Sapardi Djoko Damono

Lahir di Surakarta, 20 Maret 1940, pujangga Sapardi Djoko Damono yang dikenal dengan larik-larik sederhana sarat makna dalam karya-karyanya meninggal dunia di Jakarta, 19 Juli 2020.

Ada saya baca, terkait kesederhanaan karya-karyanya ya g memukau dan memikat pembaca lintas era, alm. Sapardi mengatakan, kira-kira, dirinya tak pernah memaksakan makna. Kesederhanaan, atau apa yg dipandang orang sbg kesederhanaan, dalam larik-larik sajak yang ditulisnya, tidak pernah diniatkan sebagai kesederhanaan. Rasanya, Sapardi menulis mengikuti ayunan jiwa.

Harus diakui, tak banyak karya SDD yang saya baca. Sajak “Aku Ingin” tentu populer di era 1990an. Musikalisasinya dalam berbagai kegiatan keseniaan yang saya ikuti di Bandung kala itu mengiris-iris gendang telinga.

Sajak “Hujan Bulan Juni” baru benar-benar saya baca di hari kepergiaannya, beberapa saat sebelum meminta Timur Muhammad Santosa membacakannya.

Satu hal yang juga saya baru tahu adalah SDD pernah menterjemahkan karya Ernest Hemingway, The Old Man and the Sea.

Ini novel sarat makna. Tidak ada makna tunggal. Tetapi kelihatannya komunitas global sepakat bahwa kisah Santiago di tengah lautan itu bercerita tentang perjuangan dan kesabaran.

Karya Hemingway ini mendapatkan Pulitzer di tahun 1953 dan Nobel Perdamaian bidang Sastra setahun kemudian.

Hemingway tinggal di Havana utk waktu yg cukup lama, hampir 20 tahun sampai dia angkat kaki setahun setelah Revolusi. Ia ditemukan tewas bunuh diri, Juli 1961, 59 tahun lalu.

Di desa nelayan di Pantai Cojimar di luar Havana, Kuba, didirikan patung Ernest Hemingway. Di tempat itulah Hemingway memetik inspirasi utk novel The Old Man and the Sea.

Saya bukan pengamat dan pemerhati pujangga dan sastrawan. Sapardi Djoko Damono dan Ernest Hemingway jelas adalah dua pribadi yang berbeda.

Di antara perbedaan itu, SDD kelihatannya adalah pribadi yang teduh. Mengalir tenang ibarat aliran air sungai di musim semi. Sementara Hemingway ibarat samudera bergelora seperti dalam kisah Santiago itu. Seorang teman yang mengantarkan saya melihat-lihat rumah pribadinya yang kini adalah museum di luar kota Havana mengatakan, pengalaman Hemingway meliput berbagai perang telah menanamkan amarah jauh di dalam dadanya. Marah dan kecewa.

Saya kira Sapardi Djoko Damono dan Ernest Hemingway juga punya kemiripan dalam membaca perjalanan kehidupan. Mereka melihat dengan kesederhanaan, menuliskannya dengan kata-kata dan kalimat-kalimat apa adanya.

Membiarkan kita yang membaca dan mendengarkan kemahsyuran mereka menduga-duga makna di balik kata-kata yang kita anggap sederhana ini.

Leave a Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s