gereja itu banyak lukisan Yesus Kristus. Di pintu gereja Sultan Mehmet II mengucapkan, “Assalamualaikum.” Lalu mereka shalat dua rakaat.

Setelah itu dia mengatakan, “Saya membeli gereja ini. Saya akan menyerahkan uang untuk mendapatkan gereja ini dan membuatnya sebagai waqaf. Untuk selamanya ini akan menjadi tempat ibadah. Apa pun yang dibutuhkan akan saya berikan untuk memperbaiki bangunan ini.”

Di dalam tradisi Islam ada menara untuk memperlihatkan bahwa sebuah bangunan adalah masjid. Sultan Mehmet II memerintahkan arsitek untuk membangun menara. Sebelumnya tidak ada menara karena itu adalah gereja. Salah satu menara yang dibangun itu pernah jatuh karena gempa bumi. Lalu mereka bangun lagi. Itu semua di era Emporium Ottoman. Relik dan lukisan-lukisan di dalamnya tidak dihancurkan.

Sultan Mehmet II memerintahkan agar mereka (arsitek) menggunakan bahan khusus yang tidak merusak untuk menutupi gambar itu karena Muslim tidak menyembah Yesus Kristus. Muslim menyembah Allah SWT. Ini “garis merah” dalam ajaran Islam. Kita menghormati Nabi Isa AS, tetapi dia bukan Allah, juga bukan anak Allah. Kita shalat menghadap kiblat. Tidak boleh ada gambar di arah kiblat karena kita tidak menyembah gambar. Misalnya, ada foto Sultan Mehmet II Al Fatih di depan kiblat, saya tidak bisa shalat di sana. Jadi, di bagian kiblat tidak boleh ada gambar, patung, dan sebagainya. Ini hal penting.

Dan hampir selama 500 tahun Aya Sofya menjadi masjid. Banyak cendekiawan, imam, Sultan, shalat dan tinggal di sana. Beberapa dari mereka berwasiat agar dikuburkan di taman Aya Sofya.

Bahkan, mereka (Emporium Ottoman) tidak mengubah namanya, karena Aya Sofya adalah tempat beribadah. Di Turki, ada masjid yang disebut Masjid Gereja (Church Mosque). Bahkan mereka tidak mengubah kata gereja.

Mengapa mereka tidak mengubah nama Aya Sofya?

Karena filosofinya seperti ini dan ini sangat penting, tolong garis bawahi. Tempat itu suci. Saat masih berfungsi sebagai gereja, itu adalah tempat suci. Sebuah tempat ibadah harus terus menjadi tempat ibadah. Anda tidak mengubah fungsinya. Kalau Anda mengubahnya dari gereja menjadi masjid, itu OK.

Bandingkan dengan apa yang terjadi di Eropa. Di Beograd, Serbia, ada sekitar 300 masjid yang dibangun di era Ottoman. Di Athena, Yunani, ada hampir 100 masjid. Di seluruh kawasan Balkan pernah ada hampir 1.000 masjid. Dimana masjid-masjid itu sekarang? Hampir semua mereka hancurkan. Dan tidak sedikit yang mereka ubah menjadi diskotik, klub malam, toko kelontong, restoran, dan sebagainya. Ini masih berlangsung.

Aya Sofya adalah simbol untuk memperlihatkan nasionalisme. Mereka (Barat) tidak pernah menerima bahwa 500 tahun lalu Konstantinopel ditaklukkan oleh pasukan Muslim. Peristiwa itu tidak terjadi kemarin, peristiwa itu terjadi 500 tahun lalu. Kami tidak mengubah fungsinya. Kami tidak menjadikannya rumah penitipan hewan (animal house), atau diskotik. Kami memperlakukannya sebagai tempat beribadah.

Bagaimana respon tokoh-tokoh agama di Turki saat Masjid Aya Sofya diubah menjadi museum di era 1930an?

Ketika pemimpin sekular dari Turki modern memutuskan mengubah status Aya Sofya dari tempat ibadah menjadi tempat sekular yaitu museum, banyak pendeta Kristen yang datang dan memohon agar itu tidak dilakukan. Bahkan saat ini Anda masih dapat melihat di media sosial tentang seorang pendeta di Palestina dan juga Jerman yang berterimakasih karena Turki telah mengembalikan Aya Sofya menjadi tempat suci kembali.

Jadi ini bukan soal agama, ini soal politik. Sampai sekarang, beberapa teman Yunani, khususnya yang ultra nasionalis, tidak pernah mencerna bahwa mereka kalah dalam perang itu. Dan, itu terjadi 5 abad yang lalu, bukan kemarin.

Kalau Anda lihat di beberapa website Yunani, mereka (membuat foto) menghilangkan menara dan memasangkan salib. Mereka katakan, “Aya Sofya, suatu hari nanti kami akan merebutmu.”

Percaya saya, bila tidak ada bangsa Turki tidak ada Yunani. Karena Yunani dan  beberapa kelompok Orthodox membutuhkan musuh. Mereka membutuhkan pihak lain (others). Mereka “menciptakan” kami. Padahal kami bukan musuh mereka. Kami mengerjakan pekerjaan kami. Kami menghormati mereka.

Leluhur saya, misalnya, berasal dari kawasan Balkan. Mereka membunuh kakek saya. Tapi saya melupakannya.

