Tiba di Havana, Ibukota Revolusi Dunia

Setelah terbang sekitar 28 jam dari Jakarta menggunakan KLM, saya tiba di Havana, ibukota Kuba. Kamis petang, hari terakhir bulan Oktober. Langit belum gelap benar ketika saya meninggalkan Bandara Internasional Jose Marti menuju Hotel Nacional di pusat kota.

Kota yang dihuni lebih dari 2 juta jiwa ini sedang bersiap-siap memasuki usia 500 tahun.

San Cristobal de la Habana didirikan pada 1515 oleh penakluk Spanyol, Diego Velazquez de Cuellar.

Pada 16 November 1519, pusat kota dipindahkan sedikit ke utara mendekati bibir pantai, menantang Teluk Meksiko dan Selat Florida, dan kini berhadap-hadapan dengan Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat Key West yang jaraknya hanya sepelemparan batu.

Tanggal pemindahan pusat kota inilah yang pada akhirnya dijadikan patokan usia kota itu. Saya belum mendapatkan catatan pasti tentang asal usul kata Havana. Sejauh yang sering disebutkan adalah, kemungkinan besar Havana berasal dari nama pemimpin penduduk asli Suku Taino, Habaguanex.

Bangsa Spanyol pertama kali tiba di Kuba pada 1492, dalam bagian dari ekspedisi yang dipimpin Cristhopher Columbus.

Sebelum mendirikan Havana, pada 1511 Diego Velazquez mendirikan pemukiman pertama Spanyol, Baracoa.

Di tahun 1762, Havana sempat dikuasai Inggris. Tidak lama, di tahun yang sama ia dikembalikan kepada Spanyol.

Dua abad sebelumnya, 1555, Prancis pernah berusaha mengambil Havana dan Kuba dari Spanyol. Tetapi serangan mereka kandas.

Pada 1592 Raja Philip II memberikan status kota pada Havana. Status ini memberikan kesempatan pada Havana untuk terus berkembang; pemukiman dan pelabuhan dibangun besar-besaran, demikian juga benteng pertahanan.

Spanyol baru benar-benar angkat kaki dari Havana dan Kuba setelah menelan kekalahan dalam perang melawan Amerika Serikat di tahun 1892.

Selama 3,5 tahun setelah itu, Kuba dikuasai pemerintahan militer AS, dan pada 1902 mendapatkan kemerdekaan. Tidak seluruh Kuba. Teluk Guantanamo masih dikuasai AS lewat perjanjian peminjaman di tahun 1903 yang tidak disebutkan akan berakhir sampai kapan.

Setelah mendapatkan kamar di Hotel Nacional yang berada di Distrik Vedado, di atas bukit Taganana, saya kembali menemui staf KBRI, Dedi Supardi, yang tadi menjemput saya di Bandara Jose Marti.

Pria kelahiran Subang, Jawa Barat ini sudah hampir dua dekade tinggal di Kuba. Ia mengenal dengan baik setiap jengkal Havana. Ia merasakan asam garam era Fidel Castro yang berkuasa sejak Revolusi 1959 sampai mengundurkan diri 2008 dan meninggal dunia 2016.

Dia juga melihat berbagai perubahan dan keterbukaan di era Raul Castro yang melanjutkan kekuasaan abangnya dari 2008 sampai mengundurkan diri 2018.

Dan kini merasakan hidup di era Miguel Diaz Canel yang melanjutkan kebijakan Raul dan menjaga api revolusi Fidel tetap menyala di tengah dinamika baru dunia.

Tempat pertama yang kami tuju adalah restoran Beirut di daerah Malecon. Menuju restoran Beirut kami melintasi Jalan Presiden yang sepintas seperti kawasan Menteng. Restoran yang baru buka dua tahun lalu ini dikelola oleh pengusaha Lebanon yang telah cukup lama menetap di Havana dan mendapatkan status permanent residence.

Selesai santap malam, kami melanjutkan perjalanan menuju Havana Tua menyusuri jalan raja di pinggir pantai Malecon. Tidak sedikit warga kota yang berkumpul di sepanjang jalan itu. Berdiri bersandar pada dinding pemisah pantai, menikmati malam terakhir bulan ini.

