Kisah Pilu di Pulau “Bulan Madu”

Tempat ini menjadi tujuan utama wisata di Korea Selatan. Terbentuk dari proses vulkanologi selama dua juta tahun. Kelam karena kisah pembersihan. Sekitar 30 ribu orang tewas dibantai.

SUHU udara yang begitu tinggi hingga terasa bagaikan menyengat daging di bawah kulit dan bahkan menusuk tulang mengikuti kami ke Pulau Jeju, Korea Selatan. Musim panas tahun ini memang spesial bagi seluruh Semenanjung Korea, bahkan kawasan Asia Timur.

Badan Meteorologi Korea (KMA) mencatat musim panas tahun ini sebagai yang terburuk dalam sejarah. Ia lebih buruk dari musim panas di tahun 1994.

“Ini adalah musim panas dengan suhu tertinggi yang tercatat sejak tahun 1994. Bahkan tertinggi dalam sejarah,” kata Wakil KMA, Heung Jin-choi, di kantornya di Jalan Yeouidaebang-ro, Seoul (Rabu, 1/8).

Pada musim panas di tahun 1994 suhu tertinggi tercatat pada kisaran 38 dan 39 Celcius, berlangsung selama 31 hari. Sementara pada musim panas tahun ini suhu tertinggi untuk sementara tercatat 41 Celcius. Diperkirakan suhu panas yang tidak biasa ini akan bertahan hingga akhir Agustus.

Dalam pertemuan dengan delegasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) itu, Heung Jin-choi menambahkan, suhu udara yang begitu tinggi di kawasan Asia Timur terjadi akibat tekanan udara di atas Tibet yang berdampak hingga ke seluruh daratan China hingga Jepang. Tekanan udara ini juga menciptakan badai di kawasan Asia Timur.

Di musim panas tahun ini saya kembali berkunjung ke Korea Selatan bersama delegasi PWI. Rombongan PWI kali ini terdiri dari Anggota Dewan Penasihat PWI Adnan Nyak Sarong, Ketua PWI Riau Zulmansyah, Wakil Ketua bidang Kesra PWI Jambi Riduan Agus Agusnan, Bendahara PWI Riau Oberlin Marbun, Sekretaris PWI Kalimantan Timur Wiwid Marhaendra Wijaya, dan Sekretaris bidang Pariwisata PWI Papua Barat Mercys Charles Loho. Kunjungan PWI ini adalah bagian kerjasama dengan Asosiasi Wartawan Korea (JAK) dan Korea Foundation.

Kami tiba di Seoul pada Jumat sebelumnya (28/7). Sehari setelah itu, rombongan berangkat ke Pulau Jeju dengan harapan menemukan cuaca yang lebih bersahabat. Tetapi apa daya, tak ada pengecualian di Jeju. Pulau indah itu seakan berubah menjadi tungku raksasa.

Setelah mengunjungi sejumlah tempat di Pulau Jeju, termasuk sebuah museum yang merekam kenangan buruk di pulau itu, delegasi PWI kembali ke Semenanjung Korea. Dari Gwangju kami menggunakan kereta cepat menuju Osong, dilanjutkan perjalanan dengan bis ke Daejeon dan Seoul.

***

Pulau Jeju atau Jeju-do adalah salah satu tujuan wisata utama di Korea Selatan.

Keindahan alam pulau ini khas. Menurut sejumlah catatan, ia terbentuk dari proses vulkanologi yang dimulai sekitar 2 juta tahun lalu. Proses vulkanologi itu berhenti sekitar 100 ribu tahun lalu dan menghasilkan antara lain Gunung Halla setinggi 1.900 meter di atas permukaan laut yang tercatat sebagai gunung tertinggi di selatan Korea.

Pulau berpenduduk 600 ribu jiwa itu kini dikunjungi tak kurang dari 15 juta wisatawan dari dalam dan luar negeri. Ia populer di kalangan pasangan yang baru menikah, dan dikenal sebagai salah satu tujuan bulan madu.

Pemerintah memperkirakan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Jeju akan terus bertambah hingga 45 juta orang pada tahun 2035 mendatang.

Untuk menyambut gelombang besar wisatawan itu pemerintah tengah mempersiapkan pembangunan sebuah bandara baru di selatan Jeju-do. Sementara jumlah terminal di bandara yang sekarang ada di utara Jeju-do menurut rencana akan ditambah dalam waktu dekat.

***

Kami mengikuti Sunny Hong yang melangkahkan kakinya pali-pali atau cepat-cepat memasuki gedung museum. Payung kecil yang digunakannya seakan tak mampu menahan sinar matahari yang begitu terik siang itu (Minggu, 29/8).

Pemilik nama lengkap Sang Hee Hong ini adalah pemandu kami selama berada di Pulau Jeju.

Sejak di dalam bus, Sunny bercerita kepada saya tentang sebuah peristiwa di masa lalu di Pulau Jeju. Peristiwa berdarah yang sangat kejam. Rasanya tak ada satu keluargapun di Pulau Jeju yang luput atau tidak memiliki kaitan dengan peristiwa itu.

Sebegitu pedih, hingga rasa-rasanya untuk beberapa dekade yang lalu semua warga Jeju sepakat melupakan, dan mengubur cerita ini ke titik terjauh yang ada dalam memori kolektif mereka.

“Untuk waktu yang cukup lama tidak ada kisah ini di buku-buku sejarah yang diajarkan di sekolah,” sambung Sunny. Ia lahir dan besar di Pulau Jeju.

