Surat SBY Pengaruhi Keputusan Hosni Mubarak untuk Mundur?

Presiden SBY mengirimkan surat kepada Hosni Mubarak. Surat itu dititipkan kepada Satgas Evakuasi WNI dari Mesir yang dipimpin mantan Menlu Hassan Wirajuda.

Staf khusus Presiden bidang hubungan internasional Teuku Faizasyah yang dihubungi Minggu pagi (13/2) memastikan, bahwa surat itu telah diterima pemerintah Mesir beberapa hari sebelum Mubarak mengundurkan diri. Untuk detailnya, mantan Jurubicara Kementerian Luar Negeri ini meminta, agar menunggu penjelasan Hassan Wirajuda sekembalinya dari Mesir. Teuku Faizasyah menolak menjelaskan secara rinci apa saja yang disampaikan Presiden SBY dalam surat itu.

“Tidak bisa kita jelaskan, karena kita yang menulis surat. Kecuali pihak Mesir yang menjelaskan,” katanya kepada Rakyat Merdeka Online.

Perihal surat untuk Hosni Mubarak ini disampaikan SBY dalam keterangan pers di Kantor Presiden hari Senin lalu (7/2). SBY berharap surat itu dapat mendorong penyelesaian krisis politik Mesir dengan damai, bijak, dan tepat. Di dalam suratnya, SBY menceritakan pengalaman Indonesia ketika menghadapi krisis yang kurang lebih sama di tahun 1998. Indonesia, menurut hemat SBY, berhasil melakukan transisi ke arah demokrasi serta mengubah tata pemerintahan.

“Mudah-mudahan niat baik Indonesia mendapatkan respons yang positif dari pemerintah dan pimpinan Mesir,” ujar SBY lagi seperti dikutip situs resmi SBY.

Apakah keputusan Hosni Mubarak mengundurkan diri Jumat petang (11/2) juga, antara lain, karena terinspirasi oleh pengalaman Indonesia di tahun 1998 seperti yang disampaikan SBY dalam suratnya?

Hal ini belum bisa dipastikan.

Dari pengalaman di banyak negara pasca Perang Dunia II, dapat disimpulkan bahwa mungkin hanya Soeharto-lah mantan diktator yang berkuasa begitu lama, yang setelah jatuh dari kekuasaannya tidak melarikan diri ke luar negeri, juga tidak diadili. Biasanya, diktator yang tumbang kalau tidak melarikan diri ke luar negeri, pasti diadili.

Soeharto memutuskan mengundurkan diri pada 21 Mei 1998 menyusul gelombang demonstrasi yang begitu besar di seluruh Indonesia. Soeharto juga gagal meyakinkan elit politik bahwa dia masih memiliki kemampuan untuk memimpin negeri. Soeharto menyerahkan kekuasaannya kepada Wakil Presiden BJ Habibie.

Seperti Soeharto, Hosni Mubarak awalnya mendelegasikan kekuasaan kepada Omar Suleiman yang baru diangkatnya menjadi Wakil Presiden. Tapi kemudian, menyusul penolakan yang semakin meluas, Hosni Mubarak mundur dan menyerahkan kekuasaan sepenuhnya kepada Dewan Tertinggi Militer.

Juga seperti Soeharto, Hosni Mubarak tidak meninggalkan negaranya. Keputusan Hosni Mubarak bertahan di Mesir disampaikan Hossam Badrwy yang baru ditunjuk sebagai Sekretaris Jenderal Partai Nasional Demokrat (PND) beberapa saat sebelum pengunduran diri Mubarak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s