Indonesia ratusan tahun lalu penduduknya banyak yang beragama Hindu. Jadi (apakah) seluruh Indonesia harus kembali menjadi Hindu dan masjid-masjid Anda harus menjadi kuil Hindu? Ini tidak masuk akal. Beberapa dari kuil-kuil itu telah berubah. Beberapa masih berdiri di Bali.

Kita harus menghormati satu sama lain. Perang itu tidak terjadi kemarin. Mereka mungkin sekali berpikir seperti itu (terjadi kemarin). Bahkan, ada generasi muda yang mengatakan, “Mr. Erdogan mengubah gereja menjadi masjid.”

Saat ini di Istanbul saja terdapat 40 gereja dan banyak umat Kristiani yang mengunjunginya. Sayangnya, tidak ada satu masjid pun di ibukota negara Eropa, yaitu Athena. Mereka harus berkaca pada diri mereka sendiri sebelum mengajarkan toleransi kepada kami.

Bung, itu terjadi 500 tahun lalu. Ini (pemahaman sempit soal Aya Sofya) terjadi karena media. Anda tahu ada monopoli media internasional. Empat atau lima agensi media internasional, saya tidak mau menyebutkan mereka. Mereka punya kolam berita (pool of news). Wartawan lokal dapat mengunjungi website mereka. Bila perusahaan media lokal membayar biaya subscription yang regular, mereka dapat mengambil berita dari website itu dan mempublikasinya.

Saya pernah bertemu dengan media di Indonesia dan semua berita mengenai Turki yang mereka publikasikan mereka ambil dari monopoli agensi media internasional yang kita semua tahu siapa. Saya tidak mengatakan agar Anda tidak mengambil berita dari mereka. Tetapi, tolong, ambil juga dari media kami. Tidak perlu dari Kedutaan Besar Turki, maksud saya. Ada banyak media dan cendekiawan independen di Turki.

Walaupun saya seorang dutabesar, tetapi saya bukan diplomat karier. Saya adalah profesor dari universitas. Bahkan saya dapat mengkritisi bila pemerintah saya melakukan sesuatu yang menurut saya keliru. Saya tidak mengatakan apa pun yang kita lakukan adalah benar. Tetapi, kita membutuhkan objektivitas.

Saya akan jelaskan juga kepada Anda dari sudut pandang turisme. Ketika Aya Sofya adalah museum, harga tiket masuk sangat mahal. Sekitar 40 dolar AS. Kementerian kami mendapatkan uang banyak hanya dari tiket masuk. Sekarang Aya Sofya adalah masjid, dan gratis, terbuka untuk semua orang.

Telah dikatakan oleh Presiden Erdogan, seperti Masjid Biru di seberangnya, di belakang Masjid Aya Sofya ada jalur khusus yang dapat digunakan pengunjung atau orang Islam yang sedang tidak shalat untuk dapat melihat bangunan masjid.

Apakah setelah Aya Sofya Kembali menjadi masjid, Turki akan tetap memelihara semua relik dan lukisan?

Semua akan dipelihara. Mereka akan menggunakan teknologi modern, saya tidak tahu bagaimana menyebutnya, sejenis laser atau pencahayaan model baru yang tidak merusak lukisan. Pada saat shalat dilakukan sistem pencahayaan ini akan fokus pada lukisan, dan lukisan itu menjadi gelap sehingga tidak seorang pun yang bisa melihatnya. Dan ketika shalat selesai, sistem pencahayaan  khusus itu akan dinonaktifkan, dan lukisan kembali telihat. Jadi tidak perlu menutupinya lagi.

Mengenai waktu yang dipilih untuk mengembalikan fungsi Aya Sofya menjadi tempat ibadah, mengapa dilakukan saat ini? Apakah langkah ini tidak mengganggu upaya Turki menjadi anggota Uni Eropa?

Tentu saja ini akan menimbulkan masalah. Tetapi, seperti yang telah saya sampaikan, apa pun yang kami lakukan mereka (Eropa) tidak puas karena kami adalah Muslim. Walaupun mereka mengatakan tidak fanatik untuk agama tertentu, tetapi di dalam pikiran mereka memiliki penolakan terhadap kami.

Dalam 40 tahun terakhir Turki berusaha menjadi anggota Uni Eropa. Mereka tidak pernah mengatakan tidak. Mereka mengatakan, “Baiklah, siapkan diri Anda. Ubah sistem birokrasi Anda.” Dan seterusnya.

Apa pun yang mereka minta, kami lakukan. Kami melakukan amandemen konstitusi (untuk memenuhi permintaan Uni Eropa). Dan setiap tahun, komisioner dari Uni Eropa datang untuk memeriksa kami. Mereka mengatakan, “OK, ini perkembangan yang baik. Tetapi masih ada kekurangan. Tahun depan kami akan kembali.”

Ketika mulai berkuasa hampir 17 tahun lalu, Presiden Erdogan juga ingin (eager) bergabung dengan Uni Eropa.

Di saat bersamaan, lihat negara-negara Balkan yang telah dıterima sebagai anggota Uni Eropa, secara ekonomi, jumlah penduduk, industri, tingkat korupsi dan hak azazi manusia, apakah mereka lebih layak dan lebih kuat dibandingkan dengan Turki?

Lalu Presiden Erdogan pelan-pelan mulai terganggu. Dia berkata, “Kalian bermain-main dengan kami. Kalian menggunakan double standard. Karena kami Muslim, kalian tidak menginginkan kami.”