Ada yang menyebut peristiwa itu sebagai pemberontakan (uprising) merujuk pada serangan yang dilakukan kelompok kiri pada belasan pos polisi di Jeju bersamaan dengan demontrasi mengenang penjajahan Jepang atas Korea pada tanggal 3 April 1948.

Mereka mengincar anggota kepolisian yang pernah menjadi kaki tangan Jepang. Sekitar 30 polisi tewas dalam kejadian itu.

Kelompok kiri dimaksud dimotori Partai Pekerja Korea Selatan (SKLP) yang merupakan hasil merger Partai Komunis Korea, Partai Baru Rakyat Korea, serta salah satu faksi di tubuh Partai Rakyat Korea.

Kelompok ini juga menolak rencana pemilihan umum yang akan diselenggarakan Pemerintahan Militer AS di Korea Selatan. Menurut mereka, pemilihan umum itu hanya akan melanggengkan pemisahan Semenanjung Korea.

Mereka menginginkan pemilihan umum di selatan Korea digelar bersama dengan pemilu di wilayah utara Korea.

Sementara bagi kelompok kiri, dan warga Jeju yang ikut “dibersihkan” setelah kejadian tanggal 3 April itu, peristiwa ini adalah pembantaian (massacre).

Pemerintahan militer Amerika Serikat yang dipimpin Letjen John R. Hodge dan presiden pertama Korea Selatan Syngman Rhee memanfaatkan penyerangan belasan pos polisi di tanggal 3 April sebagai alasan untuk menggulung kelompok kiri yang dinilai pro Korea Utara.

Aktivis SKLP serta anggota masyarakat yang dinilai bersimpati pada partai itu diburu. Tak ada tempat persembunyian yang aman dari kejaran pasukan pemburu Hodge dan Rhee. Hingga November 1954, diperkirakan 30 ribu orang tewas dalam “pembersihan” di seluruh Pulau Jeju.

***

Di salah satu ruangan di dalam museum sebuah monumen diletakkan di atas altar. Berbentuk balok dari batu cor dalam ukuran besar, monumen itu diberi nama Monumen Tanpa Nama.

Nama ini rasanya sengaja dipilih untuk merefleksikan perasaan warga Jeju pada sejarah kelam di pulau bulan madu itu. Di satu sisi ia adalah pemberontakan, di sisi lain ia adalah pembantaian atas pihak-pihak yang melakukan perlawanan.

“Pulau Jeju yang terisolasi adalah penjara besar dan ladang pembantaian,” begitu tertulis pada sebuah dinding di museum.

Beberapa ruangan memperlihatkan gambaran situs-situs pembantaian atas warga Jeju yang dicap sebagai simpatisan kelompok kiri. Misalnya, diorama yang menggambarkan pembantaian di Gua Darangshi. Gua ini, bersama tulang belulang belasan korban di dalamnya, ditemukan 45 tahun setelah pembantaian.

Salah satu ruangan memamerkan relief di dinding bagian atas yang menggambarkan penyiksaan yang dialami korban.

Di masa lalu, upaya mengenang peristiwa 3 April pernah dilakukan seorang penulis Hyun Kiyoung. Pada tahun 1978 dia menulis sebuah novel berjudul Sun-i Samchon, atau Paman Suni. Tak lama setelah novel itu terbit, Hyun ditangkap dan sempat mengalami penyiksaan selama tiga hari sebelum akhirnya dilepaskan.

Sikap pemerintah Korea Selatan terhadap peristiwa 3 April mulai berubah di era Presiden Kim Daejung. Pada tahun 2000, Presiden Kim membentuk sebuah komite yang bertugas khusus mengusut pembantaian ini. Di tahun 2003, pengganti Kim, Presiden Roh Moohyun menyampaikan permintaan maaf kepada rakyat Jeju yang menjadi korban pembantaian.

Di bulan Maret 2008 diresmikanlah museum ini yang diberi nama “Jeju April 3 Peace Memorial Hall”. Namun setahun kemudian, museum dan cerita tentang kejadian 3 April itu kembali “dilupakan” seiring dengan kemenangan partai konservatif Saenuri dalam pemilihan presiden. Keadaan ini bertahan hingga Presiden Lee Myungbak digantikan Presiden Park Geunhye juga dari Partai Saenuri.

Museum 3 April kembali populer sekitar dua tahun lalu, setelah Moon Jaein dari Partai Demokrat memenangkan pemilihan presiden. Di era Roh Moohyun, Moon Jaein pernah menjabat sebagai Kepala Sekretaris Presiden. Dengan demikian, wajar dan dapat dipahami apabila Predien Moon memiliki pandangan yang kurang lebih sama dengan penerusnya dalam sejumlah hal, termasuk dalam menempatkan kejadian 3 April 1948 dalam lanskap sejarah Korea Selatan.

Pemerintah kini tengah melanjutkan proses pencarian jasad atau kerangka korban pembantaian. Tulang belulang korban pembantaian juga banyak ditemukan di dekat Bandara Jeju, membuat proses perluasan bandara sedikit banyak menemui kendala.

Terlepas dari suhu panas yang seakan menusuk hingga ke dalam tulang, perlu penulis sampaikan Pulau Jeju tetaplah pulau yang indah, dan sangat berarti untuk dikunjungi. Masyarakat Pulau Jeju membuktikan bahwa perdamaian dengan masa lalu, sekelam apapun itu, adalah jalan terbaik dalam membangun harapan dan impian. Mereka membuktikan, kini Jeju menjadi salah satu destinasi kelas dunia. [***]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s