Di salah satu persimpangan, jalan ditutup polisi. Dedi terpaksa detour, melewati Istana Kepresidenan yang dulu dalah pusat kekuasaan Presiden Fulgencio Batista. Tahun 1957 Istana ini diserang kaum revolusioner. Dan sampai sekarang dijadikan bagian dari museum.

Setelah melewati bangunan-bangunan tua, kami tiba di Bar El Floridita di persimpangan Jalan Bishop dan Jalan Monseratte. Floridita cukup terkenal. Ini salah satu tempat kongkow favorit Hernest Hemingway, penulis dan novelis Amerika Serikat yang pernah tinggal selama 20 tahun di Kuba.

Di Havana ini beberapa karya besarnya dilahirkan, termasuk “Orang Tua dan Laut” yang karenanya Hemingway mendapatkan Pulitzer di tahun 1953 dan Nobel Perdamaian bidang Sastra 1954.

Kami masuk sebentar. Bar sedang penuh sesak. Live music sedang berlangsung, dibawakan band wanita yang bernyanyi sambil menggoyang-goyangkan badan mereka.

Di salah satu pojok di bagian dalam bar ada patung Hemingway. Dibuat sedemikian rupa, seolah ia sedang menikmati musik dan mengikuti pembicaraan riuh tendah di dalam bar.

Tak jauh dari patung itu tergantung foto hitam putih Hemingway dan Fidel. Keduanya bertemu dalam kompetisi memancing ikan yang diinisiasi Hemingway setelah Revolusi 1959. Itu kali pertama dan kali terakhir Hemingway dan Fidel Castro bertemu.

Hemingway adalah satu dari sekian banyak hal menarik dari Kuba.

Saya pernah mendiskusikan fragmen keputusan Hemingway meninggalkan Kuba dengan sejarawan asal Australia, Greg Poulgrain.

Hubungan antara Hemingway dan Kuba pernah sangat menarik perhatian Greg. Untuk mengejar kisah ini ia pernah melakukan perjalanan panjang, yang rasa-rasanya hanya dilakukan pengelana dari masa silam seperti Ibnu Batutah atau Marco Polo.

Tahun 1978 Greg memulai perjalanan menuju Kuba. Papua Nugini adalah negara pertama yang disinggahinya. Lalu Papua Indonesia, Ternate, Makassar, Bali, Surabaya, Jakarta. Lalu terbang lagi, saya lupa mungkin ke Singapura atau Kuala Lumpur. Dari sana ia terbang lagi ke Eropa. Mungkin singgah di Belanda atau langsung ke London tempat ia mendapatkan Visa ke Kuba.

Hampir dua bulan ia berada di Kuba, dari awal Maret hingga awal April 1979. Ia menyelami kehidupan Hemingway, bertemu dengan orang-orang Kuba yang pernah bekerja dengan Hemingway, tentu saja mengunjungi desa nelayan Cojimar.

Soal kepergian Hemingway dari Kuba, ada pandangan seperti ini:

Walaupun sempat menyatakan mendukung Revolusi 1959, namun Hemingway khawatir revolusi komunis Kuba pada akhirnya akan melahirkan kebijakan yang tidak bersahabat dengan pikiran-pikiran kreatif seperti yang dimilikinya.

Dalam banyak kejadian revolusi komunis cenderung menempatkan proses kreatif sebagai bagian dari kontrev, kontra revolusi, yang bertentangan dan menghalangi pergerakan api revolusi.

Tafsir lain mengatakan, Hemingway tidak bermaksud benar-benar meninggalkan Kuba. Toh selain sebagai penulis dan wartawan Hemingway juga seorang pengelana yang telah menjejakkan kakinya di banyak negeri. Ia pasti akan kembali ke Kuba seperti sebelum-sebelumnya.

Entah apa yang sebenarnya terjadi. Hampir setahun setelah meninggalkan Kuba, pada 2 Juli 1961 Hemingway ditemukan tewas bunuh diri di Idaho.

Ada dugaan, ia tak kuat menahan tekanan dinas intelijen yang ingin mendapatkan informasi tentang Fidel dan perjalanan revolusi Kuba. []

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s