Awalnya mereka (negara-negara Eropa) mengatakan, “Turki adalah negara besar. Kami ingin Turki bergabung dengan kami. Ini akan memberikan kita (Uni Eropa) kekuatan bila Turki bergabung.” Banyak hal-hal yang mereka lebih-lebihkan (exaggeration) dan banyak kebohongan (lies) yang mereka sampaikan.

Kelompok ultra kanan di Eropa mengatakan dengan tegas, “Tidak ada yang ingin Anda (Turki) di sini (Uni Eropa). Anda Muslim, pergi. Anda orang Timur. Warna kulitmu berbeda dengan warna kulit kami. Kami orang Eropa. Kami putih.”

Presiden Erdogan mulai marah dan mengatakan, bila mereka (Uni Eropa) mempermainkan kami (Turki), kami punya kehormatan, kami punya harga diri. Terlalu banyak hal yang mereka minta dari kami. Jadi, kami tidak mau masuk Uni Eropa. Kami tidak butuh, sebenarnya. Kami punya banyak teman di seluruh dunia. Kami dapat pergi ke Asia.

Presiden Erdogan meminta semua orang untuk memberikan perhatian ekstra ke Asia, seperti ke Iran, Rusia, China, Indonesia, Malaysia, dan sebagainya.

Eropa mengira kami tidak punya alternatif. Mereka kira, Turki harus menjadi budak mereka. Mereka menganggap dirinya tuan (master), dan kami budak (slave). Tetapi tidak. Kami dapat berkerjasama dengan negara lain.

Lalu, beberapa dari mereka (negara anggota Uni Eropa) mulai khawatir. Populasi di Eropa kecil. Populasi Turki sekitar 85 juta jiwa. Istanbul 17 juta. Bila populasi Yunani 10 juta, ditambah Bulgaria 5 juta, juga Makedonia dan Romania,  tidak bisa menyaingi populasi Istanbul. Jadi wajar bila beberapa dari mereka mulai khawatir.

Namun kami tahu, mereka punya lobi dimana-mana.

Karena kami adalah keturunan dari Ottoman, kami tidak bisa melupakan masa-masa ketika Ottoman berkuasa.

Beberapa ilmuwan yang objektif dari Serbia, dari Yunani, dari Bulgaria, mengatakan, periode terbaik yang dialami negara-negara itu adalah di masa Ottoman. Yunani membawa beberapa peninggalan dari Turki. Mereka mengatakan hal itu. Tetapi beberapa dari mereka (ilmuwan yang objektif) dibunuh oleh kelompok fanatik di Yunani.

Fanatisisme mereka diperbolehkan. Tetapi bila kami katakan kami memiliki harga diri, mereka mengatakan, “Anda teroris. Anda ingin menyerang kami.”

Padahal tidak. Kami hanya melindungi harga diri kami. Mereka tidak pernah menerima kami. Mereka tidak pernah menerima Anda, apakah Anda Kristen, Budha, atau apa pun. Karena Anda bukan orang Eropa. Kecuali kalau Anda patuh pada mereka dan menjadi budak mereka. Mereka lupa, zaman perbudakan sudah lewat. Merdeka!

Jadi, apakah Turki secara resmi telah menghentikan upaya menjadi anggota Uni Eropa?

Kami belum menghentikannya. Tapi untuk sementara kami letakkan di dalam laci. Kecuali mereka mengubah sikap dan pikiran mereka. Tidak hanya ada satu jalan. Kami punya banyak opsi. Kami punya banyak teman.

Bahkan di dalam Uni Eropa sudah mulai ada masalah. Anda lihat, kasus Brexit. Mungkin nanti langkah Inggris akan diikuti Spanyol, dan seterusnya. Kalau saja 40 tahun lalu Turki langsung diterima bergabung dengan Uni Eropa, mungkin Uni Eropa mendapatkan banyak keuntungan.

Sementara itu, saat ini banyak orang di Turki yang menganggap, tidak ada gunanya bergabung dengan Uni Eropa.

Jadi menurut Anda kini Uni Eropa kurang signifikan?

Ya, kurang signifikan.

Bagaimana hubungan Turki dengan Rusia dan AS. Di satu sisi, Turki adalah sekutu AS. Tetapi belakangan Turki membeli sistem persenjataan S-400 dari Rusia, dan ini membuat AS marah dan mengeluarkan Turki dari program F-35…

Ini juga karena mereka menggunakan mentalitas yang sama. Mereka tidak pernah memandang kami sebagai sahabat, sebagai sekutu. Turki masih merupakan anggota NATO (North Atlantic Treaty Organization) dan anggota Komunitas Eropa. AS adalah sekutu kami.

Kalau kami sekutu Anda, kalau kami teman Anda, Anda harus memberikan dukungan kepada kami. Dan, Anda tidak memberikan dukungan kepada musuh dari teman Anda.

Sementara AS, untuk banyak kasus, memberikan dukungan kepada kelompok separatis Gerakan Kurdi.

Bagaimana Turki memandang keberagaman?

Ada banyak pejabat tingkat tinggi, anggota Parlemen, bahkan Menteri, baik di jaman dahulu maupun sekarang adalah keturunan Kurdi.  

Kalau kita lihat catatan sejarah di era Republik saat itu nasionalisme menjadi populer. Selama masa pemerintahan CHP (Cumhuriyet Halk Partisi) tafsir atas nasionalisme Turki kadang-kadang berlebihan dan kadang-kadang membuat persoalan. Mereka mengatakan, semua orang di Turki adalah bangsa Turki. Ini adalah sebuah kesalahan, sebetulnya.

