SBY yang Pertama Kali Abaikan Tokoh Agama

Hari ini Presiden SBY bermaksud mengundang tokoh-tokoh agama yang belakangan secara terbuka mengkritik jalannya roda pemerintahan.

Tetapi, pertemuan antara SBY dan tokoh-tokoh agama itu kelihatannya tidak akan optimal. Sejumlah tokoh kunci ternyata telah memiliki kegiatan lain. Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Mgr. Martinus Dogma Situmorang, misalnya, sampai tadi malam masih berada di Thailand. Adapun Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin sedang berada di Yogyakarta. Begitu juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif.

Apakah tokoh-tokoh agama memang tidak mau berkomunikasi dengan SBY?

Pasti tidak. Dari perjalanan diskusi demi diskusi yang dilakukan tokoh-tokoh agama tersebut sejak pertengahan tahun lalu, dapat dipastikan bahwa mereka memiliki keinginan kuat untuk bertemu dengan SBY dan menyampaikan keresahan masyarakat secara langsung. Tetapi, justru SBY dan pihak Istana lah yang tidak pernah memberi respon.

Pihak Istana baru bereaksi setelah tokoh-tokoh agama dalam pertemuan kesekian mereka pekan lalu merilis 18 kebohongan lama dan baru pemerintahan SBY.

Dalam pertemuan di Pondok Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur pertengahan November lalu, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI), Pdt. Andreas A. Yewangoe mengatakan bahwa pihaknya pernah mengirimkan surat untuk Presiden SBY. Menurutnya, di dalam surat KWI disampaikan beberapa persoalan penting yang berkembang di tengah masyarakat, yang bila dibiarkan berlarut-larut dikhawatirkan akan merusak elemen penting dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kami sudah mengirimkan surat ke Presiden. Terakhir bulan lalu (Oktober 2010). Tetapi tidak ada jawaban, tidak ada alasan,” ujar Pdt. Andreas A. Yewangoe ketika itu.

Mgr. Martinus Dogma Situmorang yang juga hadir dalam pertemuan itu juga menyampaikan kekhawatiran serupa. Menurut dia dalam sidang tahunan KWI yang dihadiri uskup se-Indonesia disimpulkan bahwa masyarakat resah.

“Kami ini risau. Pemimpin agama risau. Kami mengajak semua pihak melihat bahwa kita masih ada kapital di tengah pemiskinan yang terus terjadi, ketidakadilan dan ketidaktegasan,” demikian Mgr. Situmorang ketika itu.

Selain Pdt. Andreas dan Mgr. Situmorang, pertemuan itu juga dihadiri Salahuddin Wahid yang menjadi tuan rumah, Romo Benny, dan ekonom senior Rizal Ramli yang membahas situasi perekonomian mutakhir.

Gus Solah, dalam sebuah wawancara di stasiun televisi Minggu malam (16/1) mengatakan, bahwa pertemuan dengan SBY kelihatannya tidak akan bermanfaat apa-apa. Dia pernah bertemu SBY dan tidak ada apa-apa setelahnya.

Din Syamsuddin yang berada di Jogjakarta meminta agar kalau pun dilaksanakan, pertemuan dengan SBY itu harus disiarkan secara langsung. Ini penting, agar semua substansi pembicaraan bisa diketahui masyarakat yang menjadi korban dari pemerintahan yang tidak amanah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s