Di Malaysia, Presiden SBY Dibandingkan dengan Mahathir Mohamad, Lee Kuan Yew dan Ali Sadikin

Masih ada kesempatan bagi Indonesia untuk menjadi negara yang kuat secara ekonomi yang dapat melindungi dan menyejahterakan warga negara. Dengan cara yang tepat, butuh waktu kurang dari 15 tahun untuk mewujudkan hal itu.

Demikian disampaikan ekonom senior DR. Rizal Ramli ketika berbicara sebagai keynote speaker pada dialog nasionalisme yang digelar Persatuan Pelajar Indonesia se-Malaysia di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur, Kamis siang (14/7).

Tentu ada syarat yang harus dilakukan, yakni mengubah karakter kepemimpinan nasional. Kepemimpinan, sebut mantan Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan itu, adalah tiga hal pertama yang dibutuhkan untuk membangun sebuah negara. Setelah menemukan pemimpin dengan karakter yang tepat, barulah sistem bisa dibangun untuk menggerakkan roda ekonomi dan memantapkan pembangunan.

“Sering kali dikatakan bahwa sistem adalah yang lebih penting dalam pembangunan negara. Tapi di negara berkembang seperti Indonesia, yang jauh lebih dibutuhkan adalah kepemimpinan yang berkarakter. Kita membutuhkan pemimpin yang berkarakter yang bisa menggerakkan semua potensi bangsa dan mengubah sistem. Prasyarat leadership tiga kali lebih penting di negara berkembang daripada di negara maju,” jelas Rizal.

Dialog tersebut digelar seusai pelantikan pengurus PPIM baru. Hadir dalam kesempatan itu Atase Pendidikan KBRI Prof. Dr. Rusdi, dan Ketua Umum PPI Zulham Effendi serta sejumlah pengurus PPIM dari beberapa negara bagian di Malaysia.

“Di negara maju yang memiliki sistem yang mapan, siapapun yang jadi presiden atau kepala daerah tidak ada masalah. Sementara di negara berkembang, di mana sistem belum mapan, akhirnya maju mundur negara tergantung siapa yang jadi pemimpin,” sambungnya.

Pernyataan Rizal Ramli ini disampaikan untuk menilai kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono yang berkuasa di Indonesia sejak 2004. Selama masa itu banyak kalangan yang menilai kepemimpinan SBY tidak efektif untuk membawa Indonesia keluar dari berbagai persoalan.

Rizal Ramli menyebut Mahathir Mohamad, Lee Kuan Yew, dan Ali Sadikin sebagai contoh pemimpin berkarakter yang mampu mengubah masyarakat berkembang.

“Malaysia besar dan maju dengan kecepatan tinggi karena ada Mahathir Mohamad. Kalau bukan Mahathir yang berkuasa, saya kira Malaysia tidak akan mencapai keadaan seperti sekarang, dikenal dunia sebagai salah satu negara terpandang di Asia,” katanya.

Mahathir berkuasa di Malaysia pada tahun 1981 hingga 2003. Dalam periode itu, ia dan pemerintahan yang dipimpinnya telah mencatat begitu banyak kemajuan yang dicapai Malaysia. Begitu juga dengan Lee Kuan Yew yang berkuasa di Singapura sejak 1959 hingga 1988.

“Tanpa Lee Kuan Yew, Singapura hanya akan dikenal sebagai pelabuhan becek,” sambung Rizal.

Adapun Ali Sadikin yang biasa disapa Bang Ali adalah gubernur DKI Jakarta di masa transisi dari 1966 1977. Sebelumnya ia pernah menjadi Menteri Perhubungan di era Bung Karno dari 1963 hingga 1966.

Di zaman Bang Ali, Jakarta tumbuh sebagai kota yang indah. Antara lain, bangunan tertata rapi dan penghijauan dimana-mana. Selain itu Bang Ali juga melaksanakan pembangunan Taman Ismail Marzuki (TIM) dan mendorong pendirian Lembaga Bantuan Hukum (LBH).

Advertisements

1 thought on “Di Malaysia, Presiden SBY Dibandingkan dengan Mahathir Mohamad, Lee Kuan Yew dan Ali Sadikin”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s