Padahal di era Ottoman sebelumnya, bangsa Turki adalah bangsa Turki, bangsa Arab adalah bangsa Arab, dan seterusnya. Walaupun kelompok penguasa adalah bangsa Turki.

Di abad ke 6 terdapat beberapa posisi tinggi yang setara dengan posisi Perdana Menteri saat ini (Sadriazam) yang adalah keturunan Yunani, Serbia, Polandia dan Italia. Yang menempati urutan pertama dengan jumlah total 38 Perdana Menteri adalah keturunan Albania.

Dalam Perang Dunia Pertama, Menteri Keuangan Ottoman adalah keturunan Armenia, dan beragama Kristen. Bisa Anda bayangkan, orang Kristen menjadi menteri di Ottoman. Jadi bagaimana bisa ada tuduhan bahwa Turki melawan Kristen.

Ya, tentu saja kami melawan mereka kalau mereka menyerang kami. Kami harus melindungi diri kami dalam situasi seperti itu. Coba Anda lihat. Kami membela diri, mereka bilang kami teroris. Mereka menyerang kami, mereka katakan mereka penjaga perdamaian.

Ada kampanye internasional yang sedang berlangsung untuk melawan Turki. Mereka semua di satu garis. Di masa lalu mereka menghancurkan Emporium Ottoman, mereka memecah belah wilayahnya sehingga sekarang menjadi sebuah negara yang disebut Turki. Bila dibandingkan dengan luas wilayah Ottoman, Turki saat ini sangat kecil.

Tetapi begitu pun mereka masih belum puas. Ini masih belum cukup bagi mereka. Mereka masih berusaha untuk memecahnya, menjadi Turki timur dan Turki barat. Bila mereka berhasil dengan rencana itu, percayalah, mereka masih akan terus memecahnya menjadi bagian-bagian yang lebih kecil lagi.

Kembali ke hubungan antara Turki dan AS…

Amerika Serikat sering kali berjanji kepada kami. Kami membayar tunai untuk program pesawat jet F-35. Dalam waktu satu atau dua tahun, menurut perjanjian itu, mereka seharusnya mengantarkan (deliver) pesawat yang kami beli. Tetapi mereka selalu menunda dan menunda.

Mereka juga menjual senjata kepada kami. Tetapi senjata yang mereka jual bukan spesifikasi yang tinggi. Di saat bersamaan mereka menjual senjata dengan level yang sama kepada kelompok teroris yang menyerang kami.

Presiden Erdogan berkata, “Apa ini, kawan? Ini bukan persahabatan. Hal yang Anda lakukan ini bukan hal yang baik. Anda bukan satu-satunya alternatif. Kalau Anda tidak menjual kepada kami, kami akan membeli dari Rusia.”

Mereka berkata, “Anda tak bisa melakukan itu (membeli senjata dari Rusia), karena Anda adalah anggota NATO.” Tapi Turki adalah negara independen yang juga seperti negara-negara lainnya harus melindungi haknya.

Sikap kami adalah, kami tetap anggota NATO dan kami tidak keluar dari NATO. Tetapi sebagai negara yang berdaulat kami memiliki opsi lain. Kami sudah meminta kepada AS terlebih dahulu. Tetapi mereka tidak memberikan. Mereka tidak melihat apa yang mereka lakukan. Mereka selalu berbohong dan selalu bermain-main. Kalau kami membela hak kami, kami disebut sebagai teroris. Mentalitas seperti ini harus diubah.

Bisa Anda jelaskan kasus Fethullah Gulen?

Ada perjanjian antara Turki, AS, dan negara-negara Eropa untuk melakukan pertukaran kriminal yang harus menjalani proses hukum. Kalau misalnya kami menangkap pemimpin kelompok mafia di Turki, kami harus mengirimkannya ke Italia. Begitu juga sebaliknya.

Tetapi tidak demikian untuk kasus Fethullah Gulen. Kami telah mengirimkan kepada AS hampir 200 kotak berisi berbagai dokumen yang menjelaskan kejahatan Fethullah Gulen. Isinya tentang siapa dia, dan apa yang telah dilakukan Fethullah Gulen bersama kelompoknya.

Awalnya dia dikenal sebagai pemimpin kelompok agama. Kami percaya padanya. Kami bekerja dengannya. Dia mengatakan, dirinya adalah seorang dai (preacher).


Apakah kelompok yang dipimpinnya seperti sekte?

Ya, seperti sekte. Dia membuka sekolah di banyak tempat. Termasuk di Indonesia, ada sekitar 10 sekolah. Tadinya kami kira ia adalah seorang pendidik (educationist). Lama kelamaan dia menjadi besar dan semakin besar. Lalu kami menyadari bahwa dia memiliki agenda rahasia walaupun dia tampil sebagai seorang imam.

Anda tahu kasus di Korea Selatan. Ada seorang pendeta yang mendirikan sekte agama Kristen. Dia seorang pengusaha yang sangat kaya. Dia pernah menyelenggarakan pernikahan massal yang diikuti 1.000 pasangan anak muda. Dia yang mensponsori. Itu baik sekali. Pasangan-pasangan muda ini diberikan uang untuk memulai keluarga. Bahkan AS memberikan bantuan kepada kelompok ini.

