Tak Mudah Menulis Konflik dalam Negeri


Berpengalaman menulis konflik Afghanistan, yang kemudian dituliskan dalam buku berjudul ‘Di Tepi Amu Darya’, belum mendorong Teguh Santosa untuk menulis tentang konflik di dalam negeri. Teguh, wartawan senior yang kini CEO Kantor Berita Politik RMOL tersebut mengaku bahwa dirinya takut salah tulis bila menuliskan konflik nasional.

“Membicarakan dan menulis konflik di negara lain seperti Afghanistan, Irak itu enak. Saya akui, tidak mudah untuk menuliskan konflik di dalam negeri, saya takut salah tulis lalu menimbulkan polemik. Dan tidak menjadi solusi atas konflik tersebut. Sebenarnya saya juga menggunakan paradigma lama, mengalirkan energi konflik keluar sebagaimana dilakukan Bung Karno dengan isu ganyang Malaysia,” kata Teguh dalam acara launching buku buku berjudul ‘Di Tepi Amu Darya’ di Pressroom Komplek Parlemen Senayan, Kamis (20/12/2018) sore.

Menurut Teguh, selama konflik Afganistan berkecamuk pada 2001, dirinya tertahan di Kota Termez Uzbekistan, yang hanya sepelemparan batu dengan Kota Hairatan Afghanistan. Kedua kota tersebut dipisahkan Sungai Amu Darya. Termez dipilih karena Teguh tidak ingin seperti kebanyakan wartawan yang ingin masuk melalui Pakistan. Hal ini demi mendapatkan sudut pandang yang berbeda.

Rencana menyeberangi Amu Darya untuk masuk wilayah Afghanistan dan menuju Kabul hanyalah tinggal rencana karena ijin tak kunjung dia dapat. Jembatan Amu Darya yang menjadi sejarah sebagai jalan masuk Uni Sovyet menginvasi Afghanistan ditutup pemerintah Uzbekistan karena khawatir pengungsi Afghanistan masuk dan disusupi Taliban.

Mahkota Wartawan

Akhirnya dari tepi sungai Amu Darya inilah Teguh berkarya sebagai jurnalis yang menghimpun informasi tentang konflik Afghanistan serta berbagai keunikan serta kekayaan Termez yang tempat lahir ulama besar Imam Tirmidzi. Dan lahirlah buku setebal 240 halaman tersebut.

Sebagai pembahas buku tersebut, wartawan senior yang Ketua Dewan Kehormatan PWI, Ilham Bintang mengatakan bahwa dirinya sangat mengapresiasi Teguh, karena menjadi wartawan yang menulis buku. “Buku adalah mahkota wartawan. Teguh telah punya mahkota, disaat begitu banyak wartawan tidak memilikinya. Tidak banyak wartawan yang mampu menulis buku, karena memang tidak mudah bagi wartawan yang disibukkan tugas-tugas dari redaksinya,” kata Ilham.

Membaca buku Teguh yang berisi 30 tulisan lepas tersebut, Ilham mengaku merasakan ikut dalam perjalanan jurnalistik Teguh yang mendebarkan dan unik. Maka buku Teguh ini dia nilai sebagai bacaan yang tepat bagi komunitas wartawan dan mahasiswa ilmu komunikasi. Selain Ilham, yang tampil sebagai pembahas adalah novelis Ahmad Fuadi, anggota Komisi I DPR RI Effendi Simbolon dan pengamat Timur Tengah Alto Labetubun. SuaraMerdeka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s