Tetapi kemudian mereka (pemerintah Korea Selatan) menyadari, di balik semua itu, dia adalah seorang penyelundup yang mencuci uang dengan kegiatan agama. Dia pun memiliki agenda politik tertentu. Kemudian Dinas Rahasia Korea Selatan membongkar apa yang sesungguhnya sedang dilakukannya dan menjatuhkan hukuman penjara. Dia meninggal beberapa tahun lalu. Hal seperti itu yang terjadi dengan Fethullah Gulen.

Fethullah Gulen tampak rendah hati, dikenal sebagai orang yang religius. Bahkan sampai kini pengikutnya masih percaya dia adalah orang yang tidak bersalah. Organisasi seperti ini memiliki tingkatan (levels). Tingkat terendah tidak tahu, dan melihat dirinya sebagai orang yang rendah hati. Tetapi sesungguhnya ada satu bagian inti yang mengorganisir semua operasi kelompok ini.

Awalnya Presiden Erdogan memberikan bantuan saat mereka ingin membuka sekolah. Permintaannya dikabulkan karena ini untuk pendidikan. Lalu mereka mulai meminta banyak hal, termasuk meminta agar Menteri Pertahanan harus anggota organisasi mereka. Lalu meminta posisi di Dinas Rahasia. Dia juga merekrut banyak orang di dalam Angkatan Bersenjata Turki.

Awalnya kami tidak paham, karena dia terlihat seperti orang biasa yang santun. Tetapi akhirnya Presiden Erdogan marah, dan dia mengatakan, “Tidak. Kalau Anda seorang pendidik, silakan fokus pada dunia pendidikan. Kami memberikan kepadamu beberapa sekolah.”

Fethullah Gulen malah menghardik, dan berkata, “Organisasi kami sangat kuat. Kami memiliki anggota dimana-mana, di Kepolisian, di Angkatan Bersenjata, di lembaga pendidikan. Kami sangat kuat. Kami akan menghancurkan Anda (Presiden Erdogan). Anda harus mengikuti keinginan kami.”

Presiden Erdogan adalah pribadi yang tidak pernah takut menghadapi ancaman. Dia memerintahkan agar Fethullah Gulen dan pengikutnya ditangkap.

Mereka kemudian panik dan memutuskan bahwa itulah saatnya melancarkan serangan. Karena kalau mereka kalah, mereka akan kalah selamanya. Jadi mereka berusaha melakukan kudeta di tahun 2016, empat tahun lalu. Saat itu Fethullah Gulen sudah berada di Pennsylvania.

Kami punya banyak dokumen dan rekaman pembicaraan telepon rahasia yang mereka lakukan. Beberapa dari mereka menggunakan alat komunikasi satelit yang sulit dijangkau. Siapa yang menyediakan semua peralatan canggih ini untuk mereka. Mereka tidak bisa memiliki semua perlengkapan itu. Ini artinya, mereka berkerja dengan kelompok tertentu di luar negeri. Ada intervensi dari kekuatan di luar. Siapa yang merupakan master mind di balik rencana menaklukkan Turki?

Ada kekuatan, kombinasi dari aktor negara dan non-negara, yang berusaha mengaduk-aduk Timur Tengah, untuk menciptakan perang antara Iran dan Turki, dan untuk menciptakan perang di antara sesama negara Muslim. Mereka merancang kekacauan.

Di saat Emporium Ottoman berkuasa tidak ada kekacauan. Lalu mereka di atas meja menggambarkan garis-garis batas untuk memecah wilayah Ottoman. Ini Suriah, ini Saudi Arabia, ini Jordania, dan seterusnya, walaupun sebelumnya negara-negara itu tidak ada. Sampai sekarang mereka tidak ingin ada negara Muslim yang kuat (powerful) di Timur Tengah.

Mereka menggunakan Fethullah Gulen sebagai alat untuk melakukan misi ini. Fethullah Gulen juga seorang psikopat. Dia percaya bahwa dirinya adalah messiah. Dia merasa dirinya tahu semua hal. Dia kira dia lebih besar dari yang lain. Karena itu, dia meminta bantuan dari pihak-pihak lain. Tentu saja pihak asing menyambut permintaan itu. Mereka pun meminta agar Fethullah Gulen melakukan ini dan melakukan itu, dan berjanji apabila berhasil akan memberikan dukungan yang lebih besar lagi.

Jadi, Fethullah Gulen menjual negaranya. Dia menjual darahnya. Dia pengkhianat. Dia kini berada di Amerika Serikat.

Kalau ada seseorang dari AS yang datang ke Turki, dan dia adalah seorang pengkhianat atau pembunuh, dan pengadilan AS memberikan kepada kami dokumen-dokumen yang membuktikan kejahatannya dan meminta kami mengirimkannya ke AS untuk diadili, maka kami akan langsung mengirimnya ke AS.

Dalam kasus Fethullah Gulen, kami sudah memberikan 200 kotak berisi dokumen yang membuktikan kesalahannya. Tetapi AS mengatakan, dia tidak bersalah.

Presiden Erdogan marah. Banyak kartu yang mereka pegang. Kartu Fethullah Gulen, kartu Kurdi, kartu Armenia, sekarang kartu Aya Sofia. Terlalu banyak kartu. Padahal kami juga bisa memberikan banyak kartu untuk AS.

Tadi kita sudah berbicara mengenai Uni Eropa yang menurut Anda kini menjadi kurang signifikan. Bagaimana dengan AS? Apakah signifikansi AS di dunia internasional juga mengalami penurunan?

Beberapa komentator memang menyampaikan hal seperti itu. Saya akan bicara dari sisi yang umum dan filsafat. Kita percaya tidak ada kekuatan dunia yang permanen. Kita harus memahami ini. Kita melihat Emporium Byzantium, Emporium Romawi, Emporiuam Sasanid, Emporium Ottoman, dan sebagainya. Dari mana mereka berasal? Mereka awalnya sangat miskin, lalu berkembang menjadi emporium dan akhirnya hancur.

Sebagai Muslim, kita harus percaya bahwa hanya ada satu kekuatan, yaitu Allah SWT. Sebagai manusia, kekuasaan kita akan berganti. Emporium Ottoman pernah menjadi super power. Sekarang, super power adalah AS. Tidak ada yang tahu siapa yang akan menjadi super power berikutnya.

Syukurlah, saat ini tidak ada kekuatan tunggal (single power). Ada multipolarisme. Rusia dan China saat ini membuat keseimbangan.

Satu kalimat dari Presiden Erdogan yang tidak dapat dilupakan adalah, “Bung, jangan lupa, dunia lebih besar dari lima.”

Ada lima negara saja yang memiliki kekuatan khusus, AS, Rusia, China, Prancis, dan Inggris. Bila, Anda punya satu keingian, kelima negara ini harus menyetujui. Siapa yang memberi kelima negara ini otoritas. Mengapa semua negara tidak diperlakukan secara equal.

Itu sebabnya, seperti Gerakan Non Blok yang digagas Indonesia, harus dihidupkan lagi. Kita tidak bermaksud melawan kelima negara itu, karena kita bukan musuh kelima negara itu.  

Kata Islam berarti damai. Nabi Muhammad SAW mengatakan, Muslim jangan minta perang. Perang bukan sesuatu yang harus diminta. Perdamaian yang pantas untuk diminta. Tetapi, bila dalam situasi tertentu Anda terpaksa untuk melawan, jangan lari. Lawan.

Keputusan untuk berperang hanya  ketika Anda harus membela diri. Kalau Anda menyerang saya, kita akan perang. Tapi kalau Anda tidak menyerang,  saya tidak menyerang karena saya adalah pecinta damai.

Dunia menyaksikan, di masa Ottoman di Abad Pertengahan, ahli ruang angkasa, ahli matematika, dan pemikir-pemikir Muslim lainnya yang menciptakan renaissance di Eropa. Jangan lihat ISIS. Mereka (Barat) yang menciptakan ini. ISIS diciptakan di dalam laboratorium. Seperti laboratorium virus corona di Wuhan. Mereka, AS dan Israel, tidak pernah membasmi ISIS. Mereka membutuhkan ISIS untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa Muslim adalah sekumpulan orang sadis.

Mereka kira mereka sangat pintar, mereka kira kita bodoh dan tidak tahu apa yang sedang terjadi. Kita tahu apa yang sedang terjadi. Jadi, mari duduk bersama dalam semangat persahabatan untuk meningkatkan perdamaian dunia. Tapi tolong, jangan double standard. Perlakukan kami seperti Anda ingin diperlakukan.

Presiden Erdogan sering ke AS, dan di sana ia duduk dan berbicara dengan pemimpin AS. Tetapi setelah ia kembali ke Turki, mereka berteriak di belakangnya. Kalau mereka ingin berteriak harusnya mereka berteriak di depan.

Bagaimana hubungan Turki dan Yunani? Kedua negara memiliki konflik yang telah berlangsung lama di Pulau Siprus…

Mereka tidak pernah menerima kami. Peristiwa itu terjadi di tahun 1974. Tetapi Yunani terus mengatakan bahwa kami mencaplok (occupied) Siprus. Sesungguhnya kami datang ke Siprus untuk menyelamatkan bangsa Turki. Kalau kami pergi, mereka akan membunuh kami (bangsa Turki di Siprus).

Bangsa paling rasis di Eropa adalah Yunani Siprus. Mereka sangat rasis. Saya ceritakan kepada Anda satu kisah. Sebelum bertugas sebagai dutabesar di Jakarta, saya adalah Sekjen PUIC (Parliamentary Union of the Organization of Islamic Cooperation) yang pusatnya di Tehran. Kami menyelenggarakan banyak kegiatan dan juga menghadiri banyak konferensi. Suatu hari diselenggarakan konferensi Asian Inter Parliamentary di Bali. Seingat saya itu di tahun 2015.

Kadang-kadang saya melakukan perjalanan dengan sekretaris, atau deputi. Tetapi saat itu saya datang sendiri ke Bali. Saya menghadiri pertemuan sebagai peninjau (observer). Setelah konferensi selesai, petugas protokoler mengatakan, sekitar pukul 12.00 tengah malam mereka akan menjemput saya di lobi hotel untuk ke bandara. Penerbangan saya sekitar pukul 02.00 dinihari.

Pada waktu yang ditentukan, saya check out dan menunggu di lobi. Lalu petugas protokoler datang dan meminta maaf karena salah satu mobil yang hendak digunakan untuk membawa delegasi tamu ke bandara rusak. Mereka bertanya, apakah saya tidak keberatan satu mobil dengan dua wanita dari negara lain yang akan satu penerbangan dengan saya ke Dubai.

Saya jawab, tidak masalah. Lalu ia pergi untuk menjemput tamu lain itu. Sekitar 10 menit dia kembali dengan wajah kecewa, dan mengajak saya masuk ke mobil untuk segera ke bandara.

Saya tanya, dimana mereka? Petugas protokoler menjawab, “Anda menerima mereka, tetapi mereka tidak menerima Anda.” Menurutnya, dia telah menyampaikan kepada kedua tamu wanita dari Siprus bahwa salah satu mobil yang akan digunakan rusak, dan bertanya apakah keduanya bersedia satu mobil dengan tamu lain. Mereka menolak setelah tahu saya dari Turki.

Di bandara saya menunggu pesawat Emirates dari Australia yang menuju Dubai via Bali. Saat itu ada peristiwa letusan gunung berapi. Sehingga pesawat delay selama empat jam.

Di lounge kelas bisnis tidak ada orang lain, hanya saya dan kedua wanita dari Siprus. Kami duduk di sana bersama-sama.

Lalu saya datang ke arah mereka, dan berkata, “Kalau pesawat yang kita tumpangi nanti mengalami kecelakaan, maka kita akan sama-sama mati. Orang Turki, orang Siprus, tidak ada bedanya.” (Kedua wanita itu tidak memberikan respon, dan balik kanan.)

Apakah ini memperlihatkan sikap orang yang berpikiran terbuka dan toleran? Tidak. Mereka sangat fanatik.

Lihat peta Yunani. Ada banyak orang Turki beragama Islam yang tinggal di wilayah Yunani, terutama di Komotini, sebagai warganegara Yunani. Mereka (Yunani) mengabaikan Muslim keturunan Turki di sana. Mereka katakan, “Ya, Anda Muslim, tetapi Anda adalah orang Yunani, bukan Turki.”

Tentu mereka (Muslim keturunan Turki) menolak dan mengatakan mereka adalah keturunan Turki dan masih berbicara dengan Bahasa Turki.

Jadi, mereka (Yunani) tidak pernah melihat apa yang mereka lakukan. Tetapi mereka selalu menunjuk Turki sebagai pembunuh.

Istanbul bukan punya Yunani. Ia adalah peninggalan dunia. Untuk 500 tahun terakhir berada di bawah kontrol bangsa Turki. Tapi sebelumnya, Yunani (berkuasa di Istanbul), lalu sebelumnya lagi bangsa Romawi, lalu Phrygian, Iberian, Thracian, sampai, saya tidak tahu lagi. Mungkin Nabi Adam AS.

Bagaimana hubungan Turki dan Armenia, juga posisi Turki dalam melihat konflik antara Armenia dan Azerbaijan?

Mereka (Armenia dan Yunani) satu kubu. Armenia menduduki tanah Azerbaijan, di Nagorno-Karabakh. Azerbaijan berusaha untuk mendapatkan kembali wilayah itu, tetapi Armenia mengatakan, “Mereka menyerang kami.”

Anda tahu, Armenia adalah negara yang lemah apabila Rusia tidak memberikan dukungan kepada mereka.

Jadi, bagaimana kita melihat persoalan ini. Turki memiliki hubungan yang baik dengan Rusia, dan Rusia memberikan dukungan pada Armenia yang berkonflik dengan Azerbaijan yang didukung Turki…

Ini memang problematik. Untuk kasus tertentu kami memiliki hubungan yang baik dengan Rusia. Tetapi untuk beberapa kasus lain sebaliknya.

Bukankah Armenia masih menjadi salah satu kendala bagi Turki untuk menjadi anggota Uni Eropa. Armenia selalu mengatakan bahwa Turki melakukan genosida…

Kalau mereka membunuh kami, mereka tidak mengatakan itu genosida. Tetapi bila kami membela diri kami mereka bilang itu genosida.

Sudah saya katakan tadi, di era Ottoman ada menteri yang keturunan Armenia. Pada saat peristiwa yang mereka sebut sebagai genosida terjadi (1915), Menteri Keuangan Turki adalah orang Armenia.

Saya jelaskan kepada Anda mengapa ini (klaim genosida) terjadi. Di masa lalu, orang Kristen, apakah Yunani atau Armenia, yang tinggal di Ottoman hidup di bawah pemerintahan Muslim Turki. Lalu mulai muncul gerakan nasionalisme, yang dikenal dengan nama Tashnak, yang kemudian berubah menjadi gerakan gerilya. Mereka mengatakan, “Lihat apa yang dilakukan Ottoman. Rusia dan Eropa membantu kita. Kita akan membunuh semua Muslim. Tunggu saja, kita akan menjadi penguasa negara ini.”

Lalu mereka mulai membunuh imam, dan ribuan umat Muslim.

Kami memiliki ribuan dokumen mengenai bangsa Armenia. Bahkan ada dokumen-dokumen yang ditulis oleh bangsa Armenia yang mengatakan bahwa di era Ottoman mereka hidup damai.

Apa yang diinginkan oleh kelompok Armenia fanatik tidak terjadi. Mereka melakukan agitasi dan menjanjikan bangsa Turki akan pergi, dan mereka akan berkuasa di tanah kami. Mereka lalu mulai membunuh Muslim.

Rusia datang dari sisi timur. Prancis datang dari arah selatan. Inggris datang ke Istanbul dan sempat menduduki Istanbul. Yunani menyerang dari sisi barat. Mereka mengatakan, “Turki hanya di sekitar Ankara.”

Lalu tentara Ottoman mulai melakukan perlawanan. Mengusir Rusia yang masuk dari sisi timur, mengusir Italia dan Prancis di sisi selatan. Lalu dalam Perang Gallipoli (1915-1916) kami melawan Australia, Selandia Baru, dan Inggris. Kami kalahkan mereka. Kami juga berhasil mengusir Yunani. Alhamdulillah kami berhasil menyelamatkan tanah kami.  

Ketika mereka (tentara Ottoman) melakukan serangan balik untuk mengusir Rusia, Muslim yang tinggal di daerah pedesaan melakukan pembalasan atas pembunuhan yang dilakukan gerilya Armenia sebelumnya. Mereka membunuh orang Armenia. Saya tidak membenarkan hal itu, tetapi itu jelas bukan genosida. Jadi akar dari persoalan ini adalah perang. Mereka membunuh kami, dan orang-orang pedesaan kemudian membalas perbuatan mereka.

Ini semua terjadi di masa lalu dan kami tidak ingin terus hidup dalam suasana tidak bersahabat. Kami ingin hidup dalam damai dengan tetangga kami. Kami tidak menginginkan perang. Kami ingin kedamaian. Apakah mereka juga?

Sekarang mari kita bicarakan hubugan Indonesia dan Turki. Seberapa kuat hubungan kita?

Hubungan Turki dan Indonesia tidak dimulai puluhan tahun lalu. Di era modern memang hubungan kita dimulai pada tahun 1945. Tetapi, Turki punya hubungan yang sangat lama dengan Nusantara. Di masa Emporium Ottoman, ada Dutabesar Ottaman di Jakarta. Museum Tekstil di Jakarta dulunya adalah bangunan Kedubes Ottoman. Kami memiliki ribuan dokumen mengenai hubungan kami dengan Nusantara.

Lalu bagaimana sekarang?

Secara budaya, masyarakat Turki menyukai orang Indonesia. Bila orang Turki bertemu orang Indonesia saat ibadah haji, kesan mereka orang Indonesia rendah hati dan terhormat. Intinya, Indonesia dan masyarakat Indonesia memiliki image positif di mata masyarakat Turki. Tidak ada negativity.

Ketika Presiden Erdogan meminta saya untuk menjadi Dubes di Indonesia, dia berkata, “Prof. Kılıç, Indonesia adalah negara Muslim yang sangat besar. Saya tahu itu. Saya harus meningkatkan hubungan kedua negara. Tetapi, masih ada jarak. Bukan jarak geografis. Sebagai seorang ilmuwan, tolong Anda pergi ke sana dan analisa. Laporkan apakah ada masalah. Apakah masalah itu kita yang buat, atau mereka yang buat. Dari laporan Anda, kita akan selesaikan masalah yang ada.”

Jadi Presiden Erdogan memiliki keinginan yang kuat untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan Indonesia. Banyak mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Turki. Juga banyak turis dari Indonesia berkunjung ke Turki sebelum pandemi.

Anda juga memiliki Dubes yang bagus di Ankara, Mr. Muhamamd Iqbal. Sebagai Dubes Turki di Indonesia, saya mengakui bahwa kami siap bekerjasama dengan Indonesia. Di sektor ekonomi, juga dalam proyek pemindahan ibukota negara.

Kami memiliki kapasitas. Kami memiliki banyak perusahaan besar yang dikenal di dunia internasional. Mereka membangun jalan besar di Senegal. Bandara Doha di Qatar dan Bandara Baku di Azerbaijan, juga mereka bangun.

Kami paham ini adalah kompetisi. Ada banyak perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia. Kami siap dalam kompetisi ini. Tentu preferensi tergantung otoritas Indonesia.

Kalau kita bicara tentang volume perdagangan antara kedua negara, bagaimana?

Tidak terlalu banyak. Tidak seperti yang kita harapkan bersama. Kami memiliki kapasitas yang lebih. Anda juga memiliki kapasitas yang lebih. Tetapi ada banyak masalah. Misalnya masalah birokrasi. Untuk beberapa alasan tertentu jarak menjadi masalah. Tetapi tidak selalu.

Contohnya, banyak negara yang membeli minyak zaitun dari Turki, dan lebih murah dibandingkan dari Spanyol, Italia dan Yunani. Kami tahu ada beberapa perusahaan yang membeli dari Turki, mereka mengirimnya ke Italia, dan mereka memasukkannya ke kotak lalu menjualnya sebagai produk Italia.

Investor dari Turki juga ingin menanamkam modal di Indonesia. Tapi karena beberapa alasan, akhirnya mereka lebih tertarik menanamkan modal di Vietnam. Ada satu perusahaan yang memiliki pabrik di Iran, Italia, Nigeria, Romania, dan Timur Jauh.

Mereka telah membeli tanah di Vietnam. Selama satu tahun terakhir mereka membangun pabrik yang sangat besar. Tahun depan mereka akan mulai beroperasi. Mereka memproduksi kertas, tissue, kertas toilet, pamper, dan sebagainya.

Jadi Vietnam terlihat lebih menarik daripada Indonesia untuk investor?

Kami selalu mengundang para investor dari Turki untuk datang ke Indonesia, dan banyak yang telah datang. Namun pada akhirnya karena sesuatu dan lain hal mereka memilih untuk menanam modal di negara lain di Asia Tenggara.

Namun demikian saya percaya bahwa dalam waktu dekat ini akan banyak investor baru mengunjungi dan menanam modal di Indonesia. Saya juga percaya bahwa kedua negara memiliki kapasitas untuk melakukan perdagangan bilateral dan kami akan meningkatkan angka perdagangan bilateral antara kedua negara bersaudara